Loading...

Kemandirian Pakan Ternak Unggas

15:27 WIB | Wednesday, 18-September-2013 | Mentan Menyapa | Penulis : Ahmad Soim

Pembaca. Petani di mana pun Anda berada. Alhamdulillah, produk perunggasan negeri kita yaitu telur dan daging sudah bisa swasembada. Sebut saja, broiler (ayam pedaging) dan layer (ayam petelur) maupun ayam dan itik lokal sudah sejak lama swasembada. Daging karkas ayam lokal atau kampung meski produksinya tidak besar, sudah menjadi komoditi unggul sejak lama. Kontribusi daging ayam ini bisa mencapai lebih dari 65 persen dari total konsumsi daging nasional.

 

Komoditas unggas sebagai pendorong utama penyediaan protein hewani nasional ini produksinya terus meningkat setiap tahun. Diimbangi dengan kenaikan produksi pakan ternak yang cukup signifikan. Sebagai contoh, produksi pakan ternak di 2010 sebanyak 9,9 juta ton menjadi 12,9 juta ton di 2012. Sejalan dengan meningkatnya produksi pakan ternak, kebutuhan akan jagung sebagai bahan baku utama pakan unggas, naik secara nyata. Diproyeksikan masing-masing pada tahun 2010 dan tahun 2020, impor jagung dapat mencapai 4 juta ton dan 8 juta ton. Sehingga memang swasembada jagung menjadi tuntutan untuk membantu kemandirian pakan unggas. Ini menjadi tugas kita bersama.

 

Pembaca, hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa pakan menjadi salahsatu komponen penting dalam industri perunggasan. Biaya produksi dari pakan dapat mencapai sekitar 80 persen. Tingginya biaya produksi unggas disebabkan oleh sebagian besar bahan baku pakan masih diimpor. Untuk itu berbagai upaya harus kita tempuh untuk mengurangi impor bahan baku dan menurunkan biaya produksi dalam industri perunggasan yang berasal dari pakan.

 

Salahsatunya melalui pemanfaatan bahan baku lokal alternatif agar dapat mengatasi ketika pakan ayam pabrikan harganya meninggi. Untuk itulah Kementerian Pertanian mendorong dan melakukan inovasi dalam komposisi pakan unggas, mencari bahan baku alternatif  serta penggunaan teknologi sederhana dalam pengolahannya misal dengan gilingan, diharapkan biaya bisa lebih hemat namun nutrisi ternak unggas tetap terpenuhi. Dengan harapan bahan pakan lokal alternatif ini tetap memenuhi kriteria tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, mudah diperoleh dan dapat diproduksi secara berkelanjutan. 

 

Salahsatunya dengan pemanfaatan dan pengembangan limbah hasil pertanian dan perkebunan sebagai pakan unggas, beberapa di antaranya memiliki kandungan nutrisi setara dengan pakan standar (pakan kosentrat dari pabrikan). Mutu pakan limbah hasil pertanian dan perkebunan ini ditingkatkan melalui pengolahan dengan metoda fisik, kimia, biologis maupun kombinasinya. Limbah hasil pertanian dan perkebunan ini cukup tersedia di Indonesia dan pemanfaatannya baru mencapai 30-40% dari potensi yang tersedia. Menjadikannya bahan pakan alternatif yang sangat berpotensi.

 

Selain itu ada berbagai jenis bahan baku lokal yang telah dianalisa kandungan nutrisinya yang mempunyai potensi untuk digunakan sebagai bahan baku pakan ternak unggas seperti eceng gondok, daun pepaya, daun turi, batang pisang, daun kangkung, ampas kelapa parut, daun ubi kayu, talas (umbi dan daun),  beras dolog (catu), beras aking, tepung tulang atau tepung cangkang kerang (keong), ampas tahu, tepung cacing tanah, tepung cangkang udang kering, tepung bekicot atau pun keong mas, ampas sagu dan masih banyak lagi. Potensi ini jelas membutuhkan eksplorasi terus menerus dari kita semua, terutama peneliti dan penyuluh di lapangan.

 

Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 081317575066).

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162