Loading...

Antisipasi, Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim di Sektor Tanaman Pangan

16:23 WIB | Thursday, 14-August-2014 | Mimbar Penyuluhan | Penulis : Kontributor

Dalam rangka mengantisipasi dampak negatif perubahan iklim global, Pemerintah telah menyusun strategi untuk mengatasi persoalan dan ancaman perubahan iklim, baik mitigasi maupun adaptasi dampak perubahan iklim (DPI).

 

Perubahan iklim global belakangan ini dampaknya sudah semakin nyata, yang di antaranya ditandai dengan meningkatnya suhu udara, naiknya permukaan air laut dan perubahan pola musim hujan dan kemarau yang semakin tidak menentu. Perubahan fenomena alam yang ekstrim ini menambah kompleksitas permasalahan ketahanan pangan global.

 

Implikasi dari permasalahan tersebut adalah bahwa variasi perubahan pasokan dan harga pangan dunia yang semakin besar dan sulit untuk diprediksi. Ditambah lagi dengan adanya kenyataan perilaku negara-negara pemasok bahan pangan dunia yang cenderung melakukan pengurangan ekspor pangannya manakala negara tersebut mengalami dampak negatif dari perubahan iklim global di negara masing-masing.

 

Pemerintah telah menempatkan perubahan iklim global yang ekstrim sebagai suatu ancaman terhadap pembangunan pertanian dan ketahanan pangan nasional. Dalam rangka mengantisipasi dampak negatif perubahan iklim global, pemerintah telah menyusun strategi untuk mengatasi persoalan dan ancaman perubahan iklim, baik mitigasi maupun adaptasi, yang ditetapkan melalui Inpres No. 5 Tahun 2011 tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional dalam Menghadapi Kondisi Iklim Esktrim.

 

Dalam hal ini, intervensi kebijakan pada pendanaan, teknologi, kelembagaan dan sosial ekonomi menjadi sangat penting.

 

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian, telah mengidentifikasi dampak negatif perubahan ekstrim iklim global di antaranya adalah: (1) terjadinya degradasi sumberdaya lahan dan air, (2) terjadinya kerusakan pada infrastrukur pertanian/irigasi, (3) timbulnya bencana banjir dan kekeringan dan (4) meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Dampak perubahan iklim global tersebut berpotensi mengancam penurunan produktivitas, produksi, mutu hasil pertanian, serta menurunnya efesiensi dan efektifitas distribusi pangan, yang berujung kepada rentannya ketahanan pangan di suatu wilayah dan pada akhirnya dapat berdampak negatif terhadap kehidupan sosial dan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.

 

Dalam rangka mengantisipasi dampak perubahan iklim tersebut, kebijakan pembangunan ketahanan pangan diarahkan untuk:

 

  1. Meningkatkan produksi pertanian secara berkelanjutan;
  2. Mengembangkan perekonomian pedesaan;
  3. Stabilitas harga pangan;
  4. Meningkatkan kemampuan daerah dalam pelaksanaan jaring pengaman sosial;
  5. Mengembangkan kemampuan early warning system;
  6. Pengembangan jaringan kerjasama regional/internasional;

 

Bila teknologi yang mampu menghasilkan produksi tinggi dapat ditemukan dan direplikasi dengan baik di lapangan dengan memperhatikan perubahan iklim maka ketersediaan produksi pangan akan menjadi aman.

 

Perubahan iklim yang dapat menyebabkan penurunan baku lahan menjadi sangat perlu diantisipasi.

 

Kebijakan Pengamanan Produksi Pangan

 

  • Membangun sistem inovasi dan replikasi (adopsi) teknologi yang tepat dan efisien untuk meningkatkan produktivitas dan mutu yang lebih baik.
  • Membangun kepastian kebutuhan lahan bagi terciptanya swasembada.
  • Menciptakan partisipasi aktif petani dalam menangani dampak perubahan iklim.

 

Adaptasi terhadap perubahan iklim adalah salah satu cara penyesuaian yang dilakukan dengan spontan ataupun terencana yang bertujuan memberikan reaksi terhadap perubahan iklim.

 

Upaya Adaptasi

 

Mengembangkan teknik budidaya yang sesuai (untuk mengatasi banjir dan kekeringan) agar tanaman sehat dan tahan organisme pengganggu tanaman (OPT); Implementasi dan pengembangan kalender tanam: petani dapat memutuskan pola dan waktu tanamnya sesuai kondisi iklim/spesifik lokasi; Perbaikan dan penyesuaian infrastruktur/jaringan irigasi, implementasi gerakan hemat air; Penggunaan dan pengembangan varietas-varietas padi lokal yang tahan kering/banjir/salinitas; Mendorong budidaya ramah lingkungan (pengendalian OPT: mekanik, pestisida nabati, agens hayati, mulsa organik, pupuk organik, pestisida secara bijaksana, optimalisasi pemanfaatan rawa lebak.

 

Sedangkan untuk mitigasi adalah usaha menekan penyebab dari perubahan iklim. Contohnya adalah gas rumah kaca dan lainnya, agar resiko terjadinya perubahan iklim dapat dikurangi atau dicegah.

 

Upaya-upaya mitigasi yang perlu dilakukan antara lain Inventarisasi daerah rawan banjir/kering; Ketersediaan benih, alsintan dan saprodi lain; Penyebaran informasi prakiraan iklim melalui Pemda dan instansi terkait; Pengawalan dan monitoring intensif; Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait menyediakan informasi dan kajian pengembangan teknologi pemanfaatan informasi iklim, pengelolaan resiko iklim, pengaruh DPI terhadap OPT; Mengembangkan sekolah lapangan iklim (SLI).

 

Strategi Penyuluhan Pertanian

 

  • Mengintensifkan kerjasama dengan eselon I lingkup pertanian seperti Ditjen Tanaman Pangan, Litbang dan instansi terkait seperti BMG, BPS dan lain-lain dalam rangka antisipasi perubahan iklim dan penguatan ketahanan pangan.
  • Mengintensifkan peranan kelembagaan penyuluhan di tingkat pusat dan provinsi, kabupaten/kota untuk melakukan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi program penyelenggaraan penyuluhan pertanian dengan program ketahanan pangan.
  • Menyusun program konkrit penyelenggaraan penyuluhan pertanian penanganan kekeringan dan penguatan ketahanan pangan.
  • Membentuk kelompok kerja penguatan ketahanan pangan dan antisipasi perubahan iklim.
  • Bekerjasama dengan eselon I terkait untuk mensosialisasikan dampak fenomena iklim global melalui penyebarluasan bahan informasi tentang antisipasi bencana banjir, kekeringan dan rawan pangan dalam bentuk leaflet, brosur maupun poster.
  • Membuat iklan tayangan masyarakat tentang dampak fenomena iklim global.
  • Memasukkan isu dampak fenomena iklim global ke dalam sistem informasi internet.
  • Melakukan monitoring secara intensif untuk daerah-daerah khususnya sentra produksi yang rawan banjir, kekeringan dan rawan pangan.

 

Langkah Operasional Penyuluhan

 

  • Memerankan kelembagaan penyuluhan secara teknis dalam mengantisipasi perubahan iklim:
    • Memanfaatkan informasi dan prakiraan iklim untuk memberikan peringatan dini dan rekomendasi pada pelaku utama dan masyarakat.
    • Mempelajari sifat-sifat iklim dan memanfaatkan hasilnya untuk merekomendasikan penyesuaian pola tanam kepada pelaku utama agar terhindar dari puso.
    • Memetakan daerah rawan bencana alam banjir dan kekeringan dalam rangka merekomendasikan kepada pelaku utama untuk penyusunan pola tanam dan memilih jenis tanaman yang sesuai.
    • Menganjurkan kepada pelaku utama untuk melakukan sistem pertanian konservasi seperti terasering, menanam tanaman penutup tanah, melakukan pergiliran tanaman dan penghijauan DAS (Daerah Aliran Sungai).
  • Memerankan kelembagaan penyuluhan secara sosial dan kelembagaan dalam mengantisipasi perubahan iklim.
  • Meningkatkan kesiapan dan peran serta masyarakat melalui kelembagaan pelaku utama dalam upaya antisipatif bencana alam banjir sehingga mereka beranggapan bahwa upaya itu adalah untuk kepentingan mereka dan dilaksanakan secara bersama-sama dalam koordinasi yang baik dengan pihak lain.
  • Memanfaatkan kemampuan dan peran serta kelembagaan pelaku utama, instansi pemerintah maupun swasta dalam pemakaian teknologi perkreditan persediaan saran produksi, penyediaan peralatan dan mesin, pertanian serta pengolahan dan pemasaran hasil.
  • Menganjurkan kepada kelembagaan pelaku utama untuk kembali membangun lumbung-lumbung pangan sebagai upaya ketersediaan pangan di wilayah yang rawan bencana alam banjir dan kekeringan.
  • Membentuk posko kekeringan mulai dari provinsi, kab/kota, BPP dan Posluhtan.

 

Tugas Pelaksanaan Penyuluhan

 

  • Mencari informasi tentang dampak fenomena iklim faktor klimatologis seperti informasi tentang kapan awal musim hujan dan berapa bulan lamanya? kapan awal musim kemarau dan berapa bulan lamanya? dan berapa curah hujan tiap bulan dalam satu tahun?
  • Melakukan pemetaan dan inventarisasi faktor hidrologis di wilayah kerjanya tentang adakah lokasi banjir, kekeringan? berapa rasio Qmaks/Qmin? adakah kerusakan jaringan irigasi dan/atau drainase? bagaimana kondisi pasokan air irigasi?
  • Melakukan pemetaan terhadap faktor agronomis di wilayah kerjanya tentang bagaimana pola tanam saat ini? adakah pengawalan pembagian air dan pola tanamnya?
  • Melakukan pemetaan dan inventarisasi terhadap wilayah rawan pangan di wilayah kerjanya.
  • Melakukan pembinaan/bimbingan teknis dan penyuluhan mengenai teknologi produksi yang sesuai dengan kondisi iklim daerah/lokasi, misalnya dalam gerakan percepatan tanam dan pengolahan tanah dengan didahului penyusunan rencana tata tanam yang berbasis prakiraan/ramalan ketersediaan air dengan cara penyediaan air, mobilisasi traktor.
  • Pemilihan tanaman yang sesuai dengan pola hujan, misal: menggunakan tanaman atau varietas yang tahan genangan, tahan kering, umur pendek dan persemaian kering; kombinasi tanaman, sehingga kalau sebagian tanaman mengalami puso, yang lainnya tetap bertahan dan memberikan hasil.
  • Perbaikan dan pemeliharaan jaringan pengairan di tingkat usaha tani.
  • Mobilisasi pompanisasi dengan memanfaatkan air tanah, air permukaan, air bendungan atau check dam dan air daur ulang dari saluran pembuangan.
  • Menggerakkan petani beserta kelompok tani untuk segera membuat embung mulai dari hulu hingga hilir, yang dapat dimanfaatkan untuk: mengurangi dan atau meniadakan aliran permukaan (run off) meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga meningkatkan cadangan air tanah, kandungan air tanah di sekitar embung tetap tinggi dan untuk daerah dekat pantai dapat digunakan untuk menekan intrusi air laut. mencegah erosi menampung sedimen dan sedimen tersebut mudah diangkut karena ukuran embung yang relatif kecil. Sebagian air embung dapat digunakan sebagai cadangan pada musim kemarau.
  • Membantu tersedianya bantuan saprodi kepada petani yang telah diinventarisir.
  • Mengaktifkan P3A di dalam kelembagaan (pembinaan irigasi).
  • Bersama PHP, POPT memonitor dan melakukan pengamatan secara intensif dan terkoordinasi dalam rangka memberikan peringatan dini.
  • Mengadakan temu lapang.

 

Tugas-tugas itu semua dilaksanakan mengikuti kondisi setempat, untuk selanjutnya menyampaikan laporan hasil kegiatan tersebut. Yulia T S

 

Sumber: dari berbagai tulisan

 

Sumber Gambar: www.google.co.id/search

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162