Loading...

Ayo Membuat Pupuk Organik

11:26 WIB | Tuesday, 16-September-2014 | Tips & Santai, Non Komoditi | Penulis : Kontributor

Pupuk organik sudah lama dikenal petani, bahkan sebelum revolusi hijau. Setelah revolusi hijau, kebanyakan petani lebih suka menggunakan pupuk kimia. Bukan hanya praktis, tapi jumlahnya jauh lebih sedikit dari pupuk organik, harganya pun relatif murah dan mudah diperoleh.

 

Penggunaan pupuk kimia ternyata berdampak pada kondisi lahan pertanian. Hasil penelitian mengindikasikan sebagian besar lahan pertanian intensif menurun produktivitasnya dan telah mengalami degradasi lahan. Kandungan karbon organik dalam tanah menjadi rendah hanya 2%. Padahal untuk memperoleh produktivitas optimal dibutuhkan karbon organik sekitar 2,5%.

 

Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan.

 

Cara Pembuatan

 

Pupuk organik dapat dibuat dengan beberapa cara. Mulai yang sederhana sampai yang cukup rumit. Cara yang sederhana, misalnya dengan membiarkan limbah pertanian (sisa jerami, rerumputan, serasah daun) dan limbah peternakan (sisa hijauan, kotoran cair dan padat) pada suatu tempat sampai melapuk.

 

Cara lain dengan menumpuk jerami padi, kotoran ternak, dedak, kapur pertanian dan serbuk dekomposer secara berselang-seling. Bahan-bahan tersebut dimasukkan ke dalam cetakan berukuran yang dibuat dari pagar bambu yang dapat dibongkar pasang. Setiap bahan dipadatkan dengan cara diinjak-injak. Setiap lapisan dilembabkan dengan air secukupnya.

 

Kemudian cetakan dilepas dan tumpukan ditutup rapat dengan menggunakan plastik warna hitam. Perlakuan ini untuk memperoleh suhu 70°C dan tidak ada udara yang masuk ke dalam tumpukan. Sebab, mikroba pelapuknya aktif dalam kondisi tersebut (sistem anaerob). Setiap 10 hari plastik dibuka dan tumpukan di balik dengan memindahkan bagian teratas menjadi lapisan.

 

Setelah 30 hari kompos dapat digunakan. Kompos sistem aerob dibuat tanpa harus menggunakan cetakan dan tutup plastik hitam seperti sistem anaerob. Prosesnya bisa lebih cepat yaitu 7-10 hari. Meski tidak perlu ditutup dengan plastik, proses pembuatannya harus di bawah naungan agar tidak terkena hujan dan matahari secara langsung.

 

Bahan yang diperlukan adalah kotoran ternak (sapi, domba, kerbau), jerami, arang sekam, dedak, kapur pertanian, molase (tetes tebu), dekomposer (mikroba pelapuk) dan air. Kotoran dihamparkan dengan ketebalan kurang lebih 20-25 cm kemudian bahan-bahan lain dicampurkan secara berselang-seling.

 

Selanjutnya diaduk agar tercampur merata, kemudian ditutup dengan karung goni sehingga tercapai suhu 45°C. Setiap 3 hari diukur suhunya, apabila kurang dari 45°C tumpukan ditinggikan. Jika lebih dilakukan pengadukan.

 

Harus diperhatikan suhu tumpukan tidak boleh lebih dari 50°C karena akan menon-aktifkan mikroba pelapuknya. Tanda kompos yang sudah jadi apabila tidak berbau dan sudah berubah warnanya. Jhon D/BPTP KALBAR

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162