Loading...

Mengapa dan Bagaimana Museum Pertanian Indonesia?

10:24 WIB | Friday, 25-May-2018 | Agri Wacana | Penulis : Kontributor

Dr. Memed Gunawan (Kiri) dan Istri (Kanan), Gayatri K Rana (Tengah) Kepala Perpustakaan dan Penyebaran Informasi Teknologi Pertanian Kementan di Museum Tanah Bogor. Direncanakan Museum Pertanian Indonesia akan didirikan di Museum Tanah ini.

Oleh Memed Gunawan

 

 

 

Peradaban suatu bangsa bukan dicirikan oleh hebatnya kekuatan senjata bahkan ekonomi, tetapi oleh tingginya penghargaan bangsa tersebut terhadap budaya dan seni.  Keberadaan museum adalah salah satu pengejawantahan penghargaan bangsa pada budaya dan seni, termasuk di dalamnya peradaban dan teknologi.

 

 

 

Museum tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, memberi kepuasan batiniah bagi masyarakat yang haus akan pengetahuan, tetapi di banyak negara maju museum juga menjadi tempat wisata yang sangat menarik bagi lintas generasi, termasuk kaum muda.

 

 

 

Di sepanjang Independence Avenue, di Washington DC, berjejer museum besar di kiri-kanan jalan. Museum yang besar dengan koleksi lengkap yang memerlukan biaya besar, tetapi bisa hidup dan berkembang karena apresiasi dari pengunjung, donor dan tentu dukungan pemerintah.Total museum yang ada di Washington DC saja tidak kurang dari 80 museum. Siapa yang tidak kenal dengan Smitsonian American Art Museum, National Museum of American History, National Geographic Museum dan sederet museum terkenal lainnya?

 

 

 

Di beberapa negara Eropa seperti Inggris, Perancis, Jerman, Itali dan negara lainnya pun museumnya selalu penuh dengan pengunjung. Di India, Jepang dan Cina juga contoh negara yang menganggap museum adalah penting dan patut dikembangkan.

 

 

 

Bagaimana di Indonesia? Kenyataan akan kekayaan budaya dan alam Indonesia sangat dikenal di seluruh pelosok dunia. Tak bisa dipungkiri, budaya dan seni Indonesia adalah salah satu yang terbaik dan terkaya di kawasan Asia. Peninggalan sejarah, walaupun tidak tercatat selengkap seperti di Cina, sangat memukau dan menjadi pusat perhatian dunia.

 

 

 

Tidak terkecuali dengan dunia pertanian.Sampai dengan akhir abad 20 pertanian Indonesia adalah yang paling maju di kawasan Asia. Pertanian adalah spesial. Di sana ada budaya yang sangat berperan. Bukankah Culture (budaya) dalam Agriculture menunjukkan bahwa dunia pertanian tidak terlepas dari budaya. Perkembangan pertanian melekat dengan budaya masyarakat petani, budaya lokal, budaya pedesaan yang Locally Specific, yang unik, yang meyatu dan menyesuaikan pada kondisi alam dan agroklimat setempat. Oleh karena itu sistem bertani di Indonesia begitu beragam.

 

 

 

Kondisi alam Indonesia yang mencakup hampir semua kondisi sumberdaya lahan dan agroklimat pertanian telah membuat pola usaha pertanian di Indonesia begitu beragam. Indonesia mempunyai 10 jenis tanah dari 12 jenis tanah yang ada di dunia. Agroklimat Indonesia terbentang dari dataran rendah sampai dengan pegunungan yang bersalju abadi, dari hutan belantara sampai savana, dan dari tanah vulkanik sampai dengan tanah gambut.

 

 

 

Petani Indonesia, budaya dan kearifal lokalnya menemukan pola terbaik untuk memanfaatkan alam sehingga alam terpelihara secara lestari dan memberikan manfaat terbaik kepada masyarakat. Maka dikenal usahatani sawah, lahan kering, gogoranca, sistem surjan, mina padi, pertanian lahan gambut dan lahan rawa.

 

 

 

Kelembagaan dan teknik pengairan juga sangat beragam, sehingga dikenal apa yang dinamakan mitra cai, irigasi pasang surut, Subak dan sejumlah besar istilah lain. Tidak kurang pula teknologi yang ditemukan masyarakat yang terus digunakan sampai sekarang.

 

 

 

Teknologi masyarakat pertanian sangat melekat pada upaya memelihara alam agar lestari. Kerusakan yang terjadi pada berbagai sumberdaya alam juga terjadi akibat pemanfaatan alam yang sama sekali tidak berpegang pada kearifan petani dan budaya lokal. Semua itu merupakan pengalaman di bidang pertanian yang sangat berharga.

 

 

 

Sejarah pertanian di Indonesia mengalami berbagai kejadian bersejarah. Kebijakan mengenai pertanian diduga sudah ada sejak jaman Kerajaan Hindu/Budha sampai Kerajaan Islam, dan pada masa Kolonial Belanda sejarah mencatat pertanian menjadi sumber pendanaan penguasa saat itu. Cultuurstelsel yang merupakan pengalaman buruk bangsa Indonesia  adalah bukti nyata bahwa pertanian dijadikan alat menghimpun dana oleh Pemerintah Kolonial yang semena-mena sehingga rakyat Indonesia menderita.

 

 

 

Sejak kemerdekaan, Kementerian Pertanian telah meletakkan sasaran pembangunan pertanian untuk menyejahterakan masyarakat petani dan sekaligus menyediakan kebutuhan pangan dan bahan baku untuk kebutuhan industri dan perdagangan. Perjalanannya mengalami banyak  batu sandungan tetapi secara konsisten terjadi perubahan yang positip.

 

 

 

Keberhasilan swa sembada beras dan upaya peningkatan produksi komoditas pangan, perkebunan dan peternakan merupakan pengalaman berharga untuk dikaji dan bahan pembelajaran bagi pembangunan pertanian ke depan.

 

 

 

Peran petani dan pertanian yang begitu besar selayaknya menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda untuk membangun pertanian Indonesia masa depan. Misalnya bagaimana wujud pertanian yang akan dibangun dan kebijakan apa yang harus mengawalnya menghadapi perubahan iklim gobal atau Global Warming dan Cilmate Change? Bagaimana mengantisipasi terjadinya masalah ketersediaan air tanah yang secara terus menerus berkurang? Atau bagaimana mengahadapi sikap masyarakat konsumen yang semakin menginginkan produk yang aman dan berkualitas tinggi?

 

 

 

 

 

Connecting the Past to the Future

 

Sesuai dengan visi dan misinya serta sasaran pengunjungnya, Museum Pertanian tidak cukup hanya untuk memenuhi kepuasan pengunjung lewat sentimen emosional dan masa lalu saja. Itu tidak cukup. Museum Pertanian harus memberikan informasi tentang pertanian masa lalu, apa yang terjadi saat ini dan sumber pembelajaran untuk dijadikan bekal bagi pembangunan masa depan. Connecting the Past to the Future adalah motto yang tepat bagi Museum Pertanian.

 

 

 

Untuk itu sasaran pengunjung Museum Pertanian haruslah difokuskan ke generasi muda. Bersamaan dengan itu museum harus menjadi tempat atraktip dan bagian dari tempat belajar yang menarik, serta menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat.

 

 

 

Museum yang menarik sangat diperlukan karena sampai saat ini museum belum menjadi arena pembelajaran yang menarik untuk memenuhi keinginan masyarakat akan pengetahuan.

 

 

 

Indonesia sudah mempunyai sejarah kehebatan pertanian masa lalu dan jangan sampai kehilangan kesempatan untuk membangun keberhasilan pertanian pada masa depan. Dr. Memed Gunawan – Tim Kecil Pendirian Museum Pertanian Indonesia

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162