Loading...

Benih Kangkung Tembus Pasar Asia

11:42 WIB | Friday, 22-December-2017 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Clara Agustin

 

 

Kangkung, selama ini kerap menjadi komoditi yang kurang diperhitungkan. Namun diam-diam, ternyata benih kangkung Indonesia diminati pasar Asia, seperti Thailand dan Jepang.

 

Kamis (21/12), Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian melepas 710 ton benih kangkung milik produsen benih sayuran tropis ‘Cap Panah Merah’ PT East West Seed Indonesia (Ewindo). Ekspor perdana tersebut untuk pasar Thailand, Jepang dan Myanmar. Ekspor dilakukan secara bertahap hingga Maret 2018.

 

Managing Director Ewindo, Glenn Pardede mengatakan, sebanyak 710 ton benih kangkung ini dihasilkan dari 1.400-1.500 petani mitra di lahan seluas 700 ha. “Ini merupakan bentuk dukungan kami untuk memajukan industry perbenihan hortikultura dalam negeri. Selain itu, mampu memajukan kesejahteraan petani,” katanya saat Pelepasan Ekspor Benih Kangkung 710 ton di Purwakarta, Jawa Barat.

 

Glenn menambahkan, ada dua alasan permintaan kangkung dari luar negeri. Pertama, di Thailand sedang terjadi anomali iklim sehingga banyak wilayah di Negeri Gajah Putih itu terkena banjir, sehingga tidak dapat menghasilkan kangkung. Alasan kedua, di Jepang sedang terjadi tren makan kecambah dari kangkung. “Makanya ekspor benih kangkung sekarang adalah terbesar,” tegasnya.

 

Sementara itu Spudnik mengatakan, pemerintah mendorong pola kemitraan untuk menghasilkan benih hortikultura, karena menjadi solusi meningkatkan kesejahteraan petani. Ditambah pola kemitraan ini membuktikan bahwa benih asal petani adalah benih yang berkualitas yang mampu menembus ekspor.  “Dengan bangun kemitraan ini akan ada keberlanjutan. Cita-cita kita sebagai mandiri benih pun akan tercapai dalam waktu dekat,” jelasnya.

 

Dalam membangun pola kemitraan, Direktorat Jenderal Hortikultura (Ditjen Hortikultura) mengembangkan pola terintegrasi yakni membangun petani-petani di daerah seperti petani champion. “Pola terintegrasi yang kami terapkan dinamakan Insklusif Bisnis (IB),” katanya.

 

Dengan pola ini, Spudnik berharap bisa mengangkat petani atau penangkar-penangkar kecil di daerah untuk dapat menghasilkan benih yang berkualitas dan bisa menembus pasar di dalam atau di luar negeri. “Target akhir dari IB ini adalah peningkatakan kesejahteraan petani/penangkar dalam negri. Hal ini sudah diterpkan di Jawa Tengah,” katanya.

 

Spudnik menambahkan, pola kemitraan yang terintegrasi antar perusahaan dan petani merupakan salah satu proses penerapan teknologi inovasi. Petani akan mendapatkan transfer teknologi terbaru secara cepat dan tepat. “Tantangan perubahan iklim serta serangan hama dan penyakit menjadi hal yang ditakuti petani saat ini. Dengan pola kemitraan dapat membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut,” tuturnya. Cla/Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162