Loading...

Kunci Kedaulatan Pangan, Sinergi dan Perubahan Pola Pikir

10:59 WIB | Wednesday, 23-November-2016 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Clara Agustin

Untuk mencapai kedaulatan pangan, perlu adanya kerjasama yang solid di seluruh lapisan masyarakat. Dari tingkat pemerintah hingga petani harus menjalin kerjasama yang baik. Sinergi dan perubahan pola pikir dalam pembangunan pertanian menjadi kata kuncinya.

 

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Soemardjo Gatot Irianto mengatakan, untuk menuju pertanian yang sejahtera dan berkelanjutan antara petani (kelompok tani), pegawai pertanian, penyuluh pertanian, sumberdaya alam, organisasi kementan, dan BUMN/swasta harus dirancang sebuah sistem yang sesuai.

 

Kemudian membentuk suatu regulasi, dilanjutkan bekerja secara optimal sehingga menghasilkan kedaulatan pangan yang berkelanjutan. “Jangan semuanya dititik beratkan pada satu pihak, tapi semuanya harus bersinergi mencapai apa yang kita cita-citakan bersama,” katanya saat Pembinaan Anti Korupsi dan Deklarasi PROTANI di gedung Kementerian Pertanian, beberapa waktu lalu.

 

Gatot mengakui, hambatan dan permasalahan yang dihadapi untuk mencapai cita-cita bangsa, yakni etos kerja belum maksimal, hubungan pusat-daerah rendah, dan budaya gotong-royong menurun. Etos kerja belum optimal karena beberapa hal. Misalnya, kurang peduli, apatis terhadap lingkungan sekitar dan bisnisnya tidak berkembang (itu-itu saja).

 

Bentuk tidak adanya hubungan yang kooperatif antara pusat-daerah adalah respon lambat, kurang antisipatif, dan tidak berani mengambil resiko. Memang budaya gotong-royong identik dengan bangsa Indonesia, tapi sayangnya sekarang sudah mulai menurun. Masyarakat cenderung individual dan budaya kerjasama rendah.

 

“Dengan permasalahan ini semangat dan kedekatan emosional tidak terbangun, sehingga kinerja rendah (pas-pasan) yang ujung-ujungnya kesejahteraan rendah. Makanya paradigma (pola pikir) harus mulai diubah,” ucap Gatot.

 

Ubah Paradigma

 

Gatot menilai, selama ini produk pertanian yang beredar di masyarakat merupakan produksi massal yang kualitas rendah, sehingga harganya murah. Akibatnya, pendapatan petani juga menjadi rendah. Karena itu konsep produk pertanian yang dihasilkan petani harus bervariasi dan kualitasnya lebih baik, sehingga harganya pun tinggi. “Dengan mengubah paradigma ini petani menjadi lebih sejahtera dan berkelanjutan,” katanya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162