Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Ekspor Jagung,Mengukir Sejarah Baru

10:27 WIB | Tuesday, 22-May-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Ekspor Jagung,Mengukir Sejarah Baru

 

Bangsa Indonesia mengukir sejarah baru menjadi negara eksportir jagung. Keberhasilan tersebut melunturkan bayang-bayang Indonesia yang selama ini sebagai importir komoditas pangan nomor dua setelah beras.

 

Ekspor jagung berlangsung awal tahun ini. Pertama melalui dari Gorontalo sebanyak 57.650 ton. Kemudian disusul dari Sulawesi Selatan 60.000 ton. Ekspor berlanjut dari Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ke Filipina sebanyak 11.500 ton dari target 100.000 ton.

 

“Kita sudah tiga melakukan ekspor jagung. Memang target pasar ekspor jagung kita adalah Filipina dan Malaysia, sebanyak 4 juta ton,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. 

Ekspor jagung kali ini meru­pakan prestasi besar. Apalagi selama ini, bangsa Indonesia selalu menjadi langganan impor jagung. Artinya, Kementerian Pertanian telah berhasil membalikkan keadaan dari bangsa yang selama ini impor, kini menjadi eksportir jagung.

Catatan menunjukkan, pada tahun 2015 Indonesia masih mengimpor jagung 3,5 juta ton. Tapi melalui program Upaya Khusus (Upsus), produksi berhasil digenjot. Impor jagung tahun 2016 terpangkas drastis 62%. Bahkan pada tahun 2017 tidak ada impor jagung untuk pakan ternak. “Kini 2018, kita mampu mengekspor jagung ratusan ribu ton. Seandainya tidak ada program Upaya Khusus, kita akan impor 4-5 juta ton,” kata Amran.

Angka BPS menyebutkan, produksi jagung dalam lima tahun terakhir meningkat 50,92%. Jika tahun 2013 sebanyak 18,5 juta ton, maka tahun 2017 naik mencapai sebesar 27,95 juta ton, dengan perkiraan luas panen 5.374.062 ha dan produktivitas 52 ku/ha. Sedangkan peningkatan produktivitas mencapai 7,33% dan luas panen meningkat 40,64%.

Tahun 2018 diperkirakan produksi jagung nasional sebesar 30 juta ton atau naik 7,34% dari tahun 2017. Dengan perkiraan kebutuhan sebanyak 20,23 juta ton, produksi akan ada surplus 9,77 juta ton. Kelebihan produksi tersebut nantinya bisa untuk ekspor. Apalagi peluangnya sangat terbuka. Selain Filipina, Malaysia yang kebutuhannya mencapai 3 juta ton/tahun juga siap menyerap jagung Indonesia. Selama ini Negeri Jiran mengimpor dari AS dan Argentina.

 

Angkat Kesejahteraan Petani

Amran mengakui, keberhasil­an ekspor jagung tersebut bukan semata karena kebijakan pemerintah yang mem­pro­gramkan Upsus pening­katan produksi pangan, termasuk ja­gung, tapi juga merupakan hasil kerja petani. “Kerja keras petani yang didukung semua pihak ini membuahkan hasil,” ujarnya.

Bagi Amran, ekspor jagung merupakan realisasi amanah Nawacita untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan pening­katan kesejahteraan petani. Karena itu, peningkatan produksi jagung dan ekspor tidak hanya berdampak perolehan devisa, tapi sangat nyata meningkatkan kesejahteraan petani. 

Misalnya, peningkatan pro­­­duksi jagung di Sulawesi Selatan menjadi 2,23 juta ton. Kalkulasinya, jika harga jagung Rp 3.150/kg, diperkirakan akan diperoleh pendapatan hingga Rp 7 triliun. Hitungannya, setelah dikurangi biaya produksi, minimal petani jagung Sulsel memperoleh keuntungan Rp 4-5 triliun. “Ini nilai yang sangat besar. Jadi petani dipastikan sejahtera,” tutur Amran.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162