Loading...

Gulma Masih Jadi Ancaman Petani

17:05 WIB | Wednesday, 14-March-2018 | Sarana & Prasarana, Non Komoditi | Penulis : Gesha

Country Head Syngenta Indonesia, Parveen Kathuria menunjukkan produk APIRO

Gulma ternyata masih menjadi ancaman terbesar bagi petani, bukan hanya di Indonesia tapi juga kawasan ASEAN. Bahkan kehilangan hasil produksi karena gulma cukup besar.

 

"Petani di kawasan ASEAN banyak menderita kehilangan hasil antara 30-40% dari pertanaman mereka. Dan itu bisa senilai 75.6 juta dolar AS per tahunnya. Tentu ini pada akhinya berpengaruh pada kesejahteraan petani,” kata Country Head Syngenta Indonesia, Parveen Kathuria saat launching produk pengendalian gulma dari Syngenta di R&D (Research and Development) Syngenta Indonesia di Cikampek, Rabu (14/3).

 

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan pengendalian gulma manual yang dilakukan petani. Di Indonesia, hampir 30% petani mengatasi gulma secara manual dengan mencabut meski mereka juga sudah menggunakan bahan kimiawi.

 

Melihat kenyataan demikian, Syngenta melakukan riset formulasi herbisida terbaru sejak 2011. "Ini menjadi bentuk komitmen Syngenta untuk pengembangan pertanian Indonesia agar petani mendapatkan hasil yang lebih baik," ungkap ASEAN Territory Head Syngenta, Alex Berskovskiy.

 

Marketing Head  Syngenta Indonesia, Dedi Kurniawan mengatakan, untuk mengetahui produk terbarunya tersebut, pihaknya mengundang sebanyak 1.000 petani dari seluruh Jawa untuk mencoba. Dalam jangka waktu 1-2 bulan mendatang akan dipasarkan ke Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Medan, hingga Kalimantan untuk mengenalkan produk ini kepada petani.

 

Cukup 1 kali

 

Produk Syngenta bernama APIRO memiliki dua kombinasi bahan aktif yaitu Pyriftalid dan Bensulfuron yang sudah efektif mengendalikan berbagai jenis gulma mulai dari rerumputan, teki-tekian hingga gulma daun lebar. Berbeda dengan herbisida lainnya, APIRO memiliki metode pengaplikasian yang fleksibel yaitu dipercik atau disemprot. Sehingga petani memiliki keleluasaan sesuai kebiasaan untuk bisa mengaplikasikannya.

 

"Dua cara tersebut memiliki kemampuan yang sama karena bisa diserap tanaman melalui akar dan daun tetapi tetap aman bagi tanaman utama dan residu yang rendah di tanah," ungkap Dedi.

 

Adapun daya kendali APIRO terhadap hama gulma mencapai 100 persen. Dari hasil pengujian, 4 minggu setelah pengaplikasian APIRO, gulma tidak tumbuh sampai panen tiba. Artinya, petani hanya perlu satu kali pengaplikasian bisa melindungi pertanamannya dari gulma.

 

Langkah ini tentu lebih efisien daripada petani harus menyiangi gulma saat 30 hari setelah tanam (HST) dan 45 HST. Petani hanya perlu mengaplikasikannya saat 7 hari setelah tanam sebanyak 350 ml untuk setiap ha lahan. “Pada saat mulai tanam maupun pindah tanam. Saat tanah macak-macak atau tergenang,” kata Dedi. 

 

Menurutnya, aplikasi APIRO sangat cocok untuk lahan sawah irigasi teknis maupun non teknis.  Namun dia mengakui, belum cocok untuk lahan tadah hujan atau padi ladang.

 

Mengenai harga, Dedi menuturkan APIRO tersedia dalam kemasan 100 ml dengan harga Rp 145 ribu dan kemasan 250 ml dengan harga Rp 225 ribu. Jadi untuk lahan 1 ha setidaknya harus dua jenis kemasan ini yang digunakan agar mendapatkan hasil yang terbaik. Gsh

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162