Loading...

Kebijakan Pangan Masih Terfokus Peningkatan Produksi

14:30 WIB | Friday, 22-July-2016 | Nasional | Penulis : Tiara Dianing Tyas

Herman Khaeron (tengah) usai sidang promosi Doktor di Universitas Padjajaran, Bandung

Kebijakan pangan pemerintah yang pemerintah lakukan hingga kini masih terfokus pada peningkatan produksi. Bahkan penerapannya masih dilakukan secara parsial dan belum ada strategi diversifikasi yang terintegrasi.

 

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron dalam Sidang Promosi Doktor di Universitas Padjajaran yang berjudul Model Pengembangan Diversifikasi Pangan Dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional di Bandung, Kamis (21/7). “Faktanya program dan anggaran hanya terfokus pada padi, jagung dan kedelai,” ujarnya.

 

Akibatnya, terjadi ketimpangan konsumsi beras dengan konsumsi pangan alternatif seperti pangan hewani, ikan, umbi-umbian, sayur dan buah-buahan. Untuk itu, Herman meminta, pemerintah melakukan perubahan fundamental berupa kebijakan diversifikasi pangan spesifik berbasis sumber daya lokal. “Ini untuk mendukung ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan nasional,” ujarnya.

 

Dari penelitian yang dilakukan Doktor Universitas Padjadjaran Bandung ini di lima kabupaten yaitu, Cirebon, Garut, Puwakarta, Cianjur dan Sukabumi menggambarkan rata-rata konsumsi pangan belum mencerminkan diversifikasi pangan, karena ada bias terhadap beras dan mie instan.

 

Pola produksi dan pola distribusi pangan masyarakat juga ia nilai belum mendukung diversifikasi pangan. Bahkan meski menjadi salah satu sentra produksi pangan, tingkat ketahanan pangan masyarakat Jabar terkategori rendah. Baik dalam segi ketersediaan dan pemandaatan pangan. Namun diakui, relatif tinggi dalam segi kesesuaian dan keterjangkauan pangan.

 

Meski pangan tersedia, menurut Herman, namun tidak merata. Cenderung homogen pada beras dan mie instan. Hasil penelitiaan menunjukkan sebagian besar (56,47%) masyarakat belum memperhatikan manfaat pangan. Akibatnya, nilai gizinya kurang berimbang dan bernutrisi.

 

Menurutnya, secara fisikal, sosial, ekonomikal dan psikologi sangat kecil persentase masyarakat pedesaan dan perkotaan yang benar-benar berakses tinggi terhadap pangan. Kurang kuatnya ketahanan pangan masyarakat ini tidak terlepas dari pengaruh faktor lemahnya budaya dan praktik diversifikasi pangan.

 

Terkait dengan ketersediaan dan pemanfaatan pangan. Herman mengungkapkan, kelompok yang paling rendah tingkat ketahanan pangannya perlu mendapat penguatan khusus melalui pemberdayaan masyarakat. “Yang terpenting baginya, bagaimana agar budaya diversifikasi dan kemandirian pangan diinternalisasi kembali pada masyarakat dan kelembangaan di Jabar,” katanya.

 

Dia mengusulkan, model diversifikasi pangan yang dikembangkan haruslah berdasarkan pendekatan humanis dan bersifat kolaboratif, partisipatif dan integratif diantara seluruh elemen terkait. Model ini bukan hanya mengedepankan penghargaan terhadap komoditas dan nilai global, tapi mengedepankan moral, keragaman hayati milik negeri. “Ini merupakan model pengembangan diversifikasi, ketahanan dan kedaulatan pangan yang demokratis,” ujarnya. Tia

 

 

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162