Loading...

Importir Gelontorkan Bawang Putih Murah Rp 18.500/kg

12:07 WIB | Wednesday, 28-March-2018 | Olahan Pasar, Non Komoditi | Penulis : Julianto

para pekerja sedang memindahkan bawang putih impor dari kontainer ke mobil bak terbuka

 

 

Kalangan pelaku usaha yang tergabung dalam Perkumpulan Petani dan Pengusaha Bawang Indonesia (P3BI) menggelar penjualan bawang putih murah dengan harga Rp 18.500/kg di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Kegiatan itu untuk membantu pemerintah menjaga stabilitas harga salah satu bumbu dapur yang kini terus bergerak naik.

 

Pengurus P3BI, Nurul Shantiwardhani mengatakan, penjualan bawang putih tersebut dilakukan salah satu anggota P3BI yakni PT. Haniori. Kegiatan itu berlangsung sejak Selasa-Kamis (27-29/3). “Kemarin (Selasa), dilepas sebanyak 28 ton atau satu kontainer, sekarang (Rabu) juga satu kontainer, besok (Kamis) rencananya akan ada satu atau dua kontainer lagi,” katanya kepada wartawan.

 

Menurutnya, penjualan bawang putih impor dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan harga pasar saat ini bukan operasi pasar. Namun, sebagai bentuk komitmen pelaku usaha dalam hal ini PT. Haniori untuk menjaga stabilisasi harga bawang di pasar.

 

Diharapkan dengan menjual bawang putih di tingkat grosir dengan harga Rp 18.500/kg bisa menekan kenaikan harga di pasar. Saat ini ungkap Nurul, harga bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati mencapai Rp 23 ribu/kg.

 

Sementara di pasar tradisional, seperti Pasar Senen Rp 38 ribu/kg, Pasar Jembatan Merah Rp 35 ribu/kg, Pasar Sunter Pododomor Rp 48 ribu/kg, Pasar Grogol Rp 32 ribu/kg. Harga tertinggi di Pasar Pramuka yang mencapai Rp 80 ribu/kg. Sedangkan terendah di Pasar Cengkareng Rp 28 ribu/kg. “Kalau dirata-ratakan, harga bawang putih di DKI Jakarta sekarang ini sekitar Rp 41 ribu/kg,” ujarnya.

 

Nurul mengatakan, tingginya harga bawang putih di pasar tidak lepas karena pasokan sangat tergantung dari impor. Sementara upaya pemerintah mendorong produksi dalam negeri masih ada kendala ketersediaan bibit unggul dan lahan.

 

“Sesuai kebijakan pemerintah, importir memang mendapat tugas menanam bawang putih sebesar 5% dari kuota impor, tapi persoalan saat kita mau membantu petani menanam bawang putih ada masalah ketersediaan bibit dan lahan,” tuturnya.

 

Rekomendasi Ijin Impor

 

Sementara itu Koordinator Pedagang Rempah-rempah Pasar Induk Kramat Jati, Sarsulim Rasad mengakui, harga bawang putih kini memang sedang tinggi. Untuk yang cutting dari importir sempat mencapai Rp 28 ribu/kg dan di Pasar Induk Kramat Jati sekitar Rp 30-32 ribu/kg. Sedangkan harga bawang putih yang bukan cutting dari importir sebesar Rp 24 ribu/kg.

 

Penyebabnya adalah kuota impor yang biasa didapat pelaku usaha terlambat keluar. Bahkan sejak Januari-Februari lalu tidak ada kuota impor bawang putih yang pemerintah keluarkan. “Kuota impor baru keluar Maret ini. Jadi yang dijual saat ini adalah kuota impor yang baru didapat awal Maret,” katanya.

 

Untuk menjaga stabilisasi harga bawang putih, Sarsulim mengatakan, pihaknya telah membatasi harga maksimal Rp 22 ribu/kg, sehingga saat di pasar tidak lebih dari Rp 30 ribu/kg. Sedangkan untuk penjualan bawang putih yang dilakukan PT. Haniori ini, kalangan pedagang dibatasi hanya bisa membeli 1 ton atau sebanyak 50 karung. “Dengan cara ini semua pedagang akan punya barang,” ujarnya.

 

Sementara itu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Jawa Tengah mulai tahun 2017 telah melakukan kegiatan perbenihan bawang putih. Kegiatan itu difokuskan di sentra pengembangan salah satunya yaitu Kabupaten Temanggung seluas 20 ha. Lokasinya di tiga desa yakni, Desa Glapansari Kecamatan Parakan, Desa Petarangan serta Desa Kruisan Kecamatan Kledung.

 

Dari kegiatan perbenihan di Temanggung tersebut diharapkan akan memproduksi calon benih rata-rata sebanyak 4 ton/ha yang akan dihasilkan minimal sekitar 80 ton benih bawang putih. Benih itu nantinya akan didistribusikan ke sentra bawang putih yaitu Magelang, Karanganyar, Tegal, Pemalang, Batang dan beberapa kabupaten lain yang terindikasi memiliki daerah pegunungan dengan kondisi agroekosistem yang relatif sama. Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162