Loading...

Mengatasi Penyakit Antraknosa Buah Pepaya

18:13 WIB | Wednesday, 10-February-2016 | Teknologi, Iptek | Penulis : Kontributor

Cara baru mengatasi penyakit antraknosa (busuk buah antraknosa/patek) pada buah pepaya telah ditemukan oleh dua orang ilmuwan Malaysia. Bahan yang dipergunakan diformulasi dari ekstrak daun tanaman Allamanda (bunga lonceng/bunga corong).

 

Penyakit busuk antraknosa (anthracnose, ringspot) menyerang berbagai jenis buah seperti pepaya, mangga, pisang dan lainnya. Penyakit muncul menjelang buah matang, bisa pada masa penyimpanan. Penyebabnya adalah cendawan Colletotrichum gloeosporioides, kerusakan yang ditimbulkan bisa mencapai 80% buah matang.

 

Penyakit antraknosa pada buah ditandai dengan mulai munculnya bercak-bercak kecil warna gelap pada kulit buah menjelang matang, lalu bertambah besar dan semakin gelap atau hitam kotor hingga merusak buah.

 

Prof. Dr. Kamaruzaman Sijam dan Dr. Farah Farhanah Haron dari Fakultas Pertanian Universitas Putra Malaysia mengeringkan daun Allamanda lalu dijadikan bubuk yang kemudian diekstraksi dan diformulasi. Selanjutnya dijadikan formula cair lewat proses emulsi nano yang kemudian dilarutkan dalam air. Aplikasi pada buah untuk pencegahan atau pengobatan dilakukan dengan pembasahan kulit buah oleh larutan formulasi melalui perendaman atau penyemprotan.

 

Hasil cara pengobatan baru itu cukup positif mengendalikan penyakit antraknosa, bahkan masa simpan buah pepaya juga bisa bertambah menjadi 10 hari pada suhu ruangan dan 30 hari pada ruang pendingin. Peneliti mengatakan cara baru tersebut bisa pula digunakan pada buah lain seperti mangga dan pisang. UPM/Ols

 

Ujicoba Vaksin Penyakit MERS Berhasil

 

Optimisme akan mampu mengendalikan penyakit MERS (Middel East Respiratory Syndrome) kini terbayang jelas dengan keberhasilan ujicoba pertama calon vaksin yang dibuat di Ludwig Maxmilians University, Munich, Jerman.

 

Calon vaksin tersebut, hasil karya riset selama dua tahun, terdiri dari turunan virus MERS yang dilemahkan. Laporan ujicoba yang disiarkan oleh majalah Science itu mengungkap keberhasilan signifikan calon vaksin itu menurunkan keberadaan virus dalam ingus dan air liur onta yang menderita MERS.

 

Bari Haagmans yang memimpin riset tersebut mengatakan bahwa mengurangi virus dalam ekskresi hewan tertular dengan aplikasi vaksin secara potensial akan mengurangi pula transmisi virus dari hewan pada manusia. Virus MERS diyakini menular pada manusia melalui cairan tubuh onta, utamanya dari hidung dan mulut. Virus kemudian dapat pindah dari manusia ke manusia.

 

Dalam ujicoba yang menggunakan 8 ekor onta tertular virus MERS itu, onta yang divaksinasi mengembangkan antibodi pelindung dalam tubuhnya sehingga gejala infeksi tidak lagi terdeteksi. Tim peneliti juga sedang menyiapkan vaksin versi pelindung manusia yang segera memasuki fase pertama ujicoba klinis pada manusia.

 

Penyakit MERS teridentifikasi mula-mula di Arab Saudi tahun 2012. Perjangkitan besar pertama pada manusia terjadi bulan Mei 2014. Scidev.net/Ols

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162