Loading...

Festival Hortikultura 2015 - Menduniakan Hortikultura, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

13:23 WIB | Tuesday, 27-October-2015 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Kontributor

Festival hortikultura merupakan agenda tahunan nasional untuk memasyarakatkan hortikultura nusantara kepada seluruh kalangan, baik pelajar, mahasiswa, petani, ibu rumah tangga dan seluruh pelaku usaha hortikultura serta pemangku kepentingan terkait.

 

Dalam Festival Hortikultura dilakukan lomba varietas dan lomba produk unggulan hortikultura  dari berbagai  provinsi dan kab/kota. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan varietas unggul yang disukai oleh pasar  dan akan dikembangkan secara komersial. 

 

Festival Hortikultura diharapkan dapat menarik investasi, sosialisasi teknologi, komunikasi dan tukar menukar informasi antar pelaku usaha hortikultura, meningkatkan kompetensi pelaku usaha hortikultura. Kesemuanya itu ditujukan untuk memperbaiki produksi, produktivitas dan kualitas hortikultura nusantara. Tema Festival Hortikultura 2015 yaitu “Menduniakan Hortikultura, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia”.

 

Potensi hortikultura yang terdiri dari buah-buahan, sayuran, florikultura dan tanaman obat sangat besar. Karena itu layak untuk dikembangkan untuk pemenuhan pasar domestik, ekspor, pariwisata maupun untuk mengangkat citra Indonesia di dunia internasional.

 

Neraca perdagangan hortikultura tahun 2014 mengalami defisit sebesar US$ 1.176 juta setara Rp. 11,76 triliun. Kondisi defisit neraca perdagangan hortikultura terutama terjadi pada kelompok komoditas buah dan sayur. Sementara tanaman obat dan tanaman hias menunjukkan surplus perdagangan.

 

Buah-buahan manggis dan mangga menjadi penyumbang ekspor terbesar. Sedangkan kelompok sayuran adalah kol, tomat dan kentang. Sebaliknya, buah-buahan yang banyak diimpor  adalah durian dan jeruk, dan untuk kelompok sayuran adalah bawang putih, bawang merah, kentang dan wortel.

 

Kurangi Impor

 

Dengan memperhatikan data tersebut, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dalam sambutan yang dibacakan Dirjen Hortikultura, Spudnik Sujono meminta agar semua pihak bekerja lebih keras lagi untuk  mengurangi impor dan meningkatkan ekspor hortikultura.   Caranya dengan menghasilkan produk-produk hortikultura yang berdaya saing tinggi.

 

“Dengan penduduk 250 juta jiwa lebih, Indonesia merupakan pasar yang besar. Jika tidak kita garap dengan baik akan dimanfaatkan oleh produk-produk impor,” katanya. Karena itu sebagai negara yang besar, Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

 

Hal ini lanjut Spudnik, sejalan dengan visi Presiden untuk mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong. Salah satu agenda Nawa Cita yang harus dilaksanakan dalam pengembangan hortikultura  adalah meningkatkan produktivitas dan daya saing di pasar internasional, serta mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

 

Menurut Spudnik, Kementerian Pertanian sebagaimana perintah Presiden, harus dapat mewujudkan swasembada untuk tujuh komoditas utama yaitu padi, jagung, kedelai, daging sapi, gula, cabai dan bawang merah. Pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota harus serius dalam mewujudkan swasembada pangan tersebut.

 

“Untuk komoditas hortikultura, saya sudah tidak mengijinkan lagi untuk mengimpor bawang merah segar mulai tahun 2016,” tegasnya. Apalagi lanjut dia, potensi Indonesia untuk menghasilkan bawang merah sangat besar. Mulai dari Aceh sampai Merauke dapat ditanami bawang merah. Bahkan bawang merah dapat ditanam sepanjang tahun.

 

Pemerintah menargetkan tahun 2016, Indonesia sudah harus mengekspor bawang merah dalam jumlah yang lebih besar. Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya Kabupaten Bima dan Sumbawa memiliki potensi yang sangat besar untuk budidaya bawang merah sepanjang tahun. Bahkan dapat menjadi andalan dalam penyediaan bawang merah nasional. “Pemerintah pusat akan terus membantu pengembangan bawang merah di provinsi ini,” ujarnya.

 

Untuk cabai, Spudnik mengakui, tantangan kita adalah bertanam di musim kemarau dan diproduksi saat musim hujan. Untuk itu program pemerintah adalah membantu ketersediaan air untuk pertanaman pada musim kemarau dan memperkenalkan penggunaan shading net  agar saat musim hujan bunga cabai tidak rontok terlalu banyak.

 

Tantangan bagi Litbang dan produsen benih adalah menghasilkan varietas yang tahan ditanam di musim kemarau dan produktivitasnya tinggi saat dipanen di  musim hujan. Agar harga cabai tidak berfluktuasi tajam, harus diterapkan pola tanam yang baik, sehingga tidak terjadi kelebihan atau kekurangan produksi di bulan-bulan tertentu. “Di sini peran Dinas Pertanian untuk mengajak petani mentaati pola tanam sangat penting,” ujarnya.

 

Untuk komoditas buah-buahan, saat ini Indonesia tercatat sebagai eksportir nanas olahan terbesar di dunia dengan konsentrasi kawasan di Provinsi Lampung. Indonesia juga unggul ekspor buah–buahan eksotik. Misalnya,  manggis, salak dan mangga.

 

Pertumbuhan nilai ekspor buah-buahan tersebut meningkat dari tahun 2010 sampai 2013 rata-rata sebesar 13,61%. “Karena itu saya minta Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota dapat meningkatkan produksi dan memperbaiki kualitas  buah  yang dihasilkan petani untuk memenuhi kebutuhan ekspor,” tuturnya.

 

Pendekatan Industri

 

Spudnik mengatakan, jika dicermati dalam beberapa dekade terakhir ini produksi hortikultura terus mengalami peningkatan, baik dari kuantitas maupun kualitas, sebagai dampak dari penerapan GAP (Good Agricultural Practices) dalam usaha budidaya hortikultura.

 

Karena itu dia berharap, produk hortikultura ke depan bukan saja harus semakin berkualitas dan kontinuitas pasokannya terjamin, tetapi juga harus diusahakan dengan memperhatikan sistem pelestarian lingkungan. “Dari berbagai pengalaman empiris, kita sampai pada kesimpulan bahwa pengembangan usaha hortikultura harus dilakukan dengan pendekatan industri,” ujarnya.

 

Melalui pendekatan ini diharapkan daya saing produk hortikultura meningkat berkat kecermatan dan ketepatan dalam memilih jenis dan ragam komoditas yang sesuai dengan permintaan pasar. Selama ini diakui, produk hortikultura dalam negeri terkesan dengan pasokan yang tidak stabil dan mutu yang belum terstandar.

 

Karena itu menurut Spudnik, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP) disertai dengan pemberdayaan kelembagaan petani, penguatan kemitraan usaha yang saling menguntungkan dan dikelola secara terintegrasi. Pada akhirnya diharapkan mampu menjadi kekuatan besar bagi hortikultura untuk menghasilkan produk yang berdaya saing.

 

“Saya gembira menyaksikan keterlibatan banyak pihak dalam Festival Hortikultura ini. Kehadiran dan peran sertanya saya harapkan dapat mewujudkan sinergi konkrit dalam mewujudkan industri hortikultura yang unggul,” katanya. Ditjen Hortikultura/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162