Loading...

Meski Harga Beras Turun, Petani Tetap Untung

10:09 WIB | Thursday, 12-July-2018 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Julianto

Harga beras turun merugikan petani. Anggapan ini yang biasa dipahami jika terjadi penurunan harga beras di pasar. Logika berpikirnya, jika harga di pasar rendah, maka harga beli dari petani juga rendah, sehingga membuat keuntungan petani semakin kecil mengingat biaya produksi tanam yang semakin tinggi.

 

Tetapi apa yang terjadi saat ini justru sebaliknya. “Menarik mencermati data indikator ekonomi harga gabah dan beras serta Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Juni 2018 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian, Ketut Kariyasa di Jakarta, Rabu (4/7).

 

Ketut menegaskan, rata-rata harga gabah baik dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) dan Gabah Kering Giling (GKG) mengalami peningkatan di tingkat petani dan penggilingan dibanding Mei 2018. Harga GKP di tingkat petani naik 2,10% menjadi Rp 4.650/kg dan untuk GKG naik 1,78% menjadi Rp 5.361/kg. Demikian juga di tingkat penggilingan, GKP naik 2,08% menjadi Rp 4.739/kg dan GKG naik 1,76% menjadi Rp 5.468/kg.

 

“Sementara itu, pada saat yang sama harga beras sebaliknya menurun yaitu 0,48% menjadi Rp 9.478/kg untuk beras premium, menurun 0,60% menjadi Rp 9.135/kg untuk beras medium, dan menurun 0,67% menjadi Rp 8.941/kg untuk beras kualitas rendah,” ungkapnya.

 

Tentang apa yang terjadi dan bagaimana menjelaskan petani tetap untung saat harga beras turun, Ketut mengatakan, pergerakan harga beras dan gabah yang berlawanan ini sebenarnya dapat dikaitkan dengan kinerja pasar beras yang menjadi lebih efisien, sehingga dapat mengurangi margin pemasaran yang harus ditanggung.

 

Kehadiran program-program terobosan yang dilakukan Kementerian Pertanian seperti Toko Tani Indonesia (TTI) yang sudah dikembangkan sejak tahun 2016 di berbagai wilayah, diyakini turut membuat kinerja pasar beras menjadi lebih efisien. “Ini ditandai harga gabah di tingkat produsen menjadi membaik. Sebaliknya, harga beras di tingkat konsumen menjadi lebih murah,” kata Ketut.

 

Menurut Ketut, hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Kepala BPS Suharyanto. Bahwa perbaikan tata niaga pertanian berkontribusi pada perbaikan kesejahteraan di tingkat petani sekaligus perbaikan harga di tingkat konsumen.

 

Membaiknya tata niaga menurut Ketut dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, membaiknya harga gabah turut menyebabkan membaiknya kesejahteraan atau daya beli petani. Terlihat dari naiknya NTP sebesar 0,05% menjadi 102,04 dan NTUP naik 0,12% menjadi 111,51.

 

Kedua, menurunnya harga beras tentu menyebabkan jumlah penduduk miskin, baik di perkotaan dan perdesaan akan menurun, mengingat sampai kini pangan beras masih merupakan penyumbang terbesar pada pembentukan garis kemiskinan. Data BPS September 2017 menyebutkan, kontribusi beras terhadap garis kemiskinan di perkotaan masih sekitar 18,8%, bahkan di perdesaan lebih besar lagi mencapai 24,52%.

 

“Dengan adanya penurunan harga beras tersebut menyebabkan daya beli konsumen terhadap pangan beras meningkat, sehingga tentunya akan memberikan dampak yang besar terhadap penurunan jumlah penduduk miskin,” sambung Ketut.

 

Tahun ini Kementan juga sedang menginisiasi Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera Berbasis Pertanian atau yang dikenal BEKERJA sebagai solusi permanen mengentaskan masyarakat perdesaan dari kemiskinan. Yul/Ditjen PSP

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162