Loading...

Kementerian Pertanian Fasilitasi Terwujudnya Museum Pertanian

22:57 WIB | Thursday, 28-June-2018 | Nasional | Penulis : Ahmad Soim

Kementerian Pertanian memfasilitasi terwujudnya Museum Pertanian dengan menyediakan gedung, anggaran dan tim pokja pembentukan museum pertanian.

 

 

 

“Kita targetkan Museum Pertanian   bisa diresmikan pada tanggal 25 Maret 2019. Tim Pokja ada, sarana ada, tempat ada. Tinggal kerja. Pada Focus Group Discussion (FGD) ini diperkuat lagi agenda-agendanya sampai bisa diresmikan,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro saat membuka FGD  Museum Pertanian di Gedung Museum Tanah di Jl Ir H Juanda Bogor. Di gedung inilah rencananya didirikan Museum Pertanian.

 

 

 

Kementerian Pertanian lanjut Sekjen berencana memperluas tugas pokok dan fungsi Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (Pustaka) juga menangani museum dan arsip, sehingga ada rencana Pustaka menjadi Pustaka, Museum dan Kearsipan Pertanian.

 

 

 

Hadir pada FGD ini antara lain para penggagas Museum Pertanian yakni Menteri Pertanian Sjarifudin Baharsjah, Menteri Pertanian Justika Baharsjah, Menteri Pertanian Suswono, Tokoh Perkebunan Soedjai Kartasasmita, Pemimpin Umum Tabloid Sinar Tani Ahmad Saubari P, Dr Memed Gunawan mantan Sekjen Kementan, Dr. A Rahadian Hidayat mantan Irjen Kementan.

 

 

 

Sebagai nara sumber hadir pakar museum Prof Wagiono Sunarto dan Dr Yuke Andiati dari Museum Kepresidenan. Ikut memberikan sumbangan pemikiran dalam FGD ini antara lain perwakilan-perwakilan dari museum-museum sekitar Jawa Barat dan Dinas Pariwisata Bogor serta para peserta lainnya.

 

 

 

Nara sumber dan para peserta mendiskusikan nama museum, grand design museum, rancangan storyline museum, dan teknis pelaksanaan untuk segera mewujudkan museum ini.

 

 

 

Prof Wagiono dari Museum Nasional Jakarta mengatakan pemilihan tempat Museum Pertanian di Gedung Museum Tanah di Bogor sangat bagus. “Gedung Museum Tanah ini memiliki karisma tertentu,” tambahnya.

 

 

 

Prof Wagiono menginginkan agar museum ini disamping merupakan situs dan koleksi juga menggambarkan optimisme pertanian masa depan, termasuk untuk generasi muda.

 

 

 

Mengingat waktu yang tersedia hingga saatnya museum ini akan diresmikan sangat terbatas, Prof Wagiono mengatakan mungkin diperlukan keputusan-keputusan Menteri Pertanian secara langsung karena sangat mungkin adanya kompleksitas masalah yang ditemukan.

 

 

 

Dr Yuke Ardiati dari Museum Kepresidenan menambahkan dengan target museum ini adalah juga generasi muda dan generasi milenial perkotaan, maka storyline yang dibuat perlu atraktif, komunikatif yang dipadukan konsep IT.

 

 

 

“Pelibatan anak bawah lima tahun (balita) dalam museum ini dengan mengadakan disain dan ruang untuk mereka akan membuka pasar baru museum ini,” tambahnya.

 

 

 

Prof. Sjarifudin Baharsjah  mengusulkan tema Museum Pertanian adalah “Lingking the wealth of our natural resources to the future of our nation” (menghubungkan kekayaan sumber daya alam kita dengan masa depan bangsa kita).

 

 

 

“Museum Pertanian juga  menggambarkan orang orang yang berkecimpung di dalamnya untuk menarik kunjungan anak dan remaja ke museum ini. Dengan begitu kita ingin membangun kebanggaan mereka pada kekayaan alam dan pertanian kita, agar timbul hasrat mereka untuk ikut membangan bangsa ini,” tambahnya.

 

 

 

Soedjai Kartasasmita yang juga  menggagas ide merujudkan museum pertanian menambahkan pentingnya masuknya masa depan pertanian Indonesia dalam museum ini. “Pertanian kedepan akan mengalami  transformasi kembali ke alam,  ini ada kaitannya dengan makanan yang sehat dan menjaga lingkungan. Sain tentang agroekologi harus dibesarkan, teknologi berdasarkan agroekologi, culture harus dijadikan pertimbangan, misalnya pupuk anorganik jadi kompos, pestisida dikurangi penggunaannya, atau diganti, ini futurenya pertanian,” jelasnya.

 

 

 

Menteri Pertanian Suswono mengatakan perlu ada juga dirumuskan  indikator keberhasilan dari museum ini, yakni pengunjung  mau menceritakan. “Kalau nggak cerita berarti tidak ada yang menarik.  Kuncinya nanti harus ada inovasi dalam museum pertanian,” tambahnya.  

 

 

 

Tentang anggaran dan pembiayaan Museum Pertanian yang sudah disediakan Kementan, Soedjai Kartasasmita sangat mendukung. Namun demikian para penggagas juga   sejak awal sudah menyiapkan Yayasan Museum Pertanian untuk manajemen dan pengembangan pendanaannya. “Yayasan ini bisa bergerak untuk mendapatkan donator dan sumber sumber lain untuk membiayai kehidupan dan pengembangan museum ini secara berkelanjutan,” tambahnya.

 

 

 

Untuk dukungan anggaran Museum Pertanian dari Kementan sedang disiapkan SK Menteri Pertanian tentang pendirian museum pertanian.

 

 

 

Selain itu peserta FGD juga mengusulkan agar ada SK Mentan tentang pengelolaan museum dan pelibatan masyarakat/Yayasan.  Fakta lapangan menunjukkan bahwa museum yang hidup dan berkembang di Indonesia pada umumnya dikelola oleh swasta atau Yayasan. Som

 

  

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162