Loading...

Budidaya Mina Padi di Sleman

14:17 WIB | Tuesday, 11-October-2016 | Pangan | Penulis : Kontributor

 

 

Budidaya Mina Padi yang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Ditjen Perikanan Budidaya di Dusun Cibuk Kidul, Desa Margoluwih, Kec. Sayegan, Kab. Sleman, Yogyakarta tak hanya diminati masyarakat sekitar. Bahkan, keberhasilan percontohan budidaya Mina Padi yang dilakukan bersama badan pangan internasional (FAO) sejak tahun 2015 tersebut mulai dilirik sejumlah negara tetangga seperti Laos dan Filipina.

 

“Saat kerjasama dengan FAO  luas  budidaya Mina Padi yang dikembangkan hanya 25 ha. Seiring dengan banyaknya minat masyarakat setempat untuk melakukan budidaya MinaPadi, sampai saat ini  luasnya sudah berkembang menjadi 102 ha,” kata Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, di Jakarta, kemarin (11/10).

 

Slamet Soebjakto juga mengatakan, sejumlah stakeholder pertanian dan perikanan negara lain seperti Laos dan Filipina  sangat berminat terhadap budidaya  campuran ini. “Maka untuk menularkan ilmu Mina Padi Indonesia ke negara lain, KKP dan FAO telah melakukan lokakarya dan tinjau lapangan Mina Padi di Jawa Tengah dan Yogyakarta pada September 2016 lalu,” kata Slamet.

 

Menurut Slamet Soabjakto, masyarakat di kawasan Sleman  telah mengembangkan lahan budidaya Mina Padi seluas 52 ha, secara swadaya. Hal ini membuktikan,  kalau percontohan yang dilakukan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Sebab, dengan melakukan budidaya Mina Padi, produksi padi meningkat 10 – 20  persen dari semula hanya 7 – 8 ton/ha, menjadi 8 – 9 ton/ha.

 

“Produksi ikan sebanyak 3 – 5 ton/ha. Ini setara dengan penambahan penghasilan sebesar 1.700 dollar AS atau Rp 22 juta per ha per musim tanam. Sungguh hasil yang luar biasa dari budidaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan” jelas Slamet.

 

Lebih lanjut, Slamet Soebjakto  ketika mengikuti rangkaian  kegiatan “The 2nd International Symposium on Fisheries Crime 2016”, di Yogyakarta ini, Senin (10/10) ,  juga mengungkapkan, perikanan budidaya yang berkelanjutan dan berkeadilan mampu meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha, khususnya para petani.

 

Pelaku usaha, atau petani bisa melakukan budidaya Mina Padi dengan  udang galah (UGADI), padi dengan Nila (LADI), padi dengan lele (LeDi), padi dengan Udang Galah dan Gurame (UGAMEDI) dan juga padi dengan Udang Galah dan Koi (UGAKODI). Usaha budidaya Mina Padi tersebut telah memberikan keuntungan dan peningkatan pendapatan bagi petani, tanpa mengurangi produktivitas padi.

 

“Ini adalah wujud kerjasama lintas sektoral antara pertanian dengan perikanan, dalam meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. Kemandirian budidaya mina padi semakin terwujud apabila selama budidayanya menggunakan pakan ikan mandiri,” papar  Slamet.

 

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya atas nama Menteri Kelautan dan Perikanan, menyerahkan bantuan sebanyak 5 (lima) ton pakan ikan mandiri dan 5 (lima) juta ekor benih nila kepada sepuluh pembudidaya ikan di Kabupaten Sleman, yang merupakan produksi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Diserahkan pula bantuan ikan segar sebanyak 15,5 ton kepada 12 Pondok Pesantren, 86 Panti Asuhan, 21 Panti Jompo dan 35 Lembaga Sosial. Bantuan ikan segar ini berasal dari Ditjen Peningkatan Daya Saing KKP untuk meningkatkan konsumsi ikan di Yogyakarta.Idt

Editor : Ahmad Soim

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162