Loading...

Kementan Siapkan 40% Kebutuhan Benih Jagung Hibrida Nasional

12:22 WIB | Thursday, 07-June-2018 | Pangan | Penulis : Gesha

Jagung Hibrida hasil pengembangan Balitbangtan

Di tahun 2025 mendatang, pemerintah sudah menargetkan produksi jagung sebesar 33,13 juta ton. Berarti, capaian produksi akan meningkat sebanyak 40,5% dari tahun 2016 silam. Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) akan mempersiapkan 40% kebutuhan benih jagung hibrida nasional.

 

Jagung hibrida sudah terbukti bisa meningkatkan produktivitas nasional jika dibandingkan dengan jagung komposit biasa. Karena itu, pemerintah mengharapkan petani menggunakan benih jagung hibrida nasional. Sayangnya, hingga kini penggunaan jagung hibrida masih rendah.

 

“Sekitar 44% atau 1,95 juta ha lahan petani masih menggunakan benih jagung komposit dengan produktivitas rendah. Tingkat produktivitasnya 3,32 - 5,31 ton per hektare atau 30 - 70% lebih rendah dibandingkan jagung hibrida yang mencapai 8,02-10,31 ton per hektare. Benih jagung hibrida ini memang lebih mahal sekitar 5 kali lipat dibandingkan harga benih jagung komposit,” ungkap Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Moh. Ismail Wahab.

 

Balitbang Pertanian, Kementan sendiri telah menghasilkan sekitar 29 varietas unggul jagung hibrida dengan potensi hasil konsumsi mencapai 13,6 ton per hektare. Sedangkan intuk mencapai target benih sebar (BR), Balitbangtan melakukan kerja sama lisensi guna memperoleh mitra yang berperan sebagai produsen. 

 

Ismail menjelaskan, dalam rangka mempercepat dan meningkatkan adopsi varietas jagung hibrida, Kementan memberikan porsi bantuan benih bersubsidi varietas jagung hibrida sebanyak 40 persen atau sekitar 1.120.122 hektare dari total 3 juta hektare luas jagung yang mendapat bantuan pemerintah. 

 

“Dari luasan 1,1 juta hektare tersebut dibutuhkan sekitar 16 juta kilogram benih jagung. Harapan kami, benih jagung hibrida ini dapat menggantikan jagung komposit seperti varietas Arjuna, Bisma, Lamuru, dan Sukmaraga yang masih menjadi favorit petani,” papar Ismail. 

 

Pengembangan benih jagung hibrida juga didasarkan pada kebutuhan benih yang dapat digunakan di lahan suboptimal. Untuk itu, Balitbangkan mengembangkan Benih jagung hibrida yang juga dapat dikembangkan di lahan kering di luar Jawa. 

 

“Dengan target produksi tahun 2025 yang capai sekitar 33 juta ton, maka target luas tanam jagung tahun 2025 digenjot menjadi sekitar 5,88 juta hektare atau meningkat 32,4% dibandingkan luas panen jagung tahun 2016 yang mencapai 4,44 juta hektare. Untuk capai target tersebut, benih jagung hibrida yang dikembangkan harus bisa dimanfaatkan oleh petani lahan subooptimal,” ujarnya. (gsh)

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162