Loading...

Mina Padi, Untung Ganda Buat Petani Yogya

10:47 WIB | Tuesday, 26-May-2015 | Klinik Teknologi, Teknologi | Penulis : Kontributor

Yogyakarta, siapa yang tidak kenal. Daerah yang penuh dengan nilai sejarah dan peninggalan budaya bangsa, juga diperkaya dengan kreativitas penduduknya. Di antara banyak bentuk kreasi dan inovasi yang telah berkembang di sini, bertani dengan model padi dan ikan (Mina Padi) sekarang tengah berkembang pesat dan semakin menggiurkan. Di satu lahan dapat dua keuntungan, begitulah konsepnya!

 

Sederhana tapi pasti! Itulah bentuk keseharian potret Daerah Istimewa Yogyakarta. Begitu sederhananya, sampai-sampai bandar udaranyapun (Adi Sucipto), hingga kita tidak berubah di tengah daerah-daerah lain berlomba mempercantik diri dengan me-modern-kan bandar udaranya.

 

Minggu lalu, potret kesederhanaan itu dibuktikan oleh Tim Jelajah Inovasi Balitbangtan begitu menapakkan kaki di Yogya. Namun di balik kesederhanaan itu, terpancar kehangatan dan persabahatan yang ditunjukkan oleh Sinung Rustyjarno, S.Pi, M.Si Kasie KSPP BPTP DIY dan Ir. Sarjono Staff KSPP ketika menyambut tim jelajah di bandara.

 

Buat rekan-rekan jelajah yang ingin ke BPTP DIY, perjalanan tidak begitu sulit. Beralamat di Jalan Stadion Maguwo 22 Yogyakarta, kantor ini bisa dicapai hanya dalam waktu sekitar 30 menit dengan menggunakan mobil. Kehangatan itu semakin bertambah dengan hadirnya Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP, Peneliti Senior yang telah malang melintang mengembangkan Mina Padi di Yogyakarta.

 

Seperti “Pucuk dicinta Ulampun Tiba”, ketika tim menginginkan informasi mina padi hadirlah sang peneliti. Perasaan ‘plong’ menyelimuti tim jelajah, pasalnya semula tim berpikir apa mungkin akan mendapatkan informasi yang komplit dan Alhamdulillah, penjelajahan ini dimudahkan.

 

Dengan sikap yang ‘enerjik’,  menjelaskan secara detail pengembangan minapadi, mulai dari sejarah pengembangannya, kondisi di lapangan, hingga pada inovasi terkini yang cukup handal mengatasi persoalan petani selama ini.

 

“Kunci sukses budidaya minapadi terletak pada cara budidaya ikan yang benar dan penggunaan varietas padi yang tepat. Selama ini penggunaan varietas ini belum menjadi perhatian petani, tapi sekarang sebagian dari petani sudah menggunakan varietas Balitbangtan yang tahan rendaman, seperti padi Inpari 30,” ujarnya bersemangat.

 

Di ujung pembahasannya yang panjang lebar, dia bercerita bahwa dengan menggunakan padi Inpari 30 ada peningkatan produksi padi bisa mencapai 30 persen dan produksi ikan naik sebesar 20 persen. Coba bayangkan, jika petani ikan selama ini hanya akan mendapat untung dari penjualan ikan saja, maka dengan minapadi petani akan mendapat tambahan untung dari produksi padinya.

 

Wisata Yogya

 

Rekan-rekan jelajah, bagi yang berkesempatan menyambangi DI Yogyakarta, banyak sekali obyek wisata sejarah yang bisa kita temukan. Objek yang paling terkenal adalah Candi Prambanan, namun  kali ini tim jelajah memang sengaja tidak mengunjungi tempat tersebut, karena Candi Prambanan sudah begitu populer, untuk itu ada satu candi yang belum begitu terkenal di masayarakat Indonesia yakni Candi Sambisari.

 

Candi Sambisari merupakan candi Hindu yang berada di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Candi ini berjarak sekitar 12,5 km dari pusat Kota Yogyakarta ke arah timur, tepatnya berada di bilangan jalan Yogya-Solo.

 

Candi ini ditemukan pada tahun 1966. Di lihat dari jenis batu padas yang menyusunnya, diperkirakan candi ini seumur dengan Candi Prambanan, sayangnya sejarah pendiriannya belum diketahui secara pasti karena belum ditemukan bukti-bukti yang konkrit.

 

Setelah kita menengok Candi Sambisari, obyek yang paling berkesan berikutnya adalah Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul. Untuk mencapai lokasi ini,  ada dua jalur jalan. Jika dari arah Wonosari kita melewati Bunderan Sambipitu, ambil arah kanan ke Dusun Bobung kemudian menuju Nglanggeran. Jika dari Yogyakarta menuju Bukit Bintang Patuk, di Jembatan Kali Penthung terdapat papan informasi ke arah Nglanggeran dan jarak tempuh dari Yogyakarta hanya 25 km.

 

Gunung api purba ini pernah aktif 30-60 juta tahun lalu. Sisa aktivitas ini masih bisa kita nikmati sekarang, dengan melihat bongkahan-bongkahan batu berukuran raksasa.

 

Selain tepat untuk berpetualang, yang menarik lainnya adalah, di tempat ini akan berdiri Agro Tekno Park yang tengah dirampungkan oleh BPTP DIY. Di lokasi ini nantinya akan diperoleh berbagai informasi seputar pertanian, dan tentunya dalam suasana wisata. Mukhlis

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162