Loading...

Kopi Gayo Bikin Bule Kesengsem

14:39 WIB | Monday, 11-January-2016 | Kebun, Komoditi | Penulis : Kontributor

Beberapa waktu lalu ada yang berbeda di Dataran Tinggi Gayo, Aceh.  Sekitar seratus lima puluhan warga asing alias bule dari kawasan Eropa seperti Finlandia, Inggris, Belanda, Norwegia, Swedia, plus warga asing dari Jepang, Korea, Hongkong, Singapura dan beberapa negara Asia lainnya tiba-tiba berduyun-duyun mendatangi sentra kopi tersebut.

 

Rombongan dari berbagai negara itu memang datang secara khusus ke Gayo karena penasaran terhadap salah satu komoditi perkebunan unggulan daerah ini yaitu kopi Arabika Gayo. Rombongan bule yang tergabung dalam Specialty Coffee Association of Eorope (SCAE) atau Asosiasi Specialty Kopi Eropa, sebuah organisasi yang didirikan di London 5 Juni 1998 yang eksis mengawasi standar mutu kopi yang dipasarkan di kawasan Eropa.

 

Dalam rombongan tersebut, petinggi SCAE seperti Cosimo Libardo (Italy) yang saat ini memegang kendali sebagai Presiden SCAE didampingi Alf Kramer (Norwegia), Thomas Abracaj (Polandia), Vincent Schlutter (Jerman), Challes Prager (Inggris) dan yang lainnya itu sengaja datang untuk melihat langsung seperti apa kopi gayo itu di negeri asalnya.

 

Dalam rombongan itu juga ikut nebeng  beberapa pengusaha, importir dan roaster terkenal dari berbagai negara Eropa seperti Italy, Swedia, Inggris, Belanda, Finlandia, Norwegia, Jerman dan dari beberapa Negara Asia seperti Hongkong, Korea dan Singapura. Mereka datang  bukan sekedar menyeruput secangkir kopi istimewa yang sudah populer di dunia itu.

 

Jika sekadar menikmati secangkir expresso gayo arabica coffee, tentu mereka tidak perlu jauh-jauh datang dari negaranya. Kafe-kafe di Eropa dan Amerika  sudah banyak yang menyajikan kopi dari Dataran Tinggi Gayo ini. Cukup merogoh beberapa dolar saja, mereka sudah dapat menikmati aroma dan rasa spesial dari kopi yang sekarang sedang digilai penikmat kopi di dunia.

 

Justru karena pernah mencoba nikmatnya kopi gayo, mereka rela membuang ratusan ribu dolar hanya untuk mengetahui semua seluk beluk kopi gayo.  Dalam kunjungan tersebut, bule-bule itu mendapat kesempatan memetik kopi langsung dari pohonnya.

 

Proses Pasca Panen

 

Puas mengelilingi dan memetik buah kopi, bule itu digiring ke tempat pemrosesan biji kopi. Dari gelondong merah hingga menjadi green bean, mereka antusias saat petani menggiling biji-biji gelondong merah menjadi gabah atau biji kopi yang masih berada dalam kulit cangkangnya. Biji kopi merah yang sudah terpisah dari kulit luarnya itu kemudian dicuci bersih. Sebagian langsung dijemur sebagian lagi difermentasi untuk menghasilkan kopi rasa wine.

 

Petani kopi di daerah ini memang biasa menggiling sendiri hasil panen, mencuci dan menjemur. Kemudian menjualnya kepada pedagang pengumpul dalam bentuk labu atau gabah kopi. Namun ada kalanya melanjutkan proses selanjutnya sendiri yaitu mengolah gabah kopi menjadi green bean baru menjualnya kepada pedagang atau eksportir.

 

Tidak heran jika di daerah tersebut, hampir setiap petani memiliki mesin penggiling atau pemecah kulit merah sendiri. Mereka biasa meletakkan mesin penggiling kopi itu di gubuk kebun atau di belakang rumah mereka. Dengan demikian petani mendapatkan keuntungan ganda. Selain mendapat penambahan harga dibanding menjual dalam bentuk gelondong, limbah kulit merah kopi yang dihasilkan dari proses pengolahan itu, juga bisa kembali ke kebun sebagai pupuk organik.

 

Melihat langsung kebun-kebun kopi milik petani Gayo, para bule itu semakin yakin kopi gayo yang sering mereka nikmati, memang benar-benar kopi organik yang dalam semua prosesnya, mulai dari penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pasca panen, semua serba alami tanpa pengaruh bahan kimia. Usai melihat kebun dan proses pengolahan awal, para bule itupun kemudian berkunjung ke tempat pembibitan kopi.

 

Beberapa guide yang mendampingi para bule itu kemudian menjelaskan, bahwa sebelum batang kopi bisa ditanam di kebun, biji-biji kopi pilihan itu harus terlebih dulu disemaikan selama kurang lebih sebulan. Kemudian dipindahkan dari persemaian ke dalam polybag sampai berumur kurang lebih enam bulan, baru setelah itu bisa ditanam di lahan atau kebun.

 

Perlu waktu sekitar delapan belas bulan sampai dua tahun setelah tanam, untuk bisa menghasilkan buah kopi pertama. Produktivitas kopi terus meningkat seiring bertambahnya umur tanaman. Selain dipengaruhi cara pemeliharaan tanaman itu.

 

Popularitas kopi Gayo di manca negara telah mengundang rasa penasaran pecinta kopi dunia. Bukan sekedar ingin tahu tentang kopi, mereka ingin memastikan kopi gayo itu benar-benar kopi organik yang aman untuk dikonsumsi. Fathan/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162