Loading...

2-3 Jam Setelah Disemprot Parakuat, Gulma Langsung Layu

07:07 WIB | Monday, 18-April-2016 | Sarana & Prasarana | Penulis : Kontributor

Gulma bagi petani  menjadi musuh utama dalam produksi tanaman. Nutrisi yang seharusnya diserap tanaman justru dicuri olehnya. Herbisida Parakuat Diklorat menjadi unggulan petani untuk memberantas gulma. Sebenarnya seperti apakah Herbisida jenis parakuat diklorat ini?

 

 

 

"Herbisida ini digunakan dengan cara disemprot dan hanya mampu membasmi gulma yang terkena semprotan saja, terutama bagian yang berhijau daun dan aktif berfotosintesis," ungkap Ketua Aliansi Stewardship Herbisida Terbatas (Alishter), Mulyadi Benteng ketika ditemui Sinar Tani.

 

 

 

Keistimewaannya, dapat membasmi gulma secara cepat, 2-3 jam setelah disemprot gulma sudah layu dan 2-3 hari kemudian mati. Sehingga bermanfaat jika waktu penanaman harus segera dilakukan. 

 

 

 

"Penyerapannya melalui daun sangat cepat sehingga tidak mudah tercuci oleh air hujan. Senyawa ini mempengaruhi sistem fotosintesis khususnya mengubah aliran elektron dalam tumbuhan gulma," ungkapnya.

 

 

 

Di Indonesia, 'paraquat' dijual dengan nama Gramoxone. Sebagai informasi bahwa herbisida berbahan aktif parakuat diklorida terdaftar dan diizinkan pertama kali di Indonesia pada 1973. Jenis herbisida ini telah terdaftar untuk digunakan kepada tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan seperti kelapa sawit.

 

 

 

Zat yang dikandungnya sangat berbahaya apabila terhirup, tertelan atau terserap melalui kulit. Sampai sekarang belum ada penawar terhadap racun paraquat. Oleh karena itu, parakuat diatur dalam peredarannya di Indonesia dengan dikeluarkannya Permentan Nomor 39/2015 dimana setiap pendaftar pestisida (herbisida) jenis parakuat wajib memberikan pelatihan dan hanya petani bersertifikat saja yang bisa menggunakan herbisida jenis ini,

 

 

 

“Tidak semua informasi negatif mengenai parakuat itu benar. Itu sebabnya, parakuat ini sifatnya pestisida terbatas. Harus disadari, semua bahan aktif herbisida itu berbahaya karena berasal dari bahan kimia. Bahaya ini bisa muncul apabila tidak dikelola dan digunakan secara baik” tegas Mulyadi Benteng 

 

 

 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengkategorikan parakuat masuk kelas II (Tingkat Bahaya Sedang) sebagaimana kebanyakan bahan aktif pestisida yang digunakan di dunia. Namun, atas desakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Internasional status tersebut tengah didesak masuk ke tingkat bahaya berat lantaran beberapa contoh kecelakaan kerja terkait penggunaan ceroboh dari bahan kimia ini.Gsh

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162