Loading...

Menyentuh Dunia Konstruksi Lebarkan Sayap Penelitian Tanah Indonesia

13:14 WIB | Tuesday, 31-December-2013 | Nasional | Penulis : Kontributor

Penurunan kandungan air tanah dan kerusakan sumberdaya lahan di perkotaan telah mendera sebagian kota-kota besar di Indonesia. Gencarnya pembangunan property dan gedung-gedung bertingkat berandil besar dalam degradasi lahan. Untuk mengatasi hal ini, penelitian tanah sudah semestinya melebarkan cakupan penelitian dan duduk bersama dengan kalangan dunia usaha yang bergerak di bidang ini.

 

Tanggal 5 Desember 2013 lalu,  Badan Pangan Dunia (FAO) menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Tanah Sedunia. Pada tahun 2013 ini merupakan peringatan yang pertama kali dan dilaksanakan di seluruh dunia. Kegiatan serupa ini akan berlangsung terus di tahun-tahun ke depan.

 

Dalam rangkaian peringatan tersebut, ’Sinta’ berkesempatan berdiskusi dengan Kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Dr. Muchlizar Syarwani di ruang kerjanya. Hasil diskusi singkat yang hanya berdurasi sekitar 15 menit ini menghasilkan sebuah wacana yang bisa digunakan untuk mengatasi penurunan daya dukung lahan di kota besar seperti Jakarta.

 

“Coba bayangkan betapa luas permukaan tanah yang terlapisi beton bangunan dan aspal jalan. Kondisi ini membuat serapan air ke dalam tanah semakin kecil, sehingga kandungan air tanah berkurang,” kata Muchlizar.

 

Soal penurunan kandungan air tanah ini, Pemerintah DKI Jakarta telah memiliki data tentang penurunan tersebut. Data yang dikeluarkan oleh Kantor Walikota Jakarta Timur menyebutkan bahwa sejak beberapa tahun lalu, telah terjadi penurunan kandungan air tanah hingga 40 persen. Ini artinya, kondisi air tanah sudah pada titik memprihatinkan.

 

Penurun daya serap tanah ini juga menyebabkan penurunan kemampuan serap tanah terhadap aliran air, semakin besar daya serap air semakin kecil terjadinya limpasan. Begitu juga sebaliknya semakin kecil daya serap, semakin besar terjadinya limpasan yang berujung pada terjadinya banjir.

 

Muchlizar menjelaskan bahwa persoalan banjir Jakarta disebabkan oleh multi factor. “Jakarta seperti dikepung benteng, untuk menanggulangi rob (pasang laut) dibuat benteng-benteng penahan. Celakanya, bila terjadi hujan besar yang bersamaan, air hujan yang harusnya mengalir ke laut tertahan dan menggenangi Jakarta”.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Julianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162