Loading...

Menyusun Roadmap Pengendalian Penyakit Sampar Babi

12:00 WIB | Wednesday, 08-November-2017 | Komoditi, Ternak | Penulis : Ika Rahayu

Pemerintah saat ini tengah fokus menyusun roadmap pengendalian Penyakit Hog Cholera untuk dapat mengamankan populasi ternak babi yang selama ini merupakan jenis ternak potensial untuk tujuan ekspor.

 

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita, dalam satu semiloka, di Labuan Bajo NTT, Senin (6/11), mengemukakan, Hog Cholera adalah penyakit yang sangat cepat menyebar dalam populasi babi dan bisa menyerang di semua tingkatan usia ternak.

 

Morbiditas dan mortalitas akibat serangan penyakit ini sangat tinggi, dapat mencapai 95-100%. Penyakit yang kerap disebut Classical Swine Fever (CSF) atau di masyarakat dikenal sebagai “Sampar Babi” merupakan salah satu penyakit virus yang menjadi ancaman di usaha peternakan babi di tanah air.

 

Penyakit Hog Cholera masuk daftar 25 jenis penyakit hewan menular strategis berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 4026/Kptsd/OT.140/4/2013 tentang Penyakit Hewan Menular Strategis.

 

Penyusunan Roadmap Pengendalian dan pemberantasan Hog Cholera, menurut Dirjen PKH, dilakukan Kementerian Pertanian melalui Ditjen PKH bekerja sama dengan dinas peternakan atau yang membidangi fungsi PKH di daerah.

 

Dengan adanya upaya pengendalian secara terprogram diharapkan populasi ternak babi di dalam negeri dapat ditingkatkan. Langkah ini sekaligus bertujuan untuk mengamankan daerah sumber bibit ternak babi dari hog cholera sehingga mengurangi resiko penularan penyakit ke daerah penerima ternak babi bibit juga meningkatkan perdagangan ternak babi baik domestik maupun ekspor.

 

I Ketut Diarmita menjelaskan bahwa babi termasuk komoditas unggulan ekspor dalam Rencana Strategis 2015-2019, selain ayam ras. Populasi babi di Indonesia terdata terus meningkat dari tahun ke tahun, di mana pada 2016 telah mencapai 8,1 juta ekor dengan produksi daging sekitar 342,3 ribu ton

 

“Meningkatnya produksi daging babi serta terbatasnya serapan pasar lokal menjadi peluang peningkatan ekspor daging babi dari Indonesia,” tutur Dirjen PKH. Ira

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162