Loading...

Indonesia Berdaulat Pangan

11:10 WIB | Tuesday, 01-November-2016 | Komoditi, Pangan | Penulis : Clara Agustin

Perubahan iklim menjadi persoalan serius bagi ketersediaan pangan. Bahkan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organitation/FAO) sejak jauh-jauh hari telah mengingatkan negara-negara di dunia ancaman krisis pangan.

 

Namun di tengah ancaman perubahan iklim yang bisa mempengaruhi produksi pangan di Indonesia. Data The Economist Intelligence Unit menunjukkan indeks ketahanan pangan global atau Global Food Security Index (GFSI) tahun 2016 Indonesia meningkat dari peringkat ke 74 menjadi ke 71 dari 113 negara.

 

Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami perubahan terbesar pada indeks keseluruhan (2.7). Aspek Ketersediaan Indonesia tahun 2016 berada pada peringkat ke 66, jauh di atas peringkat Keseluruhannya (ke 71). Harus dicatat juga, keberhasilan program pertanian saat ini mampu meningkatkan ketahanan pangan Indonesia dibandingkan negara-negara lain. Hal ini diungkapkan oleh Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Mark Smulders menilai, bangsa Indonesia masih beruntung tidak mendapatkan dampak seburuk Filipina dan Karibia karena adanya angin siklon atau badai tropis. Namun dia menilai, dampak El-Nino tahun lalu cukup membuat Indonesia waspada.

 

“Lagi-lagi pemerintah mampu mengantisipasinya sehingga dampaknya bisa dikatakan sangat minimal,” katanya. Namun dia mengingatkan, Indonesia harus benar-benar mempersiapkan diri mengantisipasi perubahan iklim. Tidak hanya periode kering, tapi juga saat terjadi peningkatan intensitas hujan.

 

Mark mengatakan, salah satu upayanya menyiasati perubahan iklim adalah melalui adaptasi tanaman pangan, pengelolaan sumberdaya tanah dan air secara optimal dan berkelanjutan. Selain itu, pengelolaan tanaman yang disesuaikan dengan kondisi iklim setempat, serta penggunaan sarana produksi pertanian yang efektif dan efisien. “Penerapan teknologi pertanian yang tepat guna dan adaptif,” ujarnya.

 

Mark mencontohkan, FAO telah merintis pengembangan pertanian konservasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Dua provinsi Indonesia bagian timur itu memang dikenal curah hujan yang rendah. Metode pertanian konservasi itu bertujuan mengurangi resiko bencana akibat perubahan iklim. “Kegiatan pertanian konservasi telah dilakukan sejak Oktober 2013,” katanya.

 

Beberapa penelitian di FAO menunjukkan Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara yang akan  paling menderita akibat perubahan iklim, terutama kekeringan dan banjir. Pasalnya, fenomena ini akan menurunkan produksi pangan dan kapasitas produksi.

 

“Misalnya, di Pulau Jawa karena perubahan iklim, diramalkan terjadi penurunan produksi sebesar 5% pada tahun 2025 dan penurunan 10% pada tahun 2050 mendatang,” ungkap Mark.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162