Loading...

Kelola Pasar Daging, Lihatlah Singapura dan Malaysia

19:03 WIB | Friday, 03-November-2017 | Olahan Pasar, Non Komoditi | Penulis : Kontributor

Ada perbedaan mencolok kondisi pasar daging di Indonesia dengan dua negara tetangga kita, yakni Singapura dan Malaysia. Banyak syarat yang harus dipenuhi pelaku usaha daging di dua negara tersebut. Indonesia patut mencontoh.

 

Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Yeka Hendra Patika mengatakan, dari hasil observasi Pataka, ada perbedaan cukup besar dalam pemasaran daging di Malaysia dan Singapura. Di dua negara tersebut, pelaku atau pedagang pasar wajib memiliki ijin usaha. Sedangkan dalam pengawalan harga di Malaysia dilakukan Dewan Bandar Raya, Kuala Lumpur. Di Singapura dilakukan National Environment Afency (NEA).

 

Soal harga Yeka mengatakan, harga daging di dua negara tersebut cukup bervariasi. Misalnya, di Malaysia harga daging paha depan bisa mencapai Rp 190 ribu/kg dan daging belakang Rp 390 ribu/kg. Adapun di Singapura di salah satu pasar harga daging paha depan mencapai Rp 180 ribu/kg dan daging paha belakang Rp 430 ribu/kg. Namun demikian, secara umum harga daging paha depan dan paha belakang di kedua Negara tersebut di atas Rp 100 ribu/kg.

 

Yeka mengungkapkan, dari hasil observasi ke konsumen, harga daging kerbau di Malaysia Rp 75 ribu/kg dan daging sapi Rp 113 ribu/kg. Sementara harga daging sapi di Singapura mencapai Rp 125 ribu/kg. Daging kerbau tidak diperdagangkan di Singapura. “Dengan harga tersebut, terlihat harga daging sapi dan kerbau tidak terlalu beda jauh dengan Indonesia,” katanya dalam Diskusi Menata Pasar Daging yang Tersegmentasi di Jakarta, Kamis (2/11).

 

Namun Yeka melihat ada hal yang sangat penting yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah terhadap prilaku pasar daging di Malaysia dan Singapura itu. Pertama, pelaku pasar di dua negara tersebut konsen terhadap perijinan dan tiap tahun selalu merevisi perijinan. Kedua, pemerintahnya sama-sama melakukan infeksi fasilitas kebersihan, harga, keamanan, termasuk kebakaran. “Lebih penting lagi, pedagang di Malaysia dan Singapura diimunisasi,” ujarnya.

 

Konsumsi Daging

 

Dari sisi konsumsi, Yeka juga melihat, konsumsi masyarakat Indonesia masih rendah. Di Indonesia, dengan penduduk 250 juta dan pertumbuhan 1,4% pertahun, konsumsi dagingnya baru 23,1 kg/kapita/tahun. Adapun Malaysia yang jumlah penduduknya mencapai 30 juta jiwa dan pertumbuhan penduduk 1,5% pertahun, konsumsi dagingnya sebanyak 18,9 kg/kapita/tahun.

 

Begitu juga di Singapura. Dengan penduduk 5,6 juta jiwa dan pertumbuhan penduduk 1,3% pertahun, konsumsi dagingnya mencapai 13,5 kg/kapita. “Jika dilihat dibandingkan dua negara tersebut, tingkat konsumsi daging masih rendah,” katanya.

 

Menananggapi pasar daging yang terjadi saat ini, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Fini Murfiani mengatakan, pemerintah akan memperbaiki infrastruktur pasar, terutama pasar di Jakarta yang menjadi barometer pasar di Indonesia. Ke depan, persoalan produk yang memenuhi standar Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) akan menjadi perhatian pemerintah, termasuk rantai dingin.

 

“Kepada pelaku usaha, di balik bisnis, ingat ada bisnis peternak, sehingga harus ada partnership. Pengawasan juga akan kita optimalkan, apalagi sekarang sudah ada satgas pangan,” ujar Fini mengingatkan.

 

Sementara itu untuk meningkatkan populasi sapi upaya pemerintah adalah dengan Upaya Khusus Sapi Wajib Bunting (Upsus Siwab). Pada tahun 2017, dari target 4 juta akseptor sudah 3 juta sapi yang di IB. Dari jumlah tersebut yang sudah bunting sekitar 40%. Yolanda/Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162