Loading...

Bawang Merah Brebes Dipanen, Siap Banjiri Ibukota di Juni-Agustus

13:01 WIB | Wednesday, 13-June-2018 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Gesha

Dirjen Hortikultura, Suwandi melihat langsung panen bawang merah di Brebes

Mendekati waktu Idul Fitri 2018, Kabupaten Brebes yang terkenal sebagai kantong produksi bawang merah nasional tengah terjadi panen bawang merah. Sebagian besar digunakan untuk umbi, sebagian besar lagi digunakan membanjiri Ibukota hingga Agustus mendatang.

 

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi melihat secara langsung panen melimpah bawang merah yang sedang berlangsung di Desa Padasugih, Brebes, Selasa (12/6). "Hasil panen bawang merah di desa Padasugih Brebes ini sebagian dikeringkan dan akan dijadikan benih lagi, benih dijual ke Majalengka dan daerah lainnya, Kebutuhan benih kurang lebih 1-1,2 ton/ha," ungkapnya.

 

Seperti diketahui, bawang merah (BM) Brebes berkontribusi 21% dari produksi nasional. Dengan luasan tanam di bulan Juni yang mencapai 3.324 ha dan Juli seluas 4.607 ha serta produktivitas 10 ton/ha, hasil produksi Brebes dijamin bisa membanjiri Ibukota hingga Agustus mendatang.

 

"Hasil produksinya Juni 33 ribu ton dan Juli 46 ribu ton, berarti dua bulan Juni-Juli akan memasok rata rata 1.295 ton perhari. Siap memasok wilayah DKI, Jawa dan luar Jawa. Sedangkan kebutuhan BM di DKI sekitar 90-100 ton perhari," ungkapnya.

 

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Kepala Sub Bidang Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes, Sodikin. DI daerahnya, panen raya biasa terjadi di bulan Juni-Agustus setiap tahunnya dengan kisaran jumlah 300-350 ribu ton. Sodikin menyebutkan sentra bawang merah ada di Kecamatan Larangan, Wanasari dan Brebes. Musim pertanaman kali ini lebih bagus dibandingkan sebelumnya. “Alhamdulillah Ramadan dan Idulfitri ini pasokan melimpah dan harga di petani bagus stabil,” jelasnya.

 

Ekspor BM

 

Meskipun sudah dipastikan bisa membanjiri Ibukota, pertanaman bawang merah di Brebes sudah seharusnya masuk kedalam level yang lebih tinggi lagi yaitu tata kelola terintegrasi. "Penanganan hulu-hilir pendekatan Kawasan dengan mendorong ekspor serta meningkatkan kesejahteraan petani ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman," ujar Suwandi.

 

Di hulu, penggunaan benih dari biji harus sudah mulai dilakukan hingga pengenalan proses budidaya ramah lingkungan. Diakui Kepala Sub Bidang Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes, Sodikin. petani BM di Brebes masih menggunakan benih dari umbi sehingga perlu pengenalan benih dari biji yg jauh lebih efisien biaya benih hingga 60% dengan hasil produksi tidak jauh berbeda. "Sampai Desember 2017, kita sudah ujicoba penggunaan benih biji BM. Masih di demplot, belum kita sebarluaskan. Yang sudah dilakukan umbi mini dari benih biji tersebut," tuturnya.

 

Untuk diketahui, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab Brebes bersama Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Kementerian Pertanian sudah melakukan panen umbi mini bawang merah dari benih biji/true shallot seed (TSS). Penggunaan teknologi TSS dapat menghasilkan bawang merah berkualitas baik dan memberikan keuntungan bagi petani disana. TSS juga bisa memutus mata rantai penyakit dan virus bawaan dari umbi yang sangat rentan pada tanaman sebelumnya.

 

Sedangkan pada aspek hilir, industri pengolahan pascapanen juga sudah seharusnya bertumbuh disana. Mengenai teknologi, Kementan sendiri sudah mengembangkan pasta, pengenalan olahan kripik bawang merah, penggunaan teknologi penyimpanan dan sebagian hasil diekspor.

 

Petani champion Bawang Merah Brebes, Juwari mengatakan baru-baru ini di Brebes telah dibangun Badan Usaha Milik Petani (BUMP) dengan nama PT Sinergi Brebes Inovatif. BUMP ini dibangun oleh 41 pemegang saham dari petani. Kini sedang membangun pabrik senilai Rp 2 miliar dan beroperasi bulan Agustus 2018. Jadi untuk bawang merah grade-3 ukuran kecil akan dioleh di pabrik pasta ini.

 

Mengenai kemungkinan ekspor, Suwandi menuturkan pihaknya sedang mempersiapkan ekspor ke Thailand pada bulan Juli-Agustus nanti. "Sebanyak 3000 ton dipersiapkan," tukasnya.

 

Dihubungi terpisah, Divisi Bawang Merah PT Cahaya Mustika Abadi, Benny menuturkan pada saat itu, Indonesia bisa memasukannya karena Thailand sedang tidak panen, sehingga harganya bagus. "Harga kami sangat kompetitif dan bisa bersaing dengan India," terangnya.

 

Untuk tahun 2017, pihaknya sudah mengekspor sebanyak 5.600 ton bawang merah diangkut menggunakan 12 truk kontainer untuk selanjutnya dikirim ke Thailand dan sejumlah negara di Asia Tenggara lainnya."Sementara ini memang permintaan datang dari Thailand, Malaysia, Singapura, dan Timor Leste," tutup Benny. (gsh)

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162