Loading...

Kapal Bambu Perdana Ala ITS Curi Perhatian Susi

16:41 WIB | Tuesday, 03-July-2018 | Non Komoditi | Penulis : Indarto

Kapal Baito Deling ITS curi perhatian Susi

Membuat kapal berbahan baku kayu atau fiber glass bukan hal baru lagi dilakukan sejumlah galangan kapal di tanah air. Kini, melalui inovasi teknologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mulai mengembangkan kapal berbahan bambu laminasi.

 

Kapal unik berjuluk Baito Deling 001 besutan ITS tersebut tercatat merupakan kapal pertama di dunia dan mencuri perhatian Menteri Perikanan dan Kelautan, Susi Pudjiastuti dalam peluncurannya di Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran, Surabaya, Senin (2/7).

 

Menurut Susi, dari dahulu bambu sudah digunakan manusia untuk membuat segala keperluan, mulai dari rumah hingga peralatan rumah. Bahkan, bambu memiliki nilai ekonomis yang tinggi kalau ada inovasinya. "Kapal berbahan dasar bambu ini sangat inovatif. Kami akan membantu sertifikasi Kapal Baito Deling dan jika sudah siap nantinya akan diproduksi secara masal," katanya.

 

Susi juga berharap kapal bambu buatan ITS ini diharapkan bisa dimanfaatkan dan  dipergunakan oleh para nelayan. “Ini sebuah pilihan di tengah mahalnya kapal berbahan baku kayu dari nelayan,” ujarnya.

 

Dalam kesempatan yang sama, Dr Ir Heri Supomo MSc sebagai inventor dan Ketua Tim Baito Deling Research menjelaskan bahwa kelangsungan industri kecil menengah (IKM) galangan kapal berbahan kayu menjadi tidak menentu akibat tingginya harga jual kayu di pasaran. Hal ini disebabkan oleh penebangan liar yang tidak diiringi reboisasi dan berimbas pada meroketnya harga kapal kayu di Indonesia.

 

Menyikapi hal tersebut, melalui penelitian yang berlangsung sejak tahun 2012 ia menghadirkan sebuah terobosan baru penggunaan material bambu pada kapal tangkap ikan Baito Deling 001.  "Kapal ini mampu menekan biaya hingga 60 persen, menjadikan bambu sebagai material alternatif masa depan,” kata dosen Teknik Perkapalan ITS tersebut.

 

Menurut Heri, kapal berbahan bambu memiliki banyak keunggulan. Diantaranya,  bahannya melimpah, lebih murah, kekuatan tarik dan tekuk lebih besar dari kayu, dan masa panen bambu 10 kali lebih cepat dibandingkan kayu. "Kami menggunakan  bambu petung dan bambu ori karena nilai kuat tarik dan tekuk sebesar 180 MPa dan 84 MPa, serta renggangan mencapai 8,93 persen. Bahan bambu ini  lebih baik daripada kayu jati. Semakin terkena air laut bambu itu akan semakin kuat," jelasnya.

 

Rektor ITS, Joni Hermana mengungkapkan rasa bangganya atas peluncuran kapal yang sudah memiliki dua hak paten dan mendapat dukungan dari banyak institusi pemerintahan ini. Salah satunya dari PT Pembangkit Jawa Bali (PJB), Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan beberapa pemerintah daerah di Indonesia. 

 

Bahkan, secara Skhusus Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Erzladi Rosman Djohan menyatakan ketertarikannya untuk mengaplikasikan Baito Deling di kepulauan Babel.  "Hal ini menjadi sebagai bentuk komitmen ITS untuk menjawab permasalahan masyarakat," ujar Joni.

 

Joni juga mengatakan,  penelitian ini mendapatkan penghargaan The Distinction Medal dari The Royal Institution of Naval Architects (RINA), sebuah organisasi terbesar yang menaungi bidang perkapalan sejak tahun 1860 yang bermarkas di Inggris. “Inovasi ini mengingatkan saya pada pesan Bung Karno agar ITS  terus mengembngkan kelautan dan perkapalan Indonesia,” kata Joni. (idt)

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162