Loading...

Cara Tepat Mengolah Lahan Kering Iklim Kering

15:00 WIB | Monday, 07-April-2014 | Inovasi Teknologi, Teknologi | Penulis : Kontributor

Tuntutan pemanfaatan lahan untuk berbagai sektor (termasuk sektor pertanian) semakin besar. Salah satu agroekosistem yang berpeluang untuk ditingkatkan produktivitasnya adalah lahan kering beriklim kering, karena rata-rata tingkat produktivitas yang dicapai masih jauh di bawah potensinya.

 

Lahan kering beriklim kering (LKIK) adalah ekosistem yang tidak pernah tergenang atau digenangi air pada sebagian besar waktu dalam setahun atau sepanjang waktu (Hidayat dan Mulyani, 2005), dan berada pada wilayah dengan total hujan tahunan <2.000 mm th-1, dengan rata-rata bulan basah hanya 3-5 bulan (BBSDLP, 2012). Dengan faktor pembatas utama ketersediaan air, LKIK digolongkan sebagai lahan suboptimal.

 

Total luas LKIK adalah 13,3 juta ha utamanya tersebar di Kalimantan (khususnya Kalimantan Timur), Jawa (khususnya Jawa Timur), sebagian Sulawesi, Maluku dan Maluku Utara, Papua dan Papua Barat, Sumatera, Bali, NTT dan NTB (Tabel 1).  Lahan kering beriklim kering terluas terdapat di Kepulauan NTB, sedangkan provinsi dengan proporsi wilayah beriklim kering tertinggi adalah NTB yaitu sekitar 3,3 juta ha (71,7%  dari total luas wilayah NTT) (Mulyani, 2013).

 

Lahan kering beriklim kering yang berpotensi untuk pengembangan pertanian adalah 7,8 juta ha (BBSDLP, 2012). Lebih spesifik Sukarman et al. (2012) menyatakan bahwa luas lahan kering beriklim kering yang sesuai untuk pengembangan tanaman pangan adalah sekitar 2,23 juta ha yang tersebar 886.000 ha di Pulau Jawa (khususnya Jawa Timur), 219.000 ha di Sulawesi, dan 1.122 ha di Nusa Tenggara (Tabel 1). Sayangnya pemanfaatan LKIK khususnya untuk pengembangan tanaman pangan masih belum optimal. 

 

Tabel 1.  Lahan potensial untuk pertanian tanaman pangan dan lahan potensial indikatif untuk perluasan pertanian tanaman pangan di wilayah beriklim kering

 

 

Pulau/kepulauan

 

 

Lahan potensial

 

 

Lahan potensial indikatif untuk perluasan areal

 

 

 

 

 

----------------------- ha ----------------------

 

 

Sumatera

 

 

-

 

 

-

 

 

Jawa

 

 

886.000

 

 

26.394

 

 

Kalimantan

 

 

219.000

 

 

-

 

 

Sulawesi

 

 

-

 

 

93.417

 

 

Bali

 

 

-

 

 

-

 

 

Nusa Tenggara

 

 

1.122

 

 

137.659

 

 

Maluku

 

 

-

 

 

-

 

 

Papua

 

 

-

 

 

-

 

 

Jumlah

 

 

2.227.000

 

 

257.470

 

 

Sumber: Sukarman et al.(2012)

 

 

 

Selain pemanfaatan lahan yang belum optimal, rata-rata produktivitas tanaman yang dicapai pada LKIK juga masih tergolong rendah. Rata-rata produksi jagung mencapai 2,3 t ha-1, sementara rata-rata produksi nasional sekitar 3,5 t ha-1 (BPS Provinsi NTT, 2010). Tingkat produksi jagung pada LKIK di NTT bisa ditingkatkan menjadi lebih dari 3,5 t ha-1, karena pada skala percobaan tingkat produksi bisa mencapai >5 t ha-1 (Seran, 2013, Nurida dan Dariah, 2013; Dariah et al., 2013; Bunga et al., 2013; BBSDLP, 2013).

 

Inovasi yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan inovasi teknologi panen air dan peningkatan efisiensi penggunaan air, aplikasi teknologi konservasi tanah dan konservasi air, teknologi pemupukan berimbang spesifik, serta pengelolaan bahan organik.

 

Inovasi dan Rekomendasi

 

Teknologi pengelolaan lahan kering beriklim kering sudah banyak tersedia, namun pengembangannya masih jauh tertinggal.  Teknologi tersebut masih perlu diintegrasikan, dikemas dan dikaji secara praktis di lapangan dengan mempertimbangkan faktor penghambat yang bersifat umum maupun spesifik lokasi.  Pada tahun 2009, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah meluncurkan suatu program dalam bentuk konsorsium yaitu “Sistem Pertanian Terpadu Lahan Kering Beriklim Kering (SPT-LKIK)”.

 

Tujuan kegiatan konsorsium tersebut adalah: (1) membangun model/sistem pertanian terpadu spesifik pada lahan kering beriklim kering sebagai pilot project; (2) menerapkan inovasi teknologi dan kelembagaan pertanian lahan kering beriklim kering secara terintegrasi di lokasi pilot; (3) melakukan pengujian beberapa inovasi teknologi melalui penelitian superimpose di dalam kawasan pilot project; (4) melakukan transfer teknologi pertanian lahan kering ke pelaku usaha agribisnis; dan (5) menyusun grand design sistem pengembangan pertanian terpadu lahan kering berilkim kering secara nasional. Lokasi pilot SPT-LKIK di antaranya terdapat di NTT, tepatnya di Kebun Percobaan Naibonat, Kab. Kupang; Desa Persiapan Puncak Jringo, Kec. Suela, Kab. Lombok Timur; Desa Oebola, Kec. Fatuleu, Kab. Kupang, dan Desa Mbawa, Kec. Donggo, Kab. Sumbawa, NTB. Hasil penelitian teknologi pengelolaan tanah (konservasi tanah, pemulihan kualitas tanah dan pemupukan) dijadikan salah satu acuan dalam menyusun rekomendasi teknologi pengelolaan tanah.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162