Loading...

BB Pascapanen Awali Model Bioindustri Padi di Karimun, Riau

16:45 WIB | Monday, 02-April-2018 | Olahan Pasar, Non Komoditi | Penulis : Gesha

Persemian Kawasan Bioindustri di Kawasan Perbatasan

 

 

Membangun kemandirian pangan dari pinggiran adalah salah satu program  yang dicanangkan Presiden Jokowi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Balai Besar Pascapanen Pertanian (BB-Pascapanen) mewujudkannya dengan mengawali bioindustri padi di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. 

 

Kepala BB Pascapanen Prof Risfaheri mengungkapkan, bioindustri merupakan cara untuk bisa mewujudkan perbatasan sebagai lumbung pangan di Indonesia. Untuk itu harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilir mulai dari peningkatan produksi tanaman, penanganan pascapanen, pengolahan hingga pemasarannya.

 

“Dipilihnya Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau sebagai lokasi pilot project bioindustri padi ini karena kepulauan tersebut menjadi salah satu wilayah yang ditetapkan sebagai lokasi Pembangunan Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor (LPBE) yang telah ditetapkan Kementerian Pertanian,” kata Risfaheri saat peresmian Model Kawasan Pengembangan Bioindustri Padi oleh Bupati Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, Minggu (1/4),

 

Seperti yang sudah diketahui, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian sebagai penghasil inovasi di bidang pertanian telah menghasilkan berbagai inovasi untuk peningkatan produksi hingga penanganan pascapanen maupun pengolahan hasil produk pertanian.

 

Balitbangtan juga mengenalkan konsep bioindustri berkelanjutan dengan prinsip low external input sustainable agriculture (LEISA), zero waste, ramah lingkungan, dan berdaya saing tinggi, serta mampu meningkatkan nilai tambah yang berlipat, sehingga ketersediaan pangan maupun manfaat ekonomi per satuan luas tanam dapat diperoleh di sentra-sentra produksi pertanian seperti sentra produksi padi.  

 

“Karena itu, kita gandeng Pemda Kabupaten Karimun untuk membangun Model Pengembangan Kawasan Bioindustri Padi di Desa Teluk Radang, Kecamatan Kundur Utara, Kabupaten Karimun," papar Risfaheri. 

 

Implementasi model kawasan bioindustri padi diawali dengan dibangunnya sarana penggilingan padi sistem auto-pneumatic-rice milling unit (AP-RMU) yang teknologinya dikembangkan BB Pascapanen. Penggilingan padi ini juga dilengkapi dengan fasilitas pengeringan dengan menggunakan pemanas sekam yang berasal dari hasil samping penggilingan padi.

 

Dengan kapasitas giling 1,2-1,5 ton per jam, penggilingan padi yang dikembangkan di Kundur diharapkan bisa menghasilkan beras 50 ton/bulan.  Jumlah ini diharapkan bisa mencukupi kebutuhan penduduk Karimun dan sekitarnya. Dengan demikian, mereka tidak harus menunggu kiriman dari daerah lain, apalagi kalau sampai harus impor dari negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia seperti yang selama ini terjadi.  

 

Biosilika dan Asap Cair

 

Inovasi lainnya adalah dengan pengembangan pemanfaatan sekam sisa pembakaran pada unit pengering untuk diproses menjadi produk biosilika dan asap cair.  Biosilika tersebur nantinya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk  mikro pada pertanaman padi yang mampu meningkatkan jumlah anakan, meningkatkan ketegaran batang serta ketahanan terhadap organisme penggangu tanaman.  

 

Sedangkan asap cair yang dihasilkan pada proses pembakaran sekam juga dapat dimanfaatkan sebagai biopestisida ataupun pengawet makanan melalui proses lebih lanjut.  “Dengan adanya pemanfaatan hasil samping sekam menjadi biosilika atau sumber energi pengeringan gabah, diharapkan ada nilai tambah yang bisa diperoleh petani sehingga dapat meningkatan pendapatan maupun kesejahteraannya,” kata Risfaheri. 

 

Pada kesempatan ini juga dilakukan penandatangan Naskah Kesepahaman (MOU) antara Balitbangtan dan Pemda Kabupaten Karimun serta Perjanjian Kerjasama antara BB Pascapanen dengan Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun.  

 

Risfaheri berharap, model Bioindustri ini dapat beroperasi secara berkelanjutan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus meningkatkan nilai tambah pertanaman padi di Karimun. Bahkan Pulau Kundur mampu menghasilkan beras premium yang bisa diekspor ke negara tetangga Singapura maupun Malaysia. Gsh/BB-Pascapanen

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162