Loading...

Mengatasi Tanah Masam

13:25 WIB | Friday, 20-June-2014 | Sarana & Prasarana, Non Komoditi | Penulis : Kontributor

Kemasaman tanah merupakan hal yang biasa terjadi. Di Indonesia lebih dari 50% luasan tanah masuk kategori tanah masam. Ini menjadi problem tersendiri. Bagaimana mengatasinya?

 

Indonesia termasuk wilayah bercurah hujan tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan tercucinya basa dari kompleks serapan dan hilang melalui air drainase. Akibatnya, tinggal kation Al dan H sebagai kation dominan yang menyebabkan tanah bereaksi masam.

 

Di samping Al dan H hasil dekomposisi senyawa bahan organik dan oksidasi senyawa pirit juga menimbulkan reaksi tanah masam. Salah satu produk dekomposisi bahan organik adalah H2CO3, senyawa ini berperan melarutkan basa-basa dari batuan. Dengan demikian cepat hilang tercuci dan terserap tanaman. Hilangnya basa merupakan salah satu sebab tumbuhnya reaksi masam.

 

Terbentuknya asam-asam organik seperti H2SO4 dan HNO3, baik dari mineralisasi bahan organik maupun akibat kegiatan mikroorganisme terhadap pupuk anorganik juga merupakan penyumbang reaksi masam. Dalam hal ini pemberian pupuk yang mengandung belerang seperti amonium sulfat perlu sekali mendapat perhatian, jika akan diberikan pada tanah masam.

 

Kemasaman tanah bukanlah reaksi yang absolute, tapi dapat berubah sesuai waktu atau pengaruh perlakuan manusia seperti halnya pemupukan dan pengapuran. Tingkat kemasaman tanah terbagi  dua. Pertama, kemasaman aktif yakni jumlah ion H berada dalam larutan tanah. Kedua, kemasaman cadangan yakni jumlah ion H yang terserap.

 

Berdasarkan pengalaman kemasaman cadangan lebih berbahaya daripada kemasaman aktif. Sebab, kemasaman aktif memerlukan 2 kg kapur CACO3/ha untuk menetralkan pH bila pH tanah 4, sedang untuk tanah dengan kemasaman cadangan memerlukan 2 ton kapur CACO3/ha.

 

Pengaruh Tanah Masam

 

Derajat kemasaman yang dikehendaki tanaman padi sawah pada umumnya 5-8. Namun setiap varietas mempunyai respon yang berbeda-beda terhadap pH tanah. Dalam suasana masam atau sangat masam pertumbuhan tanaman padi akan tertekan.

 

Hal ini disebabkan pengaruh langsung ion H+. Akibat terganggunya absorpsi Ca dan Na, meningkatnya kelarutan dan daya racun Al, Fe dan Mn. Selain itu, berkurangnya ketersediaan P dan Mo, berkurangnya kadar basa-basa akibat defisiensinya Ca, Mg dan K, serta tidak normalnya faktor-faktor biotik seperti terganggunya siklus N dan aktifitas mychoriza.

 

Setiap jenis tanaman mempunyai toleransi yang berbeda terhadap aluminium. Analisa pH rendah kelarutan aluminium akan semakin meningkat, pada konsentrasi 1-2 ppm Al dapat membahayakan dan bersifat racun bagi tanaman padi. Gejala keracunan Al dapat ditunjukkan dengan garis-garis kuning di antara pembuluh daun.

 

Akibat keracunan Al akan menghambat perpanjangan dan pertumbuhan akar primer, menghalangi pembentukan akar lateral dan bulu akar, mengurangi pembentukan DNA, RNA dan ADP. Selain itu dapat menghambat pembelahan sel, dan mengurangi serapan hara P, Ca, Mg, K, Fe, Mn, Cu dan Zn.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162