Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Sewa Alsintan, Bisnis Baru Petani

11:06 WIB | Tuesday, 21-November-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Sewa Alsintan, Bisnis Baru Petani

 

Modernisasi pertanian menjadi satu sasaran pemerintah. Salah satu programnya adalah menggerakkan mekanisasi melalui bantuan alat mesin pertanian (alsintan) kepada petani. Karena itu jasa penyewaan alsintan bisa menjadi bisnis baru di petani.

 

Data Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementerian Pertanian tahun 2016 telah tersalurkan bantuan traktor (roda 2) sebanyak 50 ribu unit, transplanter 8 ribu unit, traktor (roda 4) 2.300 unir, pompa air 20 ribu unit, hand sprayer 72 ribu unit, alat pembuatan bibit padi 800 ribu unit dan excavator kecil 200 unit.

Sedangkan tahun 2017 ada sebanyak 82.560 unit alsintan yang dibagikan ke petani dengan anggaran sebesar Rp 2,9 triliun. Jenis alsintan yang dibagikan petani yakni, traktor roda empat sebanyak 3.000 unit, pompa air 21.000 unit, rice transplanter 3.000 unit, excavator 1500 unit, cultivator 2.000 unit dan hand sprayer sebanyak 25.000 unit.

Artinya, dalam kurun dua tahun terakhir meningkat, jumlah alsintan yang pemerintah salurkan untuk menggerakkan roda pertanian di daerah sangat besar. Tercatat, jika tahun 2015 hanya sekitar 80 ribu unit, maka pada tahun 2016 lebih kurang 100 ribu unit. 

Ada beberapa alasan mengapa pemerintah menggelontorkan begitu banyak alsintan. Dian­taranya, penggunaan alsintan membuat pekerjaan usaha tani menjadi lebih efisien dan menghemat biaya. 

Seperti diakui, Manajer UPJA Bagyo Mulyo, Karjono mengatakan, penggunaan alsintan telah terbukti memberika efisiensi dalam produksi padi. Satu traktor besar bisa mengolah sekitar 2 ha dengan satu orang operator dan kebutuhan BBM sekitar 50 liter/hari. Sedangkan hand traktor, lahan bisa diolah dengan dua orang operator dan biaya hanya Rp 1,2 juta. 

Sedangkan rice transplanter dengan dua orang operator mampu menanam padi 1 ha dengan kebutuhan BBM hanya 4 liter. Ditambah, biaya tanam dengan mesin tanam dan bibit padi sekitar Rp 2 juta/ha. Bibitnya sendiri diperlukan sebanyak 225 tray atau sekitar 45-50 kg/ha.

“Biaya tersebut sangat menguntungkan petani diban­dingkan dengan cara manual,” kata Karjono. Misalnya, lanjut dia, saat pengolahan tanah dengan menggunakan cangkul biaya yang harus dikeluarkan hampir Rp 2,5 juta/ha dengan jumlah tenaga 30-40 orang/ha. Demikian juga saat tanam secara manual yang terdiri dari biaya semai, cabut bibit dan tanam biayanya bisa mencapai Rp 2,5 juta/ha, belum termasuk biaya pembelian bibit padi. 

Ketua Poktan Bangun Tani Hias, Kelurahan Katulampa, Kota Bogor, Haji Aab juga mengakui, dengan tenaga kerja yang terbatas, alsintan bisa membantu petani jika bisa optimal. Dengan transplanter misalnya, tray ada sekitar 300, lahan 1 ha bisa selesai dalam satu hari. Ongkos bahan bakar hanya sebanyak 10 liter atau Rp 75 ribu dan biaya tenaga kerja (operator) sebesar Rp 300 ribu. Dengan sewa alat sekitar Rp 500-700 ribu, maka pengeluaran petani hanya Rp 1,1 juta.

Bandingkan jika menanam padi secara manual. Dengan tenaga kerja sebanyak 40 orang, dikalikan upah kerja penggarap sebesar Rp 40 ribu, maka biaya yang harus dikeluarkan petani bisa mencapai Rp 1,6 juta/hari. “Itu pun baru dua hari selesai sehingga ongkos yang harus dikeluarkan mencapai Rp 3,2 juta,” ujarnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162