Loading...

Kerjasama Pemanfaatan Inovasi Pertanian Untuk SDM Berdaya Saing

15:20 WIB | Wednesday, 04-July-2018 | Nasional | Penulis : Kontributor

Kepala Balitbang Pertanian, M. Syakir (paling kanan) bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan tenaga Atom Nasional (BATAN) dan dua universitas yaitu Institut Pertanian Bogor dan Universitas Brawijaya.

Peningkatan sumberdaya manusia (SDM) yang berdaya saing untuk pangan dan pertanian Indonesia tidak bisa dilakukan sendiri oleh Kementerian Pertanian, karena itu perlu kerjasama jejaring yang kuat khususnya dalam pemanfaatan inovasi teknologi.

 

Menyadari potensi-potensi yang ada di lembaga lain cukup besar, Kementan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) membuka diri untuk melakukan kerjasama yang bisa memberikan manfaat lebih bagi bangsa.

 

Terbaru, Balitbang Pertanian bergandengan dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan tenaga Atom Nasional (BATAN) dan dua universitas yaitu Institut Pertanian Bogor dan Universitas Brawijaya untuk melakukan penandatanganan kesepakatan bersama tentang kerjasama penelitian, pengembangan dan pemanfaatan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi bidang pertanian.

 

Kesepakatan itu ditandatangani Selasa (3/7) pada saat pembukaan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI di Hotel Bidakara, Jakarta. WNPG sendiri merupakan forum multistakeholder antara akademisi, pemerintah, industri dan masyarakat untuk memberi rekomendasi arah perubahan kebijakan pangan dan gizi di Indonesia.

 

Kegiatan WNPG  ini fokus membahas mengenai percepatan penurunan dan pencegahan stunting untuk sumberdaya manusia Indonesia yang berdaya saing.

 

Kepala Balitbang Pertanian, Muhammad Syakir mengaku akan langsung menindaklanjuti nota kesepahaman tersebut bersama-sama para pihak untuk menyusun rencana riset pangan terpadu serta pendampingan, khususnya dalam penurunan dan pencegahan stunting.

 

Untuk diketahui, Balitbang Pertanian merupakan lembaga riset pertanian di bawah Kementan yang memiliki beragam inovasi teknologi  termasuk pangan (pasca panen dan pengolahan) yang berguna untuk asupan gizi bagi SDM Indonesia.

 

Cegah Stunting

 

Sementara itu, Kepala LIPI Laksana Tri Handoko menjelaskan bahwa pertanyaan pokok yang ingin dijawab dalam WNPG XI ini adalah bagaimana upaya untuk mempercepat efektivitas kebijakan, program dan strategi penurunan dan pencegahan stunting di Indonesia. “Tujuan penyelenggaraan WNPG XI untuk merumuskan strategi percepatan efektivitas kebijakan serta program pangan dan gizi terkait prevalensi stunting secara lintas pemangku kepentingan untuk lima tahun kedepan,” tambah Kepala LIPI.

 

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani yang hadir dalam kesempatan itu mengatakan, kasus malnutrisi seperti gizi buruk dan stunting masih menjadi persoalan di Indonesia. “Persoalan stunting pada anak akan berdampak pada kualitas sumberdaya manusia Indonesia kedepan, untuk itu penurunan stunting harus menjadi prioritas dalam upaya mewujudkan bangsa Indonesia yang maju dan berdaya saing,” jelas Menko PMK.

 

Terkait dengan riset pangan dan gizi kedepan, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengharapkan WNPG XI ini dapat menjadi arah dalam pengembangan riset pangan dan gizi agar hasil penelitian bisa berdampak langsung pada perbaikan kualitas sumberdaya manusia. “Secara spesifik, mampu berkontribusi pada pengurangan dan pencegahan stunting,” tutup Menristekdikti.

 

Selain Menko PMK dan Menristekdikti, pada pembukaan WNPG XI juga hadir Menteri PPN/Kepala Bappenas dan secara khusus ada pengarahan dari Wakil Presiden M. Jusuf Kalla yang merupakan penanggung jawab program nasional prevalensi stunting. (gsh)

 

 

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162