Loading...

M. Amin, Manfaatkan Kotoran Ternak, Ajak Petani Membuat Biogas

12:45 WIB | Friday, 09-June-2017 | Kabar Penas KTNA XV 2017, Kontak Tani Sukses | Penulis : Indarto

 

Memperkenalkan teknologi baru, meski sangat sederhana tidaklah semudah “membalikkan telapak tangan”.  Apalagi, kalau teknologi tersebut masih sangat awam di mata petani/peternak.

 

Perlu waktu dan kesabaran. Begitulah, yang dialami dan dilakukan Koordinator Balai Pengkajian Pertanian (BPP) Kecamatan Kota Jantho, Aceh Besar, M. Amin. Meski petani tak mudah menerima, M. Amin tak “patah arang” menularkan aplikasi teknologi biogas dari kotoran sapi kepada petani di Kecamatan (Kota Jantho), Aceh Besar.

 

Sejak setahun lalu, dia membuat unit percontohan pengelolaan biogas dari tiga ekor sapi di dekat kantornya. Harapannya, masyarakat atau petani bisa mencotoh apa yang dilakukan. “Sudah setahun yang lalu unit percontohan pengelolaan biogas kotoran sapi ini saya kembangkan. Skalanya memang masih kecil. Hanya tiga ekor sapi. Dari tiga ekor sapi ini, kotorannya bisa kita jadikan biogas,” kata Amin.

 

Menurut Amin,  kotoran dari tiga ekor sapi tersebut kalau sudah diolah menjadi biogas  bisa dimanfaatkan untuk tiga kepala keluarga (KKP). Tiap hari, satu ekor sapi bisa menghasilkan  1,2 liter biogas. Dengan demikian, tiga ekor sapi akan menghasilkan 3,6 liter biogas.

 

Kotoran sapi yang sudah disulap menjadi biogas tersebut dikemas dengan kantong plastik. Satu kantong plastik yang ukurannya agak besar bisa dijual dengan harga Rp 3.200/kantong.

 

Selanjutnya, dari biogas kotoran sapi yang sudah dimasukkan dalam kantong plastik itu tinggal diberi selang yang dihubungkan ke kompor gas. Biogas dari kotoran sapi ini juga bisa menjadi bahan bakar alternatif untuk keperluan rumah tangga yang ramah lingkungan. “Jadi, inilah yang ingin kami perkenalkan kepada masyarakat atau petani di Kota Jantho,”  ujarnya.

 

Hanya saja, Amin mengakui, mengajak peternak membangun unit pengelolaan biogas dari kotoran sapi tak mudah, harus mengubah pemikiran mereka. Apalagi di Jantho peternak masih mempunyai budaya (kearifan lokal,red)  meliarkan sapinya di sawah, ladang hingga ke jalan-jalan. 

 

“Jadi pemikiran peternak harus diubah supaya mereka mau mengandangkan sapinya dan memberi pakan dengan jerami dan pakan hijauan lainnya. Kalau sapi dikandangkan, kotorannya akan mudah dikumpulkan, kemudian baru diolah menjadi biogas,” papar Amin.

 

Sapi yang sudah dikandangkan menurut Amin, juga memudahkan peternak mengawasi ternaknya.  Data menyebutkan, di Kota Jantho, Aceh Besar paling tidak ada sebanyak 8.000 ekor sapi yang sampai kini dilepasliarkan.

 

“Padahal, kalau sapi-sapi milik warga tersebut diternakkan dengan dikandangkan dan diberi pakan yang bagus, sapi tersebut akan memberi banyak manfaat bagi pemiliknya. Selain bisa dijual untuk keperluan Idul Adha,  kotoran sapi yang diternak bisa dimanfaatkan untuk pupuk dan biogas,” papar Amin. Idt/Yul

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162