Loading...

Meningkatkan Keberhasilan Perkawinan Sapi Potong dengan Mengoptimalkan Perkawinan Alam dan IB

10:09 WIB | Monday, 09-May-2016 | Mimbar Penyuluhan | Penulis : Kontributor

Keberhasilan usaha pembibitan sapi potong salah satunya diukur dari produksi jumlah kelahiran anak-anak sapi. Keberhasilan pengelolaan perkawinan sapi potong sangat ditentukan oleh pembibitan sapi potong, masa birahi induk sapi dan perkawinan sapi potong. Perkawinan sapi potong dapat dilakukan dengan cara perkawinan alami dan kawin suntik atau inseminasi buatan yang biasa dikenal dengan nama IB sapi potong.

 

Pembibitan Sapi Potong

 

Bibit sapi potong yang akan digunakan sebagai indukan atau pejantan harus memenuhi persyaratan bibit sapi potong unggul. Kriteria sapi potong betina yang akan digunakan sebagai indukan harus memenuhi persyaratan sehat yang terindikasi dari mata sapi bersinar, gerakan sapi lincah tetapi tidak liar. Tidak ada kelainan pada organ reproduksi luar dan bebas dari penyakit menular.

 

Sapi potong betina tersebut harus berkualitas gizi pakannya dan jumlah pemberian pakan harus diperhitungkan sesuai kebutuhan agar sapi potong betina tidak terlalu gemuk atau kurus. Sebaiknya sapi betina indukan dibudidayakan dengan cara digembalakan yang akan menekan biaya pakan.

 

Pemilihan indukan sapi potong dapat dilakukan pada sapi dara umur 12–15 bulan, sapi dara sudah mulai menunjukkan tanda-tanda gejala birahi. Namun belum siap untuk dikawinkan. Perkawinan sapi dara yang akan digunakan untuk indukan sapi bibit harus diperhatikan betul yaitu perkawinan sapi dara pertama kali dianjurkan umur 18–24 bulan. Dengan alasan pertumbuhan tubuh sapi betina sudah mencapai optimum untuk mendukung perkembangan janin sapi.

 

Sapi potong jantan sebagai pejantan harus memenuhi persyaratan- persyaratan perkawinan pertama sapi potong jantan yang digunakan sebagai pejantan dianjurkan umur sapi 18 bulan. Tubuh sapi potong jantan sudah dewasa, mampu mengawini sapi betina dan kualitas produksi semen cukup baik. Untuk bisa menghasilkan perkawinan yang maksimal dianjurkan perkawinan sapi potong jantan dilakukan 2-3 kali seminggu. Setelah dikawinkan dianjurkan sapi potong jantan diistirahatkan supaya kualitas produksi semen berkualitas dan jumlahnya banyak. Seekor pejantan prima mampu mengawini sapi betina 30 ekor. Untuk bisa menghasilkan pejantan prima pemberian pakannya harus berkualitas gizi pakannya.

 

Masa Birahi Sapi Indukan

 

Perkawinan sapi betina tidak bisa dilakukan setiap waktu, sangat tergantung dari masa birahi yang dialami sapi betina. Masa birahi sapi potong betina akan terulang kembali setiap 21 hari sekali. Perkawinan sapi betina yang dilakukan pada masa birahi tingkat keberhasilan pembuahan sangat tinggi. Artinya peluang keberhasilan sapi bunting sangat tinggi.

 

Waktu yang paling tepat untuk mengawinkan sapi potong betina pada jam ke 9-18 setelah gejala masa birahi pertama kali terlihat. Sebagai contoh bila pertama kali masa birahi sapi potong muncul sore hari dianjurkan perkawinan sapi betina dilakukan pada pagi hari dan jika masa birahi sapi betina muncul di pagi hari perkawinan sapi betina baru dapat dilakukan pada sore harinya. Perkawinan yang terlalu cepat atau lambat tidak akan menghasilkan sapi bunting.

 

Tanda-tanda sapi betina sedang masa birahi terlihat tanda-tanda berikut : Sapi akan gelisah dan selalu melenguh; Sapi menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding atau tempat pakan; Nafsu makan menurun; Frekuensi kencing mengalami peningkatan; Dari alat kelamin mengeluarkan lendir berwarna bening; Bibir kelamin agak bengkak dan berwarna kemerah-merahan dan bila diraba terasa hangat; Selalu menaiki sapi lainnya dan jika dinaiki sapi yang lain akan diam.

 

Manajemen Perkawinan Sapi Potong

 

Keberhasilan budidaya pembibitan sapi potong salah satunya diukur dari jumlah kelahiran anak sapi (pedet). Diperlukan pengetahuan manajemen perkawinan sapi potong terdiri dari perkawinan alam (Inka) dan kawin suntik biasa dikenal dengan nama inseminasi buatan (IB).

 

Perkawinan alam pada sapi potong merupakan upaya untuk meningkatkan populasi ternak sapi melalui program Intensifikasi Kawin Alam (Inka) yang menerapkan 4 model perkawinan alam yaitu: 1) perkawinan kandang individu, 2) perkawinan kandang kelompok/umbaran, 3) perkawinan rench dan 4) perkawinan padang penggembalaan. Perkawinan alam pada usaha budidaya sapi potong yang biasa dilakukan oleh petani baik secara perorangan maupun berkelompok umumnya memilih salah satu dari 3 model berikut: a) perkawinan kandang individu, b) perkawinan kandang kelompok/umbaran, c) perkawinan padang penggembalaan.

 

Kandang untuk perkawinan sapi secara individu, sapi biasanya dalam keadaan terikat. Kandang individu memiliki sekat sebagai pembatas kandang sehingga sapi-sapi yang lainnya tidak akan mengganggu.

 

Perkawinan sapi dengan menggunakan kandang individu perlu diperhatikan betul pengamatan masa birahi pada sapi induk. Pengamatan masa birahi sapi induk dapat dilakukan setiap hari pada waktu pagi atau sore hari. Pada sapi induk yang mengalami masa birahi akan memberikan isyarat tanda-tanda birahi. Setelah 6-12 jam sapi induk mengalami tanda-tanda masa birahi baru dapat dikawinkan. Sapi induk yang memberikan tanda-tanda birahi dibawa ke kandang kawin individu dan diikat. Setelah sapi betina siap barulah sapi pejantan didatangkan ke kandang perkawinan individu. Untuk bisa mencapai keberhasilan kebuntingan dianjurkan perkawinan dilakukan sampai sapi pejantan mengalami ejakulasi dua kali.

 

Luas area kandang perkawinan kelompok/umbaran perlu diperhitungkan betul agar tidak terjadi saling berhimpitan di antara sapi-sapi induk yang dikandangkan. Acuan pedoman yang dianjurkan untuk kebutuhan luas area kandang perkawinan kelompok/umbaran untuk setiap induk sapi membutuhkan 20-30 meter persegi.

 

Perkawinan menggunakan kandang kelompok/umbaran ada beberapa tahapan proses manajemen yang harus dilakukan petani sapi potong di antaranya :  1) Induk sapi yang akan dikawinkan harus memenuhi persyaratan 40 hari setelah melahirkan; 2) Sapi pejantan dan sapi induk berkumpul dalam satu kandang selama 2 bulan sehingga perkawinan akan terjadi pada semua sapi induk; 3) Sapi pejantan harus mampu mengawini 10 ekor induk sapi; 4) Setelah 2 bulan dalam kandang bersama harus dilakukan pemeriksaan kebuntingan dengan menggunakan metoda palpasi rectal yang dilakukan oleh petugas dinas peternakan; 5) Induk sapi yang positif bunting segera dipisahkan dan ditempatkan di kandang sapi bunting dan menyusui; 6) Sapi-sapi induk yang belum bunting dimasukkan kembali ke dalam kandang perkawinan kelompok/umbaran dengan perbandingan jantan betinanya tetap menganut 1:10 yaitu satu pejantan melayani 10 ekor sapi betina siap kawin.

 

Di Indonesia bagian timur seperti daerah Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat masih banyak ditemukan padang penggembalaan yang cukup luas. Program Intensifikasi Kawin Alam menerapkan teknologi perkawinan padang penggembalaan pada sapi potong masih sangat memungkinkan untuk dikembangkan.

 

Untuk keberhasilan model perkawinan padang penggembalaan dianjurkan untuk menerapkan manajemen perkawinan sebagaimana berikut : Perbandingan jumlah sapi jantan dan sapi betina induk 3:100 artinya 3 ekor sapi pejantan harus mampu mengawini 100 ekor induk sapi. Sapi jantan dan betina induk dibiarkan lepas di padang penggembalaan dengan melakukan pengamatan masa birahi pada induk sapi betina. Jika ditemukan adanya sapi induk yang mengalami masa birahi segera pisahkan. Dan tempatkan sapi induk di kandang terpisah untuk dikawinkan dengan sapi pejantan. Dua hari setelah perkawinan sapi induk dapat dilepaskan kembali ke padang penggembalaan. Induk yang sudah bunting tua dianjurkan untuk dipisahkan dan ditempatkan di kandang di dekat rumah sampai induk sapi melahirkan. Induk sapi yang baru melahirkan dibiarkan tetap hidup bersama anak sapi dalam kandang dekat rumah. Untuk mencegah terjadinya inbreeding (perkawinan yang sedarah) lakukan penggantian pejantan setelah tiga kali perkawinan.

 

Kawin Suntik/Inseminasi Buatan (IB)

 

Inseminasi buatan yang biasa dikenal dengan IB sapi potong merupakan perkawinan sapi potong yang dilakukan oleh petugas IB. Inseminasi buatan (IB) sapi potong dikenalkan pada masyarakat petani ternak sapi potong dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sapi potong dengan menggunakan pejantan unggul, meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur. Keberhasilan IB sapi potong sangat tergantung dari keterampilan petugas (inseminator) IB. Petugas IB akan melakukan inseminasi semen beku pada induk sapi yang sedang birahi. IB sapi potong idealnya dilakukan 10-22 jam setelah sapi potong induk terlihat tanda-tanda birahi.

 

Nani Priwanti S - PP PPMKP Ciawi/dari berbagai sumber.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162