Loading...

Menjelajah Beragam Monolit Tanah Indonesia di Musium Tanah Bogor

14:08 WIB | Thursday, 24-May-2018 | Sarana & Prasarana | Penulis : Ahmad Soim

Gayatri K Rana bersama Sri Suihanti

Tak usah banyak keluar  biaya dan menghabiskan waktu untuk mengetahui beragam jenis tanah di Indonesia, datang saja ke Musium Tanah yang terletak di Kota Bogor bersebelahan dengan Kebun Raya Bogor di Jl Ir. H Juanda Kota Bogor.  

 

 

 

Dari 12 ordo tanah yang ada di dunia, 10 di antaranya ada di Indonesia. Kesepuluh ordo tanah itu bisa ditemukan di Musium Tanah Bogor. “Dua ordo tanah yang tidak ada di Indonesia adalah tanah gurun pasir dan tanah salju/es,” kata  Kepala Perpustakaan dan Penyebaran Informasi Teknologi Pertanian Kementan, Gayatri K. Rana kepada tabloidsinartani.com yang sedang jalan-jalan di musium ini.

 

 

 

 Koleksi Musium Tanah di Bogor ini selain terdapat macam-macam tanah yang disajikan dalam ukuran kecil berupa makromonolit, juga terdapat macam-macam batuan, contoh-contoh pupuk, perangkat uji tanah, peta-peta, maket perubahan tanah dan lingkungan, maket siklus kehidupan biota dalam tanah, alat survei tanah.

 

 

 

Tak kalah menariknya juga ditampilkan koleksi serangga. “Serangga ini adalah bagian dari lingkungan tanah yang perlu juga diketahui masyarakat agar mereka bisa melestarikan ekosistemnya,” tambah Gayatri bersama Sri Sulihanti Kepala Biro Umum dan Pengadaan Kementerian Pertanian.

 

 

 

Sri Sulihanti hadir di Musium Tanah untuk berdiskusi pengembangan musium ini menjadi musium yang lebih lengkap dan lebih enak serta menarik dilihat termasuk bagi generasi muda. “Unsur seni dalam musium ini juga diperlukan,” tambahnya usai berdiskusi dengan Tim Kecil Pendirian Musium Pertanian Indonesia di sini.

 

 

 

Cikal bakal Musium Tanah dimulai diadakannya  Gedung "Laboratorium voor Agrogeologie en Grond Onderzoek" sebagai bagian dari Lands Plantentuin (Kebun Raya Bogor) oleh pemerintah Belanda pada tahun 1905. Institusi ini  kemudian menjadi menjadi Bodemkundig Instituut Tahun 1942. Pada masa penjajahan Jepang, berubah nama menjadi Dozyoobu.Saat  Negara Republik Indonesia baru saja diproklamirkan, nama Bodemkundig Instituut kembali digunakan.

 

 

 

Di sinilah Balai Penelitian Tanah (Balittanah) berkantor. Institusi ini bertugas melakukan penelitian untuk menghasilkan teknologi dan informasi sumberdaya dan pengelolaan tanah serta memberikan pelayanan dalam bidang analisis tanah, air, tanaman, dan pupuk, pemetaan, analisis data penginderaan jauh (inderaja), pelayanan basis data tabular dan spasial (menggunakan GIS), serta berbagai pelayanan lain yang berhubungan dengan informasi dan teknologi pengelolaan tanah.

 

 

 

Sejak tanggal 29 September 1988, Balai Penelitian Tanah meresmikan kantornya sekaligus sebagai Musium Tanah yang bekerjasama dengan International Soil Reference and Information Centre (ISRIC) Wageningen Belanda. Museum Tanah merupakan tempat menyimpan model/contoh tanah sebagai koleksi berbagai macam tanah di Indonesia dengan maksud sebagai sumber informasi dalam hal sumberdaya tanah bagi mendukung pembangunan pertanian.

 

 

 

Balai Penelitian Tanah saat ini sudah tidak lagi berkantor di Musium ini, melainkan sudah pindah ke Jl Tentara Pelajar Bogor, menyatu dalam komplek Kantor Badan Litbang Pertanian milik Kementan. Som

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162