Loading...

Barantan Sediakan Aplikasi Online Permudah Ekspor Sarang Walet

15:44 WIB | Monday, 05-March-2018 | Karantina, Non Komoditi | Penulis : Tiara Dianing Tyas

 

 

Sarang burung walet Indonesia kini bisa diekspor langsung ke Cina. Namun, tidak membuat ekspor dengan mudah melenggang ke Negeri Tirai Bambu, karena persyaratannya cukup ketat. Guna membantu kalangan pelaku usaha sarang burung walet, Badan Karantina Pertanian (Barantan) telah menyiapkan infrastruktur, termasuk aplikasi online untuk mempermudah ekspor.

 

“Kini permohonan penetapan Instalasi Karantina Hewan (IKH) dan registrasi rumah walet sudah  dapat dilakukan secara online melalui aplikasi Aplikasi Penetapan Instalasi Karantina Hewan (APIKH),” kata Kepala Badan Karantina Pertanian, Banun Harpini, beberapa waktu lalu saat Musyawarah Nasional (Munas) 2018 Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI).

 

Banun mengakui, untuk ekspor sarang walet harus, pelaku usaha wajib memperhatikan tiga syarat utama. Yakni, ketelusuran (traceability), bersih dengan kandungan nitrit kurang dari 30 ppm dan telah diproses pemanasan 70ºC selama 3,5 detik.

 

Menurutnya, untuk dapat mengekspor sarang burung walet ke Tiongkok, tempat pemrosesan harus ditetapkan sebagai IKH dan mendapatkan nomor registrasi. Begitu juga dengan rumah walet yang menjadi sumber bahan baku sarang walet harus teregistrasi pula.  

 

Untuk itu, Barantan menyiapkan laboratorium terakreditasi di tiga unit pelaksana teknis (UPT) karantina pertanian,  masing-masing Surabaya, Medan dan Soekarno Hatta. Sebelumnya laboratorium itu hanya di Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian, Jakarta. Di laboratorium tersebut untuk pengujian utama  terhadap virus Avian infulenza (AI), pengujian mikrobiologi, kandungan nitrit, dan cemaran logam berat.

 

Barantan juga bekerjasama dengan IPB melakukan pelatihan bagi petugas karantina penilai IKH. Hal ini untuk peningkatan kompetensi di bidang keamanan pangan, khususnya terkait Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Ke depan  petugas yang dilatih bersertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang setara dengan auditor HACCP, serta penetapan dari Barantan sebagai petugas verifikasi SBW yang kompeten dan profesional.

 

“Kita berharap dapat meningkatkan kualitas tempat pemrosesan dalam penjaminan keamanan pangan dari produk yang dihasilkan,” katanya. Data Barantan, ekspor sarang walet Indonesia, terutama ke Tiongkok menunjukan tren meningkat. Jika tahun 2016 hanya 23 ton dari 7 perusahaan terdaftar, pada tahun 2017 mencapai 52 ton dari 8 perusahaan terdaftar.  Tia

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162