Loading...

MENSINERGISKAN HUBUNGAN PENYULUH DAN PETANI UNTUK TRANFORMASI IPTEK

04:06 WIB | Wednesday, 04-September-2013 | Opini, Agri Wacana | Penulis : Ahmad Soim

Oleh : Kasirun, STP. *

 

Tugas seorang penyuluh tidaklah ringan karena berhubungan dengan manusia-manusia dewasa yang memiliki sikap, perilaku, keterampilan serta tabiat yang berbeda antara satu dengan yang lain, sementara proses penyuluhan dituntut tidak hanya sekedar menyampaikan informasi teknologi tetapi lebih dari itu bagaimana proses penyuluhan yang dilakukan mampu merubah sikap, perilaku dan keterampilan sasaran penyuluhan jauh lebih baik dalam berusaha tani.

 

Untuk itu bagi seorang penyuluh dituntut tidak hanya sekedar mampu menyampaikan materi dalam forum pertemuan tetapi harus juga mampu berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik dengan petani dan keluarganya dalam kehidupan kesehariannya. Komunikasi dan sosialisasi yang baik jauh lebih efektif dalam transformasi teknologi daripada hanya sekedar penyampaian materi sebagaimana guru menyampaikan materi kepada siswanya, seorang penyuluh janganlah memposisikan dirinya sebagai seorang guru tetapi hendaknya memposisikan dirinya sebagai partner (rekan) dalam menyelesaikan berbagai persoalan petani. Dengan komunikasi dan sosialisasi yang baik diharapkan hubungan antara penyuluh, petani dan keluarganya dapat terjalin sebagaimana hubungan kekeluargaan sehingga diharapkan transformasi teknologi dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

 

Dalam menjaga hubungan yang harmonis antara penyuluh dan petani, seorang penyuluh bisa memperhatikan hal-hal penting berikut ini:

 

Pertama, jika Anda ingin mengumpulkan madu jangan tendang sarang lebahnya. Artinya seorang penyuluh dalam menyampaikan materi atau memberikan informasi janganlah sekali-kali mengkritik, mencerca atau mengeluh terhadap apa yang telah dilakukan oleh petani, kalau ingin materi atau informasi  yang ingin kita transformasikan dapat diterima oleh mereka. Berbicaralah hal-hal yang baik tentang mereka dan jangan bicarakan hal yang buruk tentang mereka. Sebab dengan mengkritik mereka, mereka akan bertindak dengan cara yang sama seperti yang akan kita lakukan kalau kita berada dalam situasi yang sama.

 

Kita harus ingat, takala kita berurusan dengan manusia kita bukan berurusan dengan makhluk logika tetapi berurusan dengan makhluk penuh emosi, makhluk yang penuh dengan prasangka dan makhluk yang dimotivasi dengan rasa bangga dan sombong. Umumnya manusia akan mendahulukan emosinya, prasangkanya, kebanggaan dan kesombongannya daripada kerasionalannya atau logikanya ketika dia dihadapkan pada sebuah kritikan atau kesalahan.

 

Kritikan adalah hal yang sia-sia karena menempatkan seseorang pada posisi defensif dan biasanya akan membuat orang itu berusaha mempertahankan dirinya. Kritik itu berbahaya karena melukai rasa kebanggaan, melukai rasa pentingnya dan membangkitkan rasa bencinya. Mari kita sadari bahwa kritik itu seperti merpati pos, mereka selalu kembali pulang. Orang yang akan kita koreksi dan kita salahkan mungkin akan mempertahankan dirinya dan membalas mencaci kita, sehingga hubungan yang diharapkan lebih harmonis akan semakin retak dan jauh.

 

Sebagai ganti kita mengkritik petani, mencerca petani atau menyalahkan petani, mari kita mencoba untuk mengerti mereka. Mari kita mencoba mengerti mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Hal itu jauh-jauh lebih bermanfaat, lebih melahirkan simpati, toleransi dan kebaikan hati dan jauh lebih menarik minat mereka terhadap apa yang kita sampaikan.

 

Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 081317575066).

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162