Loading...

Mengkombinasikan Jajar Legowo dan SRI

19:01 WIB | Wednesday, 11-February-2015 | Komoditi, Pangan | Penulis : Kontributor

Ketua Kelompok Tani Barokah, Mispan

 

Mispan. Sosok sederhana ini ternyata mempunyai visi besar dalam pembangunan pertanian. Sebagai Ketua Kelompok Tani Barokah di Desa Rowotengah, Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dia kini menjadi panutan petani lainnya.

 

Setelah berkali-kali melakukan ujicoba sendiri, kini dia berhasil mengkombinasikan sistem pertanian SRI (System of Rice Intensification) dengan jajar legowo. Sebelum terjun ke dunia pertanian, sebenarnya Mispan sempat menjadi TKI di Saudi Arabia.

 

Sepulang dari negeri Timur Tengah tersebut, dia mulai tertarik menggarap sawah miliknya yang tidak begitu luas dengan budidaya padi secara konvensional. Karena tidak puas dengan hasil yang dicapai, Mispan mencari informasi teknologi dan melakukan inovasi usaha tani sendiri.

 

Dia aktif berkomunikasi dengan petugas pertanian dan mengenal sistem tanam SRI. Namun sebelum mengajak petani lain cara tanam tersebut, dia mulai uji coba di sawahnya sendiri, tanpa khawatir gagal. Dengan pendampingan petugas dari awal tanam sampai panen, Mispan mengaku ada perubahan yang signifikan.

 

Mispan menjelaskan, awalnya dirinya mulai mengurangi penggunaan benih. Jika semula 50 kg/ha, dikurangi 25 kg/ha hingga sampai hanya 5 kg/ha. Selain benih dia juga mencoba cara tanam jajar legowo, dari jarak tanam 20x20 cm, lalu mencoba 30 x 30 cm, dan jajar legowo (40 x 25 x 15 cm) sampai jajar legowo (40 x 25 x 30) cm.

 

Dalam penggunaan pupuk, Mispan tak lagi tergantung pada urea. Dia kini lebih banyak menggunakan NPK dan pupuk organik, ketimbang urea. “Saya juga semula masih sangat tergantung pestisida kimia, sekarang saya mulai beralih menggunakan agensi hayati, serta pestisida nabati,” katanya.

 

Mispan mengakui, sistem tanam SRI tidak mudah diterapkan petani. Sebab, fokusnya penggunaaan pupuk organik, pupuk berimbang dan sedikit urea, tanam satu-satu, pengaturan jarak tanam, serta mengurangi ketergantungan penggunaan pestisida kimia. “Semua itu bertentangan dengan budaya/kebiasaan petani yang sudah turun temurun,” ujarnya.

 

Dia menjelaskan, kendala yang dihadapi dalam mensosialisasikan SRI antara lain, petani belum terbiasa menggunakan pupuk organik, belum terbentuknnya regu tanam yang mampu tanam satu-satu dan kebiasaan menggunakan benih yang cukup banyak 50 kg/ha. Kendala lainnya adalah jarak tanam yang terlalu sempit (20 x 20/15 x 15) dan ketergantungan pestisida kimia yang terlalu tinggi.

 

“Bersama-sama petugas penyuluh pertanian dan penyuluh swadaya, saya berupaya mengatasi kendala-kendala tersebut,” katanya. Kegiatan yang dilakukan antara lain, melatih regu tanam SRI bertahap, memberikan contoh dan motivasi menggunakan pupuk organik dengan mengaplikasikan pupuk organik 2 ton/ha.

 

Kegiatan lainnya adalah memberikan contoh tanam satu-satu dengan sistem tanam jajar legowo (40 x 25 x 30), sehingga benih yang dibutuhkan cukup 5 kg/ha. Mispan juga menggunakan varietas unggul baru (varietas hibrida; DG1, Mapan 05), menerapkan pengendalian hama secara terpadu (PHT) dengan penggunakan agensi hayati serta pestisida nabati.

 

“Kami juga aktif mengadakan pertemuan rutin, serta ubinan setiap panen untuk meyakinkan petani terjadi kenaikan produksi dengan sistem SRI,” kata Mispan.

 

Alhasil, produktifitas padi yang dibudidayakan secara konvensional hanya 5 ton/ha, kini dengan metode SRI dan jajar legowo meningkat mencapai 9 ton/ha. Kerja keras Mispan akhirnya membuahkan hasil. Bahkan Dinas Pertanian Kabupaten Jember tahun 2014 lalu memberikan bantuan dan handtractor kepada Kelompok Tani Barokah. Tri R. R (THL-TBPP Jember)/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162