Loading...

Kementan-PBNU Kian Mesra, Tanam Perdana Jagung Serentak

12:32 WIB | Monday, 10-September-2018 | Nasional | Penulis : Julianto

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman (tengah, peci hitam) saat pencanangan tanam jagung serentak kerjasama dengan PBNU, di Kabupaten Pringsewu, Lampung.

Hubungan Kementerian Pertanian dan PBNU kian erat. Setelah beberapa kali berkunjung ke kantor pusat PBNU, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman kini bersama PBNU melakukan tanam perdana jagung serentak di seluruh Indonesia seluas 73.051 hektar (ha).

 

Dengan melibatkan kalangan pesantren, tanam perdana jagung dipusatkan di Kabupaten Pringsewu, Lampung, Selasa (4/9). Penanaman serentak berlangsung di Lampung, Bengkulu, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Timur dan NTB.

 

Kegiatan itu dihadiri Ketua Bidang Ekonomi PBNU, Umarsyah; Asisten Teritorial Angkatan Darat, Mayjen TNI Supartodi; anggota DPD RI, Anang Prihantoro dan Bupati Pringsewu, Sujadi. Hadir juga Direktur Pengadaan Perum Bulog, Bachtiar.

 

Ketua Bidang Ekonomi PBNU, Umarsyah mengatakan, kerja sama dengan Kementan dimaksudkan untuk mendorong peningkatan produksi jagung, sehingga swasembada terus terjaga dan petani semakin sejahtera. Selain itu juga untuk menyelesaikan segala persoalan petani. Misalnya kesulitan modal petani dan harga jatuh saat panen raya.

 

“Inilah tujuan PBNU berjalan bareng Kementan untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan membangun mitra kerja. Kami ajak BNI dan BRI memberikan kredit usaha rakyat kepada petani dengan bunga rendah,” ujarnya. Dengan demikian, petani tidak lagi kesulitan modal untuk usaha tani. Ketika panen, Kementan memberikan pengering jagung dan menyediakan pembeli, sehingga tidak perlu kuatir harga jatuh walaupun rendemen rendah.

 

Ke depan, lanjut Umarsyah, kerja sama Kementan dengan PBNU tidak hanya budidaya jagung, tetapi juga pengembangan padi dan kedelai. Dengan begitu, swasembada padi, jagung dan kedelai bisa diwujudkan. “Ini penting agar keanehan negara kita yang subur yaitu impor bisa terhapuskan. Indonesia tidak lagi sedikit-sedikit impor. Ini harus kita hentikan,” tegasnya.

 

Target 100 Ribu Ha

 

Menteri Amran mengatakan, tanam perdana jagung ini merupakan realisasi dari kerja sama Kementan dengan PBNU tahun 2018 yang totalnya mencapai 100 ribu ha. Kerja sama ini dimaksudkan untuk mendorong peningkatan produksi jagung nasional, sehingga ekspor bisa ditingkatkan dan berdampak pada perekonomian umat. “Hal tersebut sejalan dengan apa yang diinginkan Presiden Joko Widodo untuk mengentaskan kemiskinan,” ujarnya.

 

Berdasarkan Angka Ramalan (ARAM) I Produksi Tanaman Pangan 2018, produksi jagung 2018 ditargetkan 30,05 juta ton atau naik 7,34% dari 2017. Provinsi Lampung merupakan salah satu sentra produksi jagung dengan kontribusinya terhadap produksi nasional mencapai 8,6%.

 

Amran optimis target ini bisa dicapai karena luas panen jagung tahun ini mencapai 5,73 juta ha. Khusus di Lampung, luas panen jagung mencapai 486.313 ha dengan produktivitasnya 5,3 ton/ha, sehingga total produksi mencapai 2,58 juta ton.

 

Dalam empat tahun terakhir, produksi jagung meningkat secara signifikan. Data BPS, pada tahun 2014 produksi jagung di Indonesia masih sebesar 19 juta ton. Peningkatan produksi mulai terjadi pada tahun 2015 menjadi 19,6 juta ton. Pada tahun 2016 produksi masih melanjutkan tren peningkatan dengan capaian produksi 23,6 juta ton. Puncaknya, pada tahun 2017 produksi jagung sudah mencapai 28,94 juta ton.

 

“Produksi ini meningkat 22,4% dibanding tahun sebelumnya. Alhasil, Indonesia tidak mengimpor jagung pada tahun 2017, bahkan tahun ini kita telah ekspor ke berbagai negara. Tak hanya jagung, ekspor komoditas pertanian tahun 2017 naik 24%,” kata Amran.

 

Padahal pada 2015, Amran mengakui, Indonesia masih impor jagung sebanyak 3,5 juta ton. Namun dengan gerakan Upsus Jagung, mulai tahun 2016 impor turun 62% dan 2017 tidak ada lagi impor jagung untuk pakan ternak. Tahun 2018 ini, Indonesia sudah ekspor jagung ratusan ribu ton.

 

Menurut Amran, jika tidak ada program Upsus Pajale, maka diperkirakan akan ada impor jagung untuk pakan ternak sebanyak 4-5 juta ton. Bahkan keberhasilan Indonesia meningkatkan jagung diapresiasi Presiden Namibia, Hage Gottfried Geingob. “Kita kini mampu swasembada pangan dan mengekspor jagung dengan sistem pengairan di area persawahan yang baik tanpa terpengaruh musim,” tuturnya.

 

Bantuan Pemerintah

 

Sementara itu Bupati Pringsewu, Sujadi mengapresiasi program dan bantuan pemerintah di antaranya berupa alat mesin pertanian, benih jagung dan padi. Menurutnya, berbagai bantuan tersebut sangat bermanfaat bagi petani, sehingga Kabupaten Pringsewu bisa mempertahankan swasembada pangan. “Mari kita sambut dan sukseskan program Kementan, sehingga pangan Indonesia terus tersedia,” ujarnya.

 

Dalam kerja sama dengan PBNU, Kementerian Pertanian memberikan bantuan benih jagung di Pringsewu sebanyak 45 ton untuk 3.006 ha yang nilainya mencapai Rp 1,9 miliar. Bantuan lainnya untuk Pemda Pringsewu berupa benih padi gogo untuk luas tanam 1.050 ha, traktor 2 roda 10 unit, pompa air 10 unit dan cultivator 5 unit.

 

Selain itu, Kementan juga memberikan bantuan untuk Provinsi Lampung berupa bibit kopi robusta 830 ha sebanyak 830.000 batang, peremajaan kakao 270 ha dengan bantuan bibit 270.000 batang, rehabilitasi lada 1.125 ha bantuan bibitnya 900.000 batang dan rehabilitasi pala 200 ha bantuan bibitnya 12.000 batang. Yul/Ditjen PSP

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162