Loading...

Manajemen Agribisnis Sapi Potong

10:48 WIB | Tuesday, 16-June-2015 | Mimbar Penyuluhan | Penulis : Kontributor

Budidaya sapi potong sudah cukup lama secara turun temurun dilakukan petani ternak sapi potong di perdesaan. Umumnya pemahaman petani ternak dalam membudidayakan sapi potong masih sekedar tabungan dengan cara pemeliharaan tradisional, cukup memberikan pakan seadanya dengan kandang sapi yang tidak sesuai teknologi yang dianjurkan ternak sapi akan dijual sesuai kebutuhan keluarga.

 

Guna meningkatkan nilai tambah keuntungan usaha budidaya sapi potong diperlukan adanya sentuhan teknologi budidaya sapi potong. Perlu dilakukan perubahan pola budidaya sapi potong dengan menerapkan pola usaha berorientasi bisnis. Artinya dalam mengelola usaha budidaya sapi potong petani ternak sapi potong harus mau dan mampu melakukan perubahan pola budidaya sapi potong berorientasi sesuai dengan permintaan kebutuhan pasar. Artinya petani ternak sapi potong harus mau dan mampu memenuhi permintaan kualitas daging yang dikehendaki konsumen. Rekomendasi teknologi yang dianjurkan dalam berbudidaya sapi potong  adalah teknologi penggemukan sapi potong.

 

Teknologi penggemukan sapi potong bukan hanya sekedar mendapatkan kualitas daging yang sesuai permintaan konsumen saja, tetapi mempunyai tujuan meningkatkan produksi daging per satuan ekor, mengurangi jumlah populasi ternak sapi potong yang menurun akibat pemotongan. Dan juga dapat mencegah terjadinya pemotongan ternak betina produktif. Dengan budidaya sapi potong sistem penggemukan selain akan menghasilkan kualitas daging juga akan meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan dari kotoran sapi. Artinya kotoran sapi dapat diolah menjadi pupuk kandang dan juga tidak menutup kemungkinan digunakan sebagai bahan baku pembuatan biogas.

 

Untuk bisa menghasilkan produksi sapi potong sistem penggemukan yang optimal dilakukan penerapan teknologi dengan mengacu pada rekomendasi teknologi manajemen budidaya sapi potong yang terdiri dari 1) Pemilihan bibit/bakalan sapi potong, 2) Sistem penggemukan, 3) Pemberian pakan, 4) Penyediaan kandang dan 5) Pengendalian dan Pencegahan penyakit.

 

1. Manajemen Pemilihan Bibit Sapi Potong

 

Bibit sapi potong yang akan digunakan sebagai ternak bakalan sangat menentukan keberhasilan pengelolaan usaha penggemukan sapi potong. Petani ternak sapi potong idealnya juga harus tahu betul dengan pengetahuan pembibitan sapi potong dengan model penggemukan. Informasi yang disampaikan BPTP Jambi dalam menentukan pemilihan bibit sapi potong yang akan digemukkan dianjurkan memilih bibit sapi potong yang tercatat sebagai jenis ternak unggul lokal maupun sapi impor atau hasil persilangan.

 

Hal ini juga dianjurkan Drh. Harjuli Hatmono Msi dalam buku Model Agribisnis Sapi Pedaging yaitu jenis sapi unggul lokal yaitu sapi PO (Peranakan Ongole), sapi Bali dan sapi Madura. Sapi unggul impor atau hasil persilangannya yaitu sapi Brahman, sapi Angus, sapi Ongole dan sapi Siemental yang merupakan hasil dari Inseminasi Buatan  ( IB ).

 

Pemilihan sapi potong bakalan harus mengacu pada  pedoman berikut :

 

Memilih sapi bakalan yang berasal dari keturunan yang memiliki bobot badan dewasa tinggi. Hal ini akan terkait dengan perkembangan pertumbuhan sapi.

 

1. Memilih sapi jantan yang tidak gemuk atau kurus tetapi sehat. Ternak sehat terindikasi dari sorot mata yang tajam, tidak sayu, kulit dan bulunya bersih.

 

2. Sebaiknya sapi bakalan dipilih dari lokasi tempat sapi digemukkan agar memudahkan perawatan karena sapi tidak perlu lagi beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

 

3. Memilih sapi jantan berumur 2 – 2, 5 tahun yang dapat dilihat dari kondisi gigi seri di rahang bawah yaitu sapi umur 1,5 –  2  tahun memiliki gigi tetap 1 pasang dan pada sapi umur 2 – 3 tahun gigi tetapnya 2 pasang.

 

4. Dianjurkan memilih sapi dengan bentuk tubuh proporsional, panjang badan dan tinggi pundak yang optimal.

 

 

 

2. Sistem Penggemukan

 

Keuntungan usaha sapi potong didapatkan dari selisih bobot badan awal dibudidayakan dengan bobot badan akhir saat sapi potong siap dipasarkan. Artinya ada pertambahan berat badan sapi yang sangat ditentukan dari jenis sapi, umur, jenis kelamin sapi, ransum pakan yang diberikan dan pengelolaan sapi potong. Sistem penggemukan sapi potong ada 3 model yaitu a) Model dry lot fattening, b). Model pasture fattening, c). Model kombinasi dry lot fattening dan pasture fattening.

 

  1. Model  Dry Lot Fattening

 

Penggemukan sapi potong model dry lot fattening, sapi hidup sepanjang waktudi dalam kandang. Konsekwensi pemilihan penggemukan sapi model dry lot fattening petani ternak bertanggungjawab menyediakan hijauan pakan ternak dan pakan konsentrat yang dibutuhkan sapi di dalam kandang. Budidaya sapi potong sapi kereman merupakan contoh penggemukan model dry lot fattening. Sapi kereman dibudidayakan selama 4-6 bulan ada juga yang 12 bulan dengan pakan utamanya konsentrat berupa ampas tahu, onggok dan bekatul. Meskipun sudah diberikan  konsentrat  juga dianjurkan diberikan hijauan pakan ternak yang berguna untuk menjaga apabila sapi dalam keadaan lapar masih dapat menikmati hijauan pakan ternak. Hijauan pakan ternak yang diberikan berupa rumput lapangan, limbah pertanian dan rumput unggul. Dengan sapi mau makan hijauan pakan ternak akan berpengaruh pada pertambahan berat badan yang pada akhirnya akan memberikan keuntungan bagi petani ternak sapi potong juga. Perbandingan pemberian konsentrat dan hijauan pakan ternak yang dianjurkan Edy Rianto dan Endang Purbowati dalam Panduan Lengkap Sapi Potong, jumlah konsentrat yang diberikan pada sapi 7 kg/ekor dan hijauan pakan ternak 1,5 kg/ekor.  Selain mendapatkan keuntungan dari pertambahan berat badan pada budidaya sapi model dry lot fattening akan ada nilai tambah yang didapatkan petani ternak sapi yaitu berupa pupuk kandang yang dihasilkan sapi.

 

  1. Model Pasture Fattening

 

Penggemukan sapi potong model pasture fattening berlaku pada sapi potong yang dibudidayakan sepanjang hari di padang penggembalaan. Sapi akan kembali ke kandang  pada malam hari atau saat matahari bersinar sangat terik. Penggemukan sapi model pasture fattening tidak menggunakan konsentrat, artinya sapi potong hanya mendapatkan pakan dari hijauan pakan ternak yang ada di padang penggembalaan. Untuk bisa menghasilkan hijauan pakan ternak berkualitas dianjurkan penanaman hijauan pakan ternak berupa rumput unggul seperti rumput gajah, rumput setaria, rumput raja dan tanaman leguminosa pohon seperti lamtoro dan gamal. Pada musim kemarau umumnya ketersediaan hijauan pakan ternak di padang penggembalaan akan berkurang, sapi potong dapat diberikan hijauan pakan ternak berupa hay. Pembuatan hay dapat disiapkan pada saat ketersediaan hijauan pakan ternak berlimpah yaitu pada saat musim hujan.

 

  1. Model kombinasi Dry Lot Fattening dan Pasture Fattening

 

Budidaya sapi potong model kombinasi dry lot fattening dan pasture fattening dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama dilakukan pada saat musim hujan yaitu sapi digembalakan di padang penggembalaan dan pada musim kemarau sapi potong berada di dalam kandang dengan model pemeliharaan dry lot fattening. Cara kedua model pemeliharaan kombinasi dapat dilakukan pada pemeliharaan sapi potong yang dilepas di padang penggembalaan di siang hari dan pada malam hari sapi potong berada di dalam kandang dan diberikan pakan konsentrat.

 

  1. Pemberian Pakan

 

Pakan utama yang diberikan pada sapi potong berupa hijauan pakan ternak yang berkualitas dan mampu memberikan nilai tambah pada pertambahan berat badan sapi potong. Rekomendasi yang dianjurkan BPTP Jambi dalam brosur Manajemen Pengelolaan Penggemukan Sapi Potong (2007) pemberian hijauan pakan ternak pada sapi potong 10–12% dan pakan konsentrat diberikan 1-2% dari bobot badan sapi potong. Pemberian ransum pakan sapi potong tidak diberikan sekaligus  dalam jumlah yang banyak. Dianjurkan BPTP Jambi yang juga didukung Edi Rianto dan Endang Purbowati dalam Panduan Lengkap Sapi Potong (2009) pemberian pakan sapi potong dilakukan tiga kali sehari yaitu pada pagi hari jam 7–8 sapi potong diberikan sedikit hijauan dan setengah jatah konsentrat. Jam 12 siang diberikan kembali setengah bagian dari sisa hijauan pakan ternak dan jam 3 sore jatah sisa konsentrat diberikan kembali pada sapi potong dan pada jam 5 sore kembali sisa jatah hijauan pakan ternak diberikan kembali pada sapi potong. Dianjurkan hijauan pakan ternak yang akan diberikan pada sapi potong dicincang terlebih dahulu yang akan memudahkan sapi potong mengkonsumsi hijauan pakan ternak. Selain pemberian pakan yang juga harus diperhatikan oleh petani sapi potong adalah memberikan air minum pada sapi potong yang harus disediakan sepanjang waktu dengan kebutuhan air minum 20-40 liter/ekor/hari.

 

  1. Penyediaan Kandang

 

Kandang bagi sapi potong merupakan tempat kehidupan sapi dan sekaligus sebagai tempat berlindung dari cuaca panas maupun musim hujan. Kandang yang digunakan untuk sapi potong harus memenuhi persyaratan 1) Tata letak lokasi kandang minimal berjarak 10 meter dari rumah petani, 2) Lokasi kandang sapi harus dekat sumber air dengan topografi kandang berada di lahan yang tinggi, 3) Lingkungan kandang harus sehat terbebas dari penyakit, 4) Kandang harus memenuhi persyaratan ventilasi yang baik.

 

Kandang sapi potong ada 2 macam yaitu kandang koloni dan kandang tunggal. Kandang koloni merupakan bangunan kandang yang digunakan untuk penampungan sementara beberapa ekor sapi bakalan. Ukuran kandang koloni 7 x 9 meter dapat menampung sapi bakalan 20-24 sapi bakalan. Lamanya waktu sapi bakalan hidup di kandang koloni biasanya satu minggu sambil menunggu kesiapan kandang tunggal. Kandang tunggal merupakan bangunan kandang sapi potong untuk satu ekor yang dikelola dengan model kereman yaitu sapi berada di dalam kandang selama dibudidayakan. Ukuran kandang tunggal 3,75 meter persegi dengan tinggi kandang 2-2,5 meter.

 

  1. Pengendalian dan Pencegahan Penyakit

 

Sapi potong sehat merupakan faktor penting dalam meraih keberhasilan usaha sapi potong. Karena itu perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian penyakit yang terdiri dari 1) Vaksinasi pada sapi secara teratur sesuai jenis penyakit yang sering terjadi di wilayah, 2) Melakukan pemeriksaan sapi potong secara teratur, 3) Melakukan sanitasi lingkungan kandang, 4) Melakukan desinfektan pada kandang dan peralatan kandang 5) Menjauhkan sapi potong dari sapi potong lain yang terjangkiti penyakit, 6) Mengusahakan lantai kandang sapi dalam keadaan kering, 7) Melakukan pengawasan dan pengawalan kesehatan reproduksi sapi potong.

 

Selain melakukan pencegahan juga perlu waspada pada beberapa penyakit menular dan mematikan seperti anthraks, penyakit mulut dan kuku, penyakit surra. Penyakit anthraks disebabkan oleh bakteriBacillus anthracsis yang hidup dalam tanah dalam bentuk spora. Gejala sapi potong yang terserang anthraks mengalami sesak nafas, gemetar dan kejang-kejang. Penularan penyakit anthraks melalui pakan, air minum, serangga, udara dan kontak langsung. Penyakit anthraks merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit ternak  dapat menular pada manusia. Pencegahan dan pengendalian panyakit anthraks dilakukan melalui vaksinasi serum anthraks pada sapi yang sehat. Penyakit mulut dan kuku merupakan penyakit yang mematikan dan cepat menular pada sapi yang lain. Penyakit mulut dan kuku disebabkan Rhinovirus yang hidup di jaringan otot dan sumsum tulang belakang sapi. Gejala sapi potong yang terinfeksi penyakit mulut dan kuku pincang atau roboh karena di sekitar kuku kaki sapi bengkak, suhu badan sapi meninggi. Penularan penyakit mulut dan kuku melalui pakan, air minum, peralatan dan kandang yang tercemari penyakit mulut dan kuku. Pencegahan dan pengendalian penyakit mulut dan kuku dilakukan melalui vaksinasi pada sapi potong yang sehat secara rutin. Penyakit surra disebabkan parasit Trypanosoma certain yang hidup di sel darah merah sapi potong. Gejala sapi potong terserang penyakit surra terindikasi dari adanya bulu yang rontok dengan kulit kering kotor dan bersisik serta nafsu makan menurun. Penularan penyakit surra disebabkan oleh gigitan lalat ternak Tabanus, caplak, kutu dan nyamuk Anopheles. Pengendalian penyakit dilakukan dengan membasmi serangga penyebar penyakit melalui penyemprotan pestisida. Nani Priwanti Soeharto  - PP PPMKP Ciawi/dari berbagai sumber

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162