Loading...

Dodih, Taklukan Pasar Sayuran Negeri Singa dengan Buncis

19:05 WIB | Friday, 13-October-2017 | Kontak Tani Sukses, Kabar Penas KTNA XV 2017 | Penulis : Julianto

Menembus pasar produk pertanian, terutama sayuran di luar negeri memang tidaklah mudah. Banyak syarat dan standar yang harus dipenuhi. Tapi di tangan Dodih (36), pasar ekspor sayuran, khususnya ke negeri ke Singapura bisa ditaklukan.

 

Dodih kini  mampu mengirim 3-4 kuintal/minggu buncis ke negeri Singa tersebut. Bukan hanya buncis, tapi juga kacang Kenya, sejenis buncis tapi bentuknya lebih kecil yang dia kirim ke Singapura sebanyak 4 kuintal/minggu.

 

“Untuk ekspor memang saya masih melalui perusahaan swasta yakni PT. Alamanda Sejati Utama dan Amazing Farm,” kata alumni tahun 2005 dari Teknik Mesin Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung ini.

 

Dodih yang dipercaya sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Lembang Agri ini mengakui, untuk masuk pasar komoditi hortikultura, khususnya sayuran ke Singapura memang tidak mudah, karena peraturannya sangat ketat. Misalnya, jika saat pengiriman barang ke sana, ternyata ada produk yang kurang baik, maka mereka tidak segan untuk memulangkan ke Indonesia.

 

Bukan hanya dipulangkan, mereka juga meminta kompensasi ganti rugi karena tidak bisa menjual produk tersebut. Bahkan biaya pengiriman pun harus ditanggung eksportir. Tapi jika eksportir Indonesia tidak mau menanggung biaya trasportasi, maka produk tersebut akan dimusnahkan. Biaya pemusnahan pun harus ditanggung pihak eksportir.

 

Berapa kerugiannya yang bakal ditanggung? Dodih menghitung, sekali pengiriman ke Singapura sebanyak 4 kuintal, harga buncis Rp 12 ribu/kg. “Tinggal hitung berapa kerugian kita. Kasus seperti ini pernah terjadi dua kali sejak tahun 2010,” ujar Dodih yang juga pengelola P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya) saat Sinar Tani berkunjung ke lokasi di Desa Cikidang, Lembang, Bandung Barat.

 

Dari kejadian itu, Dodih banyak belajar mengenai kualitas produk pertanian agar bisa menembus pasar mancanegara. Saat ini produk sayuran dari Gapoktan Lembang Agri sudah mendapat sertifikat Prima 3 Keamanan Pangan. Artinya, sayuran sudah aman konsumsi dan aman dari pestisida (sesuai rekomendasi pemerintah).

 

Meski sayuran produksi Gapoktan Lembang Agri ini sudah bisa menembus pasar Singapura, bukan berarti Dodih tak melirik pasar dalam negeri. Pasar lolal juga digarap serius. Sudah sejak tiga bulan terakhir, dia selalu mengirim rutin sayuran jenis tomat dan brokoli ke Hero Supermarket di Bandung. Sedangkan ke Giant Supermarket, produknya sawi, brokoli, timun Jepang, jukin, buncis, cabe keriting dan rawit. “Di Hero kita kembangkan pemasaran dengan membuat produk serba Rp 5000,” katanya.

 

Untuk menjaga kualitasnya produk dari Gapoktan Lembang Agro, Dodih selalu mengadakan pertemuan ke petani yang menjadi anggota gapoktan, terutama guna mengatasi persoalan budidaya dan pemasaran. “Memang kita tidak membuat jadwal khusus, tapi ketika ada masalah kita langsung bertemu untuk membahas bersama. Kita juga mengundang penyuluh untuk membatu mengatasi persoalan di petani. Kita juga adakan pelatihan petani,” tuturnya.

 

Sedangkan untuk mejaga kontinuitas pasokan ke pasar, Dodih mengatur pola tanam. Jadi setiap kelompok tani dibuat estimasi produksi. Dengan demikian, tidak akan ada kelebihan produksi yang menyebabkan harga turun. “Kalau ada petani yang tiba-tiba mengirim barang dalam jumlah banyak dan tidak sesuai estimasi, kita tidak akan terima, karena bisa merusak harga petani yang lainnya,” ungkapnya.

 

Dalam pemasaran hasil panen petani, Gapoktan Lembang Agri membeli di atas harga produksi petani (HPP). Misalnya, harga kacang Kenya dengan HPP nya Rp 6-7 ribu/kg, dibeli Rp 11-12 ribu/kg untuk kualitas umum. Sedangkan untuk kualitas bagus Antara Rp 12-13 ribu/kg.

 

Angkat Nasib Petani

 

Apa yang dilakukan Dodih dengan membangun Gapoktan dan P4S Lembang Agri kini telah mampu mengubah nasib sebagian petani di Desa Cikidang. Sebelum tahun 2000 dia mengakui, kehidupan masyarakat tak sebaik sekarang. Rumah petani banyak yang masih bilik. Tapi kini, banyak yang bertingkat dua.

 

Dari sisi pendidikan, masyarakat mulai memilih menyekolahkan anak-anaknya di tempat yang kualitasnya lebih baik. Artinya, petani berani mengeluarkan anggaran lebih mahal untuk pendidikan. Bahkan buruh tani pun ada yang sudah pergi haji.

 

“Jadi kalau mau kaya jadilah petani, jangan bandar. Apalagi dengan teknologi informasi, petani sekarang dengan mudah mengetahui perkembangan harga,” katanya. 

 

Bagi Dodih membangun Gapoktan Lembang Agri ini berawal dari kegusaran dirinya terhadap kondisi pertanian di daerahnya. Bukan hanya keinginan mengubah nasib petani di desanya, termasuk keluarganya yang juga petani, tapi juga keinginan mengubah pola piker petani. Dari kegusaran itu, akhirnya dirinya bantuing setir, tak berkerja di bidang pendidikannya, tapi lebih memilih membangun desanya dengan pertanian.

 

Dulu saat belum ada kelembagaan, petani selalu mengeluh bahwa pemerintah tidak pernah memperhatikan mereka. Tapi dengan adanya Gapoktan, kini telah menjadi wadah penghubung petani dengan pemerintah. “Untuk membina petani, pemerintah lebih mudah. Tiap ada masalah petani, juga akan cepat terpecahkan,” tutur bapak tiga anak ini.

 

Di Cikidang menurutnya, memang ada banyak kelompok tani, tapi mereka tidak bersatu. Kelompok tani juga tidak dalam bentuk formal, sehingga setiap ada persoalan hanya berputar di tingkat petani, tidak pernah ada penyelesaiannya. Semetara di sisi lain, pemerintah juga sulit untuk membantu.

 

Karena itu Dodih lalu berinisiatif membangun kelembagaan petani yang formal. Setelah berdiskusi cukup panjang, akhirnya dibentuk Kelompok Tani Tauhid. Nama Tauhid, karena kelompok tani ikut dalam program pemberdayaan masyarakat Pesantren Darut Tauhid.

 

Saat pemerintah meluncurkan program PUAP (Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan), Kelompok Tani Tauhid mendapat tawaran bantuan sebanyak Rp 100 juta. Karena kuatir tidak bisa mengelola dana tersebut, apalagi persyaratannya ketat, dia menolak bantuan tersebut.

 

Dodih bercerita, bantuan itu sempat ditawarkan ke kelompok tani lain, tapi mereka pun tidak berani mengambil. Kemudian diadakan rembug antar kelompok tani, yang akhirnya diambil jalan tengah dibentuk Gapoktan Lembang Agri yang akan mengelola anggaran PUAP itu.

 

Dalam perjalanan waktu, karena Gapoktan Lembang Agri juga mengadakan pelatihan secara swadaya dibentuklah P4S yang dibina Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian. “Dalam waktu tiga-empat tahun, status P4S Lembang Agri naik dari pemula tahun 2010 menjadi P4S Madya tahuh 2014. Sekarang kita sedang proses P4S Utama,” tutur Dodih.

 

Kini P4S Lembang Agri telah memiliki fasilitas ruang pelatihan yang permanen. Padahal sebelumnya untuk melatih petani hanya memanfaatkan garasi dan kadang dilakukan di teras rumah. Selain itu juga fasilitas pengemasan produk yang akan diekspor.

 

Saat ini ada dua program yang tengah digarap Dodih bersama pengurus P4S lainnya. Satu, mencetak petani muda dengan pelatihan intensif dari hulu hingga hilir. Hingga kini sudah dua angkatan yang dilatih. Kedua, pemberdayaan kaum ibu dengan membentuk kelompok wanita tani (KWT).  Kalangan ibu rumah tangga itu mendapat pelatihan pengolahan produk makanan yakni kripik bayam dan sintiong (sejenis gulma).

 

Kerja keras Dodih ternyata dilirik Bank Indonesia. Gapoktan dan P4S Lembang Agri kini menjadi Klaster Agribisnis Sayuran binaan Bank Sentral ini. “Apa yang kita kerjakan, yang penting berkah.” Begitulah prinsip Dodih dalam bekerja. Semoga apa yang dicapai saat ini berkah bagi Dodih dan masyarakat petani di Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162