Loading...

Infrastruktur Mendukung, Panen di Blitar Melimpah

15:44 WIB | Saturday, 13-January-2018 | Nusantara | Penulis : Clara Agustin

 

 

Dukungan infrastruktur pertanian yang kini mulai banyak diperbaiki membuat usaha tani berjalan lancer. Dampaknya, panen pun tetap berlangsung, meski di masa-masa paceklik.

 

 

 

Contohnya, Di Kab. Blitar, Jawa Timur, setiap tahun hasil panen selalu surplus. Seperti yang diutarakan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Blitar, Eko Priyo Utomo bahwa setiap tahun Blitar selalu surplus beras 80-120 ribu ton. "Kita tidak perlu impor karena hasilnya selalu surplus," tegasnya saat Panen di Desa Jati Tengah, Kec. Selopuro, Kab. Blitar, Jawa Timur, Jum'at (12/1).

 

Langganan surplus beras di Blitar ini memang dilihat dari infrastruktur, terutama jaringan irigasinya berfungsi dengan baik. Jadi tak heran dalam setahun mampu tanam padi hingga 3 kali. Bahkan pada Januari 2018 akan ada panen seluas 1.300 ha dan akan meningkat sampai Maret. "Petani mampu memanfaatkan air dengan baik. Tidak pernah kekeringan dan bantuan pompa melimpah," tambah Eko.

 

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian), M. Syakir mengatakan, masalah yang dihadapi pertanian Indonesian sulit mencapai swasembada adalah masalah pengairan. Karena itu Presiden RI, Joko Widodo menginstruksikan untuk dapat segera memperbaiki sistem pengairan. "Kita perbaiki jaringan irigasi yang rusak sebanyak 3 juta ha, lalu buat embung sebanyak 3 ribu unit, dan kita beri bantuan pompa dalam jumlah yang banyak," kata Syakir.

 

Dengan pengairan yang baik ini, kegiatan usaha tani tidak hanya dilakukan di lahan irigasi, melainkan lahan sub optimal juga dapat dimanfaatkan. Jika sebelumnya lahan sub optimal hanya dapat ditanam sekali, maka dengan manajemen pengairan melalui pompanisasi bisa tanam hingga 2-3 kali, serta efisiensi waktu hingga 20%.

 

Infrasturktur yang memadai ini turut dirasakan petani di Blitar. Seperti yang diutarakan petani dari Kelompok Tani Barokah I, Sukadi. Di Desa Jatin Tengah, air selalu tersedia. Bahkan ketika panen di musim kemarau, hasilnya lebih baik.

 

"Kalau sekarang hasilnya memang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Jika biasanya 6,5-7 ton/ha, sekarang jadi 8,5 ton/ha. Kita menggunakan varietas baru, varietas malindo. Tapi hasil akan lebih meningkat lagi di saat musim kemarau, bisa mencapai 9 ton/ha," tuturnya.

 

Bukan hasilnya saja yang meningkat, harganya pun turut merangkak. Sukadi mengatakan harga gabah di petani pada Januari 2018 ini naik. Biasanya Rp 4 ribu/kg, sekarang Rp 5.500/kg. "Kita senang sekali harganya bagus. Kalau boleh berharap segitu terus harganya. Jangan turun lagi," harapnya.

 

Bantuan yang diberikan pemerintah pun tidak pernah luput selalu diterima petani. Menurut anggota Kelompok Tani Barokah I yang lain, Budi, benih selalu diberikan pemerintah. Pupuk bersubsidi selalu ada tidak pernah langka serta alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti traktor dan alat panen sudah terima.

 

"Bantuan semuanya lancar. Tapi kalau boleh meminta, kami ingin alat tanam (transplanter) karena selama ini masih manual. Biar kerja kita semakin cepat," pinta Budi. Cla

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162