Loading...

Deteksi Dini Kebuntingan Sapi dengan Test Kit

09:06 WIB | Thursday, 07-June-2018 | Teknologi, Inovasi Teknologi | Penulis : Gesha

Kemajuan teknologi khususnya di sub sektor peternakan kini tengah berkembang pesat, khususnya untuk perkembangan populasi sapi di masa depan. Satu yang terbaru adalah test kit untuk mendeteksi kebuntingan dini pada sapi.

 

Adanya test kit tersebut tentunya memberikan peluang untuk mengetahui sapi bunting pada usia kebuntingan muda sesudah dilakukan inseminasi atau kawin secara alami. Karena selama ini, metode deteksi kebuntingan pada ternak sapi dilakukan secara konvensional yaitu dengan pengecekan fisik secara langsung (perogohan/palpasi rectal) yang hanya bisa dilakukan 60 hari setelah inseminasi.

 

“Dengan test kit ini diagnosis kebuntingan dapat dilakukan lebih awal yaitu mulai umur 15 hari dan hanya membutuhkan waktu 60 menit dalam pelaksanaannya. Peternak juga dapat meningkatkan efisiensi reproduksi dan menekan biaya produksi,” tutur Kepala Loka Penelitian Sapi Potong, Dicky Pamungkas ketika dihubungi Tabloid Sinar Tani Online.

 

Deteksi kebuntingan dini pada sapi induk ini dapat meningkatkan efisiensi reproduksi sehingga dapi induk yang diketahui belum bunting dapat segera dikawinkan kembali. “Hal ini bisa memperpendek masa kosong atau kering dan sapi induk yang telah secara dini diketahui bunting dapat segera dipelihara secara lebih baik untuk menjaga dan menyelamatkan kebuntingan sampai lahir dengan selamat” tambahnya.

 

Test Kit yang diberi nama Kit Imunodotbloting Pregnancy ini secara teknis serupa dengan Elisa Kit untuk deteksi kebuntingan yang sebelumnya sudah dikeluarkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Perbedaannya hanya dari kemudahan membaca hasil deteksi kebuntingan yang terjadi. Elisa Kit sebelumnya terlihat perubahan warna darah yang diteteskan pada test kit namun pembacaan akurat masih menggunakan Elisa reader.

 

Sedangkan untuk test kit Imunodotbloting ini menggunakan sampel darah yang diambil pada sapi dan dimasukkan dalam mesin sentrifuge kemudian diteteskan pada dotblot yang tersedia. “Apabila terjadi perubahan warna dari merah ke jingga dan semakin pekat maka umur kebuntingan semakin tinggi,” paparnya. Perubahan warna ini terjadi karena reaksi dan ikatan dari antigen dalam serum darah dengan reagen yang ada pada test kit.

 

Ujicoba Akurasi

 

Dicky menuturkan test kit imunodotbloting ini telah dilakukan ujicoba akurasi sejak 2017. “Kita lakukan di Kab. Lumajang dan Kab. Lamongan dengan menggunakan 140 sampel. Didapatkan keakuratan 87,5%,” tuturnya.

 

Sedangkan untuk tahun 2018 ini, program ujicoba dilanjutkan dengan diintegrasikan pada program SIWAB yang menjadi keunggulan Kementerian Pertanian untuk memperbanyak populasi sapi. “Akan ada 1000 test pack yang akan digunakan untuk mengetes kebuntingan sapi yang sudah diinseminasikan,” tuturnya.

 

Dicky mengakui dibandingkan cara konvensional, test kit ini lebih mahal. Untuk pengecekan kebuntingan dengan palpaci rectal, biasanya peternak hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp 35 ribu. Untuk test kit ini, peternak harus merogoh kocek sampai Rp 50 ribu per sampel. “Ada baiknya memang diintegrasikan dalam program SIWAB sehingga petani merasa terbantu,” jelasnya.

 

Mengenai kesiapan untuk diperbanyak, Dicky mengakui masih menemui beberapa kendala yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Seperti bahan kimia yang digunakan untuk reagen harus melalui proses preorder. “Kita juga masih membutuhkan teknisi yang mumpuni untuk bisa mengambil sampel darah untuk diteteskan dalam test kit karena peternak belum ada kemampuan untuk itu,” tutup Dicky. (gsh)

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162