Loading...

Kesadaran Petani terhadap Keamanan Pestisida Masih Rendah

11:25 WIB | Monday, 17-April-2017 | Sarana & Prasarana, Non Komoditi | Penulis : Gesha

Pestisida kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari petani dalam mengatasi gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Sayangnya, di lapangan petani cenderung mengaplikasian pestisida  secara berlebihan. Berbahayanya lagi mereka tidak menggunakan alat pengaman.

 

“Padahal, penggunaan pestisida harus memenuhi syarat kehati-hatian,” ungkap Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Pending Dadih Permana saat membuka Seminar Sehari "Kajian Sosial, Ekonomi dan Keamanan Aplikasi Pestisida di Indonesia" di Bogor, Rabu (29/3). 

 

Kenyataan tersebut diperkuat hasil penelitian Dosen Fakultas Ekonomi Manajemen IPB, Dedi Budiman Hakim yang menunjukkan masih rendahnya kesadaran petani untuk mencegah terpaparnya pestisida atas kesehatan pribadi. Padahal menurutnya, pestisida, khususnya paraquat merupakan pestisida terbatas dan memiliki pengaruh kepada iritasi mata.

 

Belum lagi, kebiasaan petani yang masih jarang membaca langsung keterangan label dari pestisida yang digunakan. Terkadang pula takaran yang digunakan tidak terukur atau berlebihan.

 

Untuk mencegah bahaya penggunaan pestisida yang berlebihan, Ketua Tim penelitian Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Tommy Perdana menambahkan, pelatihan mengenai kehati-hatian dan terkait kesehatan sebaiknya melibatkan tenaga kesehatan di daerah. Pasalnya, biasanya petani tidak begitu menganggap ketika ada sosialisasi "keracunan" akan pestisida. 

 

Padahal saat pencampuran hingga pengaplikasian pestisida, petani minimal harus menggunakan pakaian lapang lengkap mulai dari pakaian panjang, celana panjang, masker, kacamata pelindung, apron hingga sepatu boots. “Selama ini mereka menganggap keracunan ringan seperti mual, pusing, iritasi kulit berupa panas dan gatal. Setelah tiga hari pun hilang sendiri. Sehingga mereka tidak menganggap penting. Itu yang perlu kita ubah,” tuturnya. 

 

Ketua Aliansi Stewardship Herbisida Terbatas (Alishter), Mulyadi Benteng menuturkan, pihaknya sudah memberikan pelatihan penggunaan paraquat bersama perusahaan pestisida yang berada dalam aliansi. Hingga tahun 2016, sudah ada pelatihan lebih dari ribuan petani di 22 provinsi mengenai penggunaan paraquat mulai dari pencampuran, pengaplikasian hingga pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan kerja.

 

Para peserta pelatihan ini juga sudah dilengkapi dengan sertifikat yang ditandatangani dari Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida di daerah. “Kami akui pengawasan pengaplikasian pestisida peserta setelah pelatihan akan terus digodok dan melibatkan KP3 di daerah,” katanya. Gsh

 

 

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162