Loading...

Mengembalikan Pasar Daging Beku ke Khitah

19:30 WIB | Friday, 03-November-2017 | Ternak, Komoditi | Penulis : Kontributor

Pasar daging sapi di dalam negeri kerap bergejolak, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan. Untuk meredam fluktuasi harga, pemerintah pun menerbitkan kebijakan membuka keran impor daging sapi beku dan kerbau. Bahkan memberikan lampu hijau beredar di pasar becek.

 

Namun masuknya daging beku (sapi dan kerbau) ke pasar tradisional justru mendistorsi pasar daging segar. Bahkan menjadi kesempatan pedagang untuk berbuat curang dengan mengoplos daging. Karena itu berbagai kalangan meminta pemerintah mengembalikan segmen pasar daging beku hanya untuk industri,hotel dan restauran (ke khitah).

 

Guru Besar Peternakan IPB, Muladno menilai, kebijakan importasi daging beku untuk menutupi kebutuhan permintaan daging segar di dalam negeri kurang tepat. Dari hasil kajian, ternyata permintaan masyarakat lebih pada daging segar, bukan daging beku. “Saya melihat kebijakan impor daging beku untuk mengisi pasar daging segar, apalagi kemudian menjual daging beku ke pasar adalah salah,” katanya saat Diskusi Menata Pasar Daging yang Tersegmentasi di Jakarta, Kamis (2/11).

 

Muladno menegaskan, untuk memenuhi permintaan daging segar, pemerintah seharusnya memperbanyak impor sapi bakalan, bukan daging beku. Sedangkan impor daging sapi beku hanya untuk industri pengolahan pangan. “Saya sedih, sekarang ini daging beku dilepas ke pasar. Padahal sebelumnya sudah betul, daging beku hanya untuk industri. Jadi kalau produksi kurang yang diimpor sapi bakalan saja,” ujar mantan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan ini.

 

Dengan segmentasi tersebut menurut Muladno, pemerintah akan lebih mudah mengawasi peredaran daging, terutama daging sapi beku. Sebab, pemerintah hanya mengeluarkan ijin impor sesuai kebutuhan industri pengguna daging olahan tersebut. “Berapa kebutuhan industry? Itu yang diimpor. Jangan berlebihan,” tegasnya.

 

Sementara itu Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Asnawi juga menganggap, pemasaran daging beku di pasar tradisional kurang tepat. Sebab, permintaan daging di pasar tradisional lebih banyak pada daging segar. Hasil kajian IPB, kondisi faktual konsumsi daging masyarakat Indonesia, ternyata permintaan daging sapi segar mencapai 85%. “Di pasar tradisional mindset masyarakat adalah pasar daging segar. Permintaan daging beku di pasar tradisional juga sangat rendah,” katanya.

 

Menurutnya, kebijakan pemerintah untuk menjual daging kerbau beku ke pasar tradisional juga menimbulkan persoalan. Sebab, ada beberapa kasus pedagang mengoplos daging sapi dengan kerbau, lalu menjual dengan harga daging sapi. “Jika dilihat, memang daging kerbau sulit dibedakan dengan daging sapi,” ujar Asnawi.

 

Dengan lebih banyaknya permintaan daging segar, Asnawi meminta, pemerintah untuk memperkuat sektor hulu dengan meningkatkan populasi sapi potong di dalam negeri. Namun Asnawi mengakui, saat ini ketersediaan sapi potong di dalam negeri belum siap. “Kalau pemerintah menggelontorkan daging sapi beku ke pasar tradisional kurang tepat. Ibarat orang sakit kepala, malah dikasih obat sakit perut,” ujarnya. Yolanda/Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162