Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Benih Unggul Kunci Peremajaan Sawit Rakyat

11:16 WIB | Tuesday, 05-December-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Benih Unggul  Kunci Peremajaan  Sawit Rakyat

 

Pemerintah telah mencanangkan peremajaan kebun sawit, khususnya milik rakyat. Alasan utamanya adalah banyak kebun sawit rakyat yang kini telah berusia uzur alias tua karena sudah lebih dari 25 tahun dan banyak kebun yang terdeteksi menggunakan benih palsu, sehingga produktivitasnya rendah.

 

Padahal di sisi lain minyak sawit (crude palm oil/CPO) merupakan salah satu komo­ditas yang selama ini menjadi pendulang devisa negara. Bahkan Indonesia merupakan produsen CPO nomor satu di dunia. Untuk mempertahankan posisi itu, setidaknya harus ada upaya. Salah satunya dengan merehabilitasi kebun rakyat. 

 

Kegiatan peremajaan kebun kelapa sawit rakyat bakal di­dukung Badan Pengelolaan Da­na Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Penanaman perdananya dilakukan Presiden RI, Joko Widodo pada Senin (27/11) di Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. 

Presiden Jokowi mengatakan, saat ini Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia, tapi banyak kebun sawit yang sudah tua. Karena itu pemerintah berkomitmen meremajakan kebun sawit rakyat.

Indonesia memiliki 11,9 juta ha lahan sawit. sekitar 41% atau 4,5 juta ha merupakan kebun sawit milik rakyat. Dalam pengelolaan terdapat kekurangan, seperti bibit yang tidak bagus dan banyak tanaman yang sudah tua. Kondisi ini menyebabkan produktivitas kebun rakyat rendah.

Pemerintah tahun ini berencana meremajakan kebun sawit rakyat di 6 provinsi seluas 2.800 ha. Provinsi itu yakni Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Bengkulu. Untuk pelaksanaannya, pemerintah sudah menyiapkan verifikasi calon petani dan calon lahan sawit (CPCL) dari tingkat daerah, provinsi, dan pusat. Selanjutnya, CPCL tersebut direkomendasi ke BPDP-KS untuk mendapatkan bantuan Rp 25 juta/ha. 

Sementara itu Direktur Jen­deral Perkebunan, Kementerian Pertanian, Bambang mengatakan, pemerintah akan memanfaatkan benih salur bersertifikat di setiap wilayah atau daerah yang sudah siap untuk peremajaan. Tapi jika daerah tersebut belum tersedia, maka peremajaan dilakukan tahun depan.

“Tahun ini sudah disiapkan benih untuk peremajaan sebanyak 35 ribu ha. Dari target tersebut telah tersedia bibit sawit sebanyak 20.780 ha. Sehingga, kesiapan bibit sawit yang diperlukan untuk replanting tahun 2017 sudah lebih dari cukup,” katanya.

Benih/bibitnya salur tersebut bisa dari perusahaan inti, balai benih dan petani penangkar benih. Untuk penangkar yang ada di sejumlah daerah sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan inti (yang juga menjual benih/kecambah sawit). Bahkan guna menjaga agar tidak ada pemalsuan benih, penangkar harus mendapatkan sertifikat dari balai benih. “Jadi bibit sawit yang diproduksi penangkar juga berkualitas dan sudah tersertifikasi,” ujar Bambang. 

 

Direktur Perbenihan Perke­bunan Ditjen Perkebunan Ke­mentan, Muhammad Anas meya­kinkan, benih untuk program peremajaan sawit tahun 2017 cukup tersedia. Baik dari peru­sahaan sumber benih maupun sumber benih yang dikembangkan masyarakat dalam bentuk wa­ralaba. Rata-rata kebutuhan benih untuk peremajaan sawit sekitar 130-140 batang/ha. 

Sementara itu ungkap Anas, potensi produksi benih sawit dari perusahaan sumber benih pada 2017 sebanyak 240.500.000 butir kecambah. Dari potensi itu, sebanyak 15 perusahaan sumber benih ini berencana memproduksi sebanyak 117,6 juta butir.

Di antara perusahaan itu, PT. PPKS Medan dengan potensi produksi 50 juta butir, berencana memproduksi sebanyak 20 juta butir. Kemudian, PT. Socfin Indonesia dengan potensi produksi sebanyak 46 juta butir, berencana memproduksi 22,5 juta butir. 

Sedangkan potensi ketersediaan penyediaan benih kelapa sawit siap tanam dari tahun 2017-2021 dari PPKS dan pembibitan sendiri/penangkar (waralaba) pada tahun 2017 sebanyak 3.465.200 batang. Tahun 2018 meningkat menjadi 3.597.200 batang dan tahun 2019 sebesar 3.670.209 batang. “Dari 14 provinsi penyedia benih sawit tahun 2017-2021 totalnya mencapai 18.293.000 batang,” ujar Anas.

Diantara provinsi penyedian benih siap tanam itu adalah Provinsi Aceh dengan pelaksana waralaba/produsen benih, Pok­tan Bina Jasa Sawit, PT Karya Mandiri, dan CV Deka Jaya Prima. Sedangkan di Sumut, pelaksana waralaba/produsen benih di antaranya CV Melyka, PPKS, CV Dharma Nusantara, CV Risana Jaya Lestari, KPT Sahabat Sejati, dan CV Putra Perkasa. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162