Loading...

Lada Masih Jadi Sandaran Hidup Petani

09:41 WIB | Wednesday, 27-June-2018 | Kebun | Penulis : Indarto

The7th Meeting of The National Focal Point Working Group on Papper, di Pangkal Pinang

Lada sampai saat ini masih menjadi salah satu komoditas tanaman perkebunan yang memiliki nilai tambah dan menjadi andalan petani di tanah air.  Tak heran, kurang lebih sebanyak 273.421 petani kecil  menggantungkan hidupnya dari komoditas perkebunan yang satu ini.

 

Direktur Pengolahan Hasil Perkebunan ,Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Junaedi mengatakan, selain menjadi sumber penghidupan petani,  komoditas tanaman perkebunan ini banyak menyerap tenaga kerja di pedesaan. "Untuk itu pemerintah saat ini tetap komitmen mengembangkan salah satu komoditas  perkebunan rakyat ini," kata Dedi Junaedi,saat membuka diskusi The7th Meeting of The National Focal Point Working Group on Papper, di Pangkal Pinang, (26/6).

 

Dedi juga mengatakan, produksi komoditas lada di Indonesia menempati urutan kedua terbesar  dunia, setelah Vietnam. Total perkebunan lada pada tahun 2017 tercatat seluas 181.968 ha, dengan total produksi sebanyak 87.029 ton/tahun. "Sayangnya, produktivitas komoditas lada di tanah air sampai saat ini masih rendah, tak lebih dari 1 ton/ha/tahun," ujarnya.

 

Daerah sentra lada, lanjut Dedi,  terdapat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dan Lampung. Luas area lada di kedua provinsi itu sebanyak 47% dari total area kebun lada di tanah air.

 

Dalam hal  ekspor, komoditas lada pada tahun 2017 memberi kontribusi  cukup signifikan.  Tercatat, Indonesia ekspor lada pada tahun 2017 sebanyak 42.600 ton dengan nilai sebesar 236 juta dolar AS.

 

Dedi juga mengungkapkan, lantaran komoditas lada mampu memberi nilai tambah petani, pemerintah saat memprioritaskan mendorong komoditas perkebunan ini agar  berkembang dengan baik. Salah satunya dengan meningkatkan prosesing industri hilir komoditas tersebut. "Kami juga fokus meningkatkan produksi, khususnya  untuk perkebunan lada di kawasan Sumatera dan Sulawesi," ujarnya.

 

Menurut dia, pemerintah responsif terhadap tantangan dari luar dalam pengembangan perkebunan lada di tanah air. Seperti perubahan iklim, hama dan penyakit, dan terjadinya penurunan harga yang terjadi seperti saat ini. Khususnya terjadinya penurunan harga pada lada putih muntok dari Rp 90 ribu/kg pada Januari 2018 menjadi Rp  65 ribu/kg  per Mei 2018.

 

Terjadinya penurunan harga lada saat ini memang menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam seminar antar negara produsen lada di Asean.  "Agar produk lada yang dihasilkan berkualitas, petani kami harapkan bisa memelihara lada sesuai dengan prinsip Good Agriculture Practices (GAP). Atau sesuai dengan kaidah budidaya yang baik," jelas Dedi.

 

Agar budidaya lada bisa berkelanjutan, pemerintah  juga mendorong petani untuk menebang pohon lada yang sudah tak produktif. Selanjutnya  menggantinya dengan benih lada yang hasil panenya lebih menguntungkan. (Idt)

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162