Loading...

Budidaya Ikan, Kejar Target Produksi, Cetak Benih Digenjot

15:32 WIB | Friday, 18-November-2016 | Nusantara | Penulis : Indarto

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menggenjot produksi benih ikan guna mengejar target produksi budidaya perikanan. Dari target sebanyak 100 juta ekor benih sepanjang tahun 2016, Ditjen Perikanan Budidaya KKP sudah mencetak sebanyak 153,6 juta ekor. Artinya sudah melampaui target.

 

Dari jumlah tersebut, sekitar 135 juta ekor diberikan ke Pokdakan (Kelompok Pembudidaya Ikan). Sedangkan sebanyak 17,6 juta untuk restocking. Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengatakan, pemerintah menargetkan produksi perikanan budidaya sebanyak 16 juta ton pada tahun 2016. Dari target tersebut, sampai semester pertama tahun 2016 sudah tercapai sebanyak tujuh juta ton.

 

“Kami optimis target produksi perikanan budidaya tahun 2016 akan tercapai berkat keberhasilan dukungan pencetakan benih dan terealisasinya sejumlah program prioritas yang dilakukan Ditjen Perikanan Budidaya,” katanya. Slamet mengakui, target produksi perikanan tahun 2016 memang naik dibanding tahun sebelumnya yang hanya 15,7 juta ton.

 

Slamet mengatakan, sektor perikanan budidaya sepanjang tahun 2016 masih cukup bagus dan ada peningkatan produksi di beberapa sentra perikanan budidaya. Bahkan Ditjen Perikanan Budidaya terus mendorong peningkatan produksi ikan air tawar seperti gurame, nila, lele, rumput laut, dan ikan air payau (seperti udang) yang banyak konsumennya.

 

Bukan hanya itu, pihaknya juga medorong kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) di sejumlah daerah untuk membudidaya kerang (kerang darah dan kerang hijau). “Kita sudah kembangkan budidaya kekerangan yang tak perlu pakan di kawasan Medan, Tanjung Jabung, Cirebon, Brebes, dan Pandeglang,” kata Slamet.

 

Hasil UPT

 

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Perbenihan Ditjen Perikanan Budidaya, Sarifin mengatakan, benih yang dicetak tersebut dihasilkan sejumlah unit pelayanan teknis (UPT), UPTD, unit pembenihan rakyat (UPR), dan hatchery skala rumah tangga (HSRT).

 

“Kalau pencetakan benih hanya mengandalkan UPT yang ada di pusat tentu tak akan berjalan. Karena itu, kita juga menggandeng UPR dan HSRT yang tersebar di daerah-daerah. Justru sekitar 70% dari pencetakan benih dihasilkan UPR dan HSRT,” kata Sarifin.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162