Loading...

Inovasi, Melepas Indonesia dari Paceklik

16:49 WIB | Friday, 05-January-2018 | Pangan, Komoditi | Penulis : Gesha

Kepala Balitbang Pertanian, M. Syakir saat panen di majalengka

 

 

Panen padi telah bergulir sejak Desember lalu di beberapa wilayah Indonesia. Banyaknya wilayah yang telah panen, meski pada masa-masa paceklik tidak lepas dari peran inovasi teknologi.

 

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, M.Syakir mengungkapkan lepasnya status panceklik secara nasional tidak terlepas dari adanya sentuhan inovasi teknologi hingga inovasi bidang sosial kelembagaan dengan pembinaan. 

 

“Salah satunya dengan ketepatan waktu tanam. Dengan perubahan iklim yang terjadi, petani kini tidak bisa berpegangan pada waktu tanam yang dahulu," ungkapnya saat panen di Desa Paniis Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, Jumat (5/1).

 

Panen juga dihadiri Kepala BB Padi, M. Ismail Wahab; Kepala BB Mekanisasi Pertanian, Andi Nur Alam Syah; Kepala Dinas Pertanian Kab. Majalengka, Pasiter Kodim 0617 Majalengka dan Penyuluh Pertanian Kabupaten Majalengka.

 

Syakir mengatakan, tak hanya itu, penggunaan varietas unggul dan ketepatan penggunaan pupuk, penggunaan air hingga alat dan mesin pertanian (alsintan) yang disesuaikan dengan agroekosistem. Misalnya di Majalengka yang sebagian besar perbukitan, jenis combine harvester  yang digunakan bukan yang besar. 

 

"Kita akan desain dan buatkan alsintan yang portabel. Sehingga ke depannya, bukan hanya hamparan luas datar saja yang dipanen, tetapi juga daerah perbukitan bisa dilakukan panen secara massal," ungkap Syakir.

 

Khusus untuk varietas unggul, Syakir menambahkan Balitbang sudah mengeluarkan varietas adaptif terhadap curah hujan berkepanjangan. Untuk Jawa Barat ini, varietas yang cocok adalah jenis yang tahan wereng seperti Inpari 41, Inpari 42 dan Inpari 43. Sehingga bisa mengantisipasi serangan wereng.

 

Kepala Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPTP) Jawa Barat, Liferdi menambahkan, petani Majalengka merupakan salah satu kabupaten yang sangat mudah menerima inovasi teknologi dari Balitbang. Salah satunya varietas unggul baru. “Sudah ada tiga kecamatan yang menggunakan varietas Inpari 30 dan 32. Bahkan benihnya hasil penangkar sudah diekspor ke luar provinsi seperti Jawa Tengah," tuturnya.

 

Menurut Liferdi, salah satu petani di kecamatan  Jatitujuh sudah merasakan manfaat dari Inpari yang lebih tahan penyakit dan produktivitas yang meningkat dari sebelumnya hanya 4 ton/ha menjadi 7-8 ton/ha.

 

Produksi Naik 20%

 

Jaropi merupakan salah satu petani di Desa Paniis, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka yang mulai panen padi di awal tahun ini. Setidaknya di Kecamatan tersebut ada sekitar 20 ha yang dipanen yang secara bertahap akan panen hingga akhir Januari mendatang. 

 

Jaropi mengaku, bisa meningkatkan produksi padinya sebanyak 20% dengan adanya teknologi padi modern seperti varietas unggul, bantuan pupuk dan alsintan.  Varietas padi yang ditanam petani adalah Situ Patenggang, jenis padi gogo aromatik. Dengan luas ubinan mencapai 7.2 ton/ha, hasil produksi bisa mencapai 144 ton atau setara dengan 70 ton beras. 

 

Syakir mengungkapkan, untuk keseluruhan Majalengka ada panen di Januari sekitar 2.975 ha, dengan produktivitas rata-rata kabupaten 5 ton/ha. Majalengka bisa menghasilkan setidaknya 15 ribu ton GKP atau setara 8 ribu-10 ribu ton beras. Jumlah tersebut tentunya menyumbang surplus beras bagi Provinsi Jawa Barat. Ada surplus 13.680 ton untuk Jabar pada Januari.

 

Adanya surplus ini tentunya membuktikan jika tidak ada lagi kamus panceklik dalam pangan Indonesia. "NKRI Harga Mati, Swasembada Pangan Harga Mati,” tegas Syakir. Gsh

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162