Loading...

Dirut Bulog: Stabilisasi Harga dengan Beras Renceng

12:39 WIB | Tuesday, 15-May-2018 | Pangan, Komoditi | Penulis : Julianto

 

 

Budi Waseso, Jumat (27/4) lalu resmi menggantikan Djarot Kusumayakti sebagai Direktur Utama Perum Bulog. Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) ini menganggap, sebagai seorang penegak hukum menangangi sebuah lembaga logistik pangan adalah hal yang baru.

 

“Ini hal baru dalam tugas saya di luar profesi sebagai penegak hukum,” katanya saat pertemuan dengan Forum Wartawan Bulog (Foarwabul) di Jakarta, Senin (14/5). Pertemuan tersebut berlangsung usai perayaan Dirgahayu Bulog ke-51 yang berlangsung di gedung Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

 

Bagi Komisaris Jenderal (Purn) Polisi ini mendapat amanah sebagai orang nomor satu di Bulog bukan tugas yang ringan. Apalagi dalam situasi kritis, mendekati puasa dan Lebaran. Karena itu peran Bulog sangat tinggi, karena menjadi harapan masyarakat.

 

“Kalau dulu saya dipuji ibu-ibu bisa selamatkan generasi muda. Sekarang siap-siap dibenci ibu-ibu kalau harga beras tinggi, karena persoalanya ketersedian perut masyarakat,” ujarnya.

 

Untuk menjaga stabilisasi harga beras, Buwas mengatakan, pihaknya akan membuat beras dalam kemasan kecil (renceng) dengan ukuran 200-200 gram. Sehingga, Buwas berharap, masyarakat paling bawah bisa membeli beras dengan harga murah dan dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.

 

“Kita ibaratkan kopi, mau kopi apa aja, tinggal beli di warung lalu seduh. Kita inginkan beras nanti seperti itu, mau makan, tinggal beli yang rencengan lalu masak,” katanya. Dengan alternatif itu, Buwas juga berharap tidak ada lagi mafia yang memborong beras.

 

 

 

Beras dan Narkoba, sama-sama putih

 

Menjadi Dirut Perum Bulog, Buwas menilai, berbeda jauh dengan tugas sebelumnya. Jika dulu demand tinggi, dirinya harus menekan suplai (narkoba), maka kini demand meningkat, suplai harus tersedia. Persamaannya yang saya tangani sama-sama putih (beras-narkoba),” tuturnya.

 

Melihat kondisi perkembangan harga komoditas pangan, khususnya beras, Buwas, sapaan akrab Budi Waseso mengatakan, secara hukum ekonomi, kenaikan harga yang terjadi saat ini, tidak lepas karena berkurangnya suplai (pasokan) ke pasar.  

 

Berkurangnya pasokan tersebut menurutnya, bukan semata karena barang (produksi) tidak ada. Tapi bisa karena persoalan birokrasi, sistem dan regulasi. “Saya melihat, pesoalan birokrasi, sistem dan regulasi  yang membuat harga bergejolak,” katanya.

 

Saat ini ungkap Buwas, Bulog tidak menguasai barang/beras secara penuh. Padahal di sisi lain, bangsa Indonesia memerlukan beras dan permintaannya terus meningkat. Apalagi beberapa wilayah yang sebelumnya tidak makan nasi, kini sudah beralih mengonsumsi nasi, seperti masyarakat wilayah Indonesia Timur. “Persentase Bulog menguasai beras sangat kecil, sebagian besar dikuasai sistem. Jadi jangan heran beras medium hilang dari pasaran,” ujarnya.

 

Persoalan lain yang kerap membuat harga bergejolak, Buwas melihat, adalah faktor data. Selama ini data produksi pangan, kualitas hasil produksi dan luas lahan pertanian ‘abu-abu’ atau tidak pasti, karena tidak terpetakan dengan baik. “Musim paceklik mungkin bisa diperhitungkan, tapi jumlah yang dihasilkan kita tidak tahu. Ini terjadi karena pasar komoditas kita dikuasai pasar bebas,” katanya.

 

Buwas berharap, ke depan, Bulog atas nama negara bisa menguasai lagi sembilan bahan pokok utama agar dapat menjaga stabilisasi pangan. Contohnya, di Thailand dna Vietnam, semua hasil pertanian dibeli negara dan harga dikendalikan pemerintah. Dengan demikian, petani tidak dirugikan, konsumen pun mendapat harga yang murah.

 

“Di Indonesia sekarang ini kan terbalik, di petani teriak harga jatuh, di konsumen teriak harga tinggi,” tegasnya. Karena itu lanjutnya, sebagai lembaga stabilisasi harga pangan, Bulog tidak lagi berpikir untuk operasi pasar (OP) saat terjadi lonjakan harga. Sebab, dengan cara OP ibarat pemadam kebakaran.

 

Untuk menjaga ketersediaan suplai pangan, Buwas berencana menggandeng Polsek. Polres dan Koramil. Sebab, ketiga lembaga itu yang terdekat dengan masyarakat, sehingga tidak mudah dipemainkan pihak ketiga. “Jadi kita sediakan pangan sampai di tingkat masyarakat paling bawah,” ujarnya. Yul

 

 

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162