Loading...

BB Pascapanen Latih Poktan dan Karangtaruna Bone Olah Cabai-Bawang

19:12 WIB | Friday, 11-May-2018 | Non Komoditi, Olahan Pasar | Penulis : Kontributor

Selama ini, cabai dan bawang hanya jadi bahan baku bumbu masak dalam bentuk segar. Padahal, peluang pasar olahan keduanya sangat terbuka lebar. Karenanya, BB Pascapanen melatih Poktan dan Karangtaruna di Bone untuk mengolahnya.

 

Sekarang ini, Kabupaten Bone semakin dikenal sebagai salah satu sentra cabai dan bawang merah yang cukup diperhitungkan secara nasional. Seluas 172 ha lahan panen di sana mampu menghasilkan 12.246 kuintal. 

 

Umumnya, petani hanya menjual dalam bentuk segar ke tengkulak atau pasar terdekat dengan harga yang tidak stabil. Padahal, kedua bahan baku bumbu masakan tersebut bisa diolah menjadi bumbu olahan yang mampu memberikan nilai dan penghasilan tambahan.

 

Karena itu, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian bekerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Kabupaten Bone, Sulsel melakukan bimbingan teknis pengolahan bawang merah dan cabai merah bagi kelompok tani dan karangtaruna Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan pada tanggal 11 Mei 2018. 

 

Bimtek dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bone dan dihadiri oleh Camat Tanete Riattang Timur, Kepala Puslitbang Perkebunan, Kepala Balai Besar Pengembangan Mektan, Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian dan BPTP Makasar.

 

Bimtek pengolahan bawang dan cabai merah ini diikuti oleh 150 peserta dan dipandu oleh peneliti BB Pascapanen, Ir. Sunarmani, MS yang menyampaikan teori serta praktek pembuatan minyak bawang, minyak cabai dan saos cabai. "Ketiga produk tersebut mudah dibuat dan jika dijual cukup lumayan bagi pemasukan ibu-ibu," ujar Sunarmani. 

 

Sunarmani menambahkan ketiga olahan tersebut juga bisa menjadi siasat untuk menyimpan cabai namun dengan citarasa yang sama seperti saat segar. "Komoditas cabai tidak tahan lama maka ketika panen raya tiba, harga anjlok, untuk menyiasati hal tersebut sebaiknya cabai diolah menjadi berbagai produk yang bisa disimpan dalam waktu lama," Sunarmani menjelaskan.

 

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Kabupaten Bone, Ir. H. Sunardi Nurdin, MM menyambut dengan baik adanya bimtek ini karena sangat bermanfaat bagi masyarakat sebagai penghasil cabai dan bawang merah. "Bimtek semacam ini seharusnya rutin dilakukan agar masyarakat mahir mengolah hasil panennya sehingga perekonomiannya meningkat. Saya sangat mengapresiasi Badan Litbang Pertanian yang sudah mau menerjunkan penelitinya ke daerah kami untuk menularkan ilmunya kepada masyarakat di Kabupaten Bone," tuturnya.

 

Salah seorang peserta, Riska mengatakan bahwa acara ini sangat bermanfaat bagi dirinya karena menjadi tahu membuat olahan bawang dan cabai merah. "Karena pekarangan saya ditanami cabai oleh suami," pungkasnya. (LM/gsh/bbpascapanen)

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162