Loading...

Membangun Jejaring Kelembagaan Peternak Sapi Potong

18:45 WIB | Thursday, 06-November-2014 | Komoditi, Ternak | Penulis : Ika Rahayu

Keinginan besar peternak untuk lebih “guyub” dalam melaksanakan kegiatan agribisnis sapi potong diupayakan Pusat Penyuluhan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian  melalui  kegiatan Apresiasi Pengembangan Jejaring dan Kemitraan Usaha Kelembagaan Petani  Komoditas Sapi Potong di Kawasan Lembang, Jawa Barat.

 

Berlangsung selama empat hari di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP)  Jl. Kayuambon Lembang, event tersebut menjadi sarana berkumpul dan belajar bagi peternak sapi  potong di Indonesia, pertengahan September lalu. Tak kurang hadir di kesempatan itu 66 peternak sapi potong dari 26 provinsi di Indonesia.

 

Di samping mendengarkan presentasi dari banyak nara sumber yang berkompeten, peternak  peserta kegiatan juga diberi kesempatan untuk praktek lapang dengan mengunjungi lokasi kelompok peternak sapi potong “Saung Balong” di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

 

“Kami berharap acara ini bisa dimanfaatkan oleh peternak sapi potong  untuk saling sharing dan berbagi pengetahuan juga menjalin kemitraan di antara mereka,” kata Ketua Panitia kegiatan Ranny Mutiara Chaidirsyah, ketika mendampingi Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Fathan Rasyid, di acara pembukaan kegiatan.

 

Dalam pengarahannya, Fathan Rasyid mengemukakan tekadnya untuk memperkuat performa Balai-balai Penyuluhan Pertanian (BPP) sehingga mampu menjadi pos simpul koordinasi kegiatan pengembangan agribisnis sapi potong berbasis kawasan. Di tengah tantangan yang ada, BPP ke depan diharapkan bisa melakukan pengaturan sehingga di suatu kawasan terjalin keterpaduan antara semua pelaku yang ada dari hulu hingga hilir.

 

Persaingan Ketat

 

Agus Suharto, peternak asal Kabupaten Kuningan, Jawa Barat menekankan bahwa saat ini persaingan di antara pelaku usaha sapi potong sangat ketat. Karenanya dirasakan penting untuk meningkatkan rasa kepedulian dan penyatuan persepsi di antara peternak lokal. “Sekarang ini kita bersaing dengan kekuatan besar dari luar, karenanya solidaritas di antara kita harus ditingkatkan,” ujarnya.  

 

Senada  dengan Agus, peternak asal Bali, I Wayan Rohmi juga menyoroti pentingnya memperkuat kelembagaan peternak serta kemitraan di antara kelembagaan yang telah ada. Seperti diketahui, sentra-sentra usaha budidaya sapi potong tersebar di banyak tempat sementara pusat konsumen daging sapinya hanya tersebar di tempat-tempat tertentu. “Kalau di antara produsen daging sapi ini terjalin kemitraan yang kuat maka kita bisa mengatasi bersama kekurangan pasokan daging di pusat konsumen  tertentu,” katanya.

 

Dengan bergabung dan mengembangkan usaha secara bersama ia merasakan posisi tawar peternak menjadi lebih tinggi. Dengan membina 40 kelompok peternak, saat ini populasi sapi potong anggota kelompoknya total mencapai sekitar 1.600 ekor. Dari kotoran yang dihasilkan sapi-sapi milik anggota kini telah dihasilkan bio gas yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar oleh masyarakat di sekitar peternakan.

 

Peneliti Utama Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Bambang Setiadi dalam paparannya mengemukakan, suatu usaha peternakan sapi potong di masa depan harus mempunyai daya saing. Karenanya peternak perlu melakukan upaya-upaya untuk bisa memiliki keunggulan kompetitif baik dalam kegiatan utamanya maupun di kegiatan pendukung termasuk SDM pelaku dari usaha peternakan bersangkutan.

 

“Sekarang ini 98 persen populasi sapi dipelihara oleh peternak tradisional dengan kepemilikan sapi  berkisar 1-3 ekor.  Mereka perlu pembinaan termasuk dalam hal teknologi budidaya sehingga bisa meningkat produksi dan produktivitasnya,” kata Bambang. Ira

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162